Halaman utama daerahkita.com
Halaman utama daerahkita.com
youtube

Joko Kendil Cerita Rakyat Jawa Tengah

DaerahKita 23/12/2022

Alkisah pada suatu ketika di Kerajaan Ngambar Arum hiduplah seorang raja bernama Asmawikana. Sang raja memiliki seorang permaisuri bernama Prameswari dan seorang selir bernama Dewi Dursilawati.

Walaupun telah lama bertahta, paduka raja belum mendapatkan seorang putra mahkota untuk meneruskan tahta kerajaan. Hal ini membuat hati sang raja sering merasa sedih. Setiap hari ia selalu duduk termenung di singgasananya.

Walaupun sebenarnya, Prameswari sudah pernah dua kali mengandung, namun setiap kali ia mengalami keguguran. Penyebab Prameswari keguguran karena ulah Dewi Dursilawati yang iri hati kepadanya. Ia mencampuri racun ke dalam makanan dan minuman Prameswari secara diam-diam. Dewi Dursilawati melakukan hal itu karena ia menginginkan putra yang lahir dari rahimnyalah yang akan menggantikan kedudukan Raja Asmawikana kelak.

Sebagai seorang yang cerdik dan bijaksana, Raja Asmawikana bukan tidak paham. Ia memiliki kecurigaan terhadap selirnya, yaitu Dewi Dursilawati.

"Bukan tidak mungkin Dewi Dursilawati telah mencampurkan racun ke dalam makanan Prameswari," pikirnya.

Raja Asmawikana pun lebih serius memperhatikan kesehatan Prameswari, khususnya dalam hal makanan. Ketika Prameswari mengandung putranya yang ketiga, ia pun memerintahkan kepada para dayang-dayang istana agar memeriksa makanan dan minuman yang akan dihidangkan kepada Prameswari dan mengawasi ketat sang permaisuri pada saat makan.

"Wahai, Dayang-dayang! Ingat, jangan biarkan permaisuri Prameswari makan dan minum tanpa sepengetahuan kalian! Kalian harus mengawasi semua hidangan yang akan disantapnya!" titah Raja Asmawikana.

"Baik, Baginda!" jawab dayang-dayang tersebut serentak.

Sejak saat itu, segala kebutuhan makanan dan minuman Prameswari senantiasa dalam pengawasan para dayang-dayang istana. Dengan demikian, Dewi Dursilawati tidak dapat lagi meracuni Prameswari.

Namun, selir raja yang licik itu tidak kehabisan akal. Ia pergi ke seorang nenek dukun untuk meminta bantuan agar menyihir bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari.

"Hai, Nenek Dukun! Aku ingin meminta bantuanmu! Sihirlah bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari supaya menjadi cacat!" pinta Dewi Dursilawati.

Si nenek sihir itu pun bersedia mengabulkan permintaan Dewi Dursilawati. Begitu kandungan Prameswari berusia sembilan bulan, dukun itu menyihir bayi yang tak berdosa itu. Tak berapa lama kemudian, Prameswari pun melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah terkejutnya keluarga istana, terutama Raja Asmawikana, ketika melihat putranya lahir dalam keadaan cacat, yaitu tubuhnyanya bulat bagai kendil. Dalam bahasa Jawa, kendil berarti panci atau periuk. Raja dan permaisurinya sangat sedih melihat keadaan putra mereka.

Sang Permaisuri menangis siang dan malam. Meski demikian, mereka tetap menerima keadaan itu dengan lapang dada. Bayi yang diberi nama Joko Kendil itu mereka rawat dengan penuh kasih sayang. Namun, Raja Amawikana tidak ingin putranya cacat seumur hidup. Untuk itu, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk memanggil seorang pertapa yang terkenal sakti mandraguna untuk melihat keadaan putranya. Pada suatu hari, pertapa itu pun datang ke istana menghadap kepada Raja Asmawikana.

"Ampun, Gusti! Apa yang bisa hamba bantu?" tanya pertapa itu sambil memberi hormat.

Raja Asmawikana pun menceritakan perihal keadaan putranya yang lahir dalam keadaan cacat itu.

"Wahai, Pertapa! Apakah kamu mengetahui penyebab penyakit yang diderita putraku? Apakah penyakitnya masih bisa disembuhkan?" tanya Raja Asmawikana dengan perasaan haru.

"Ampun, Gusti! Menurut pengetahuan hamba, putra paduka terkena sihir. Sebaiknya paduka menitipkan putra paduka kepada seorang nenek yang bernama Mbok Rondho. Ia tinggal di pinggir sungai di wilayah perbatasan kerajaan paduka. Suatu hari kelak, putra paduka akan menjadi kesatria setelah menikah dengan seorang putri raja," ramal pertapa itu.

"Terima kasih atas bantuanmu, Pertapa!" ucap Raja Asmawikana.

Setelah mendapat saran dari sang pertapa, Raja Asmawikana segera mengirim utusan untuk menitipkan putranya kepada Mbok Rondho. Ia juga memerintahkan beberapa pengawalnya yang lain untuk menangkap dukun yang telah menyihir putranya untuk dihukum pancung. Namun sayang, dukun itu telah kabur dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Rupanya, Dewi Dursilawati telah memberitahu perihal penangkapan itu kepada si dukun.

Sementara itu di tempat lain, para utusan raja telah tiba di rumah Mbok Rondho untuk menyerahkan Joko Kendil.

"Mbok Rondho! Kami adalah utusan Raja Asmawikana. Kanjeng Gusti memerintahkan kami untuk menitipkan putranya kepada Mbok. Sebagai ucapan terima kasih, Kanjeng Gusti juga menitipkan emas, intan, dan permata untuk bekal hidup Mbok bersama Joko Kendil," pesan salah seorang utusan.

Mbok Rondho pun menerima Joko Kendil dengan senang hati. Ia berjanji akan merawat dan membesarkan Joko Kendil dengang penuh kasih sayang.

Sejak itu, Joko Kendil berada di bawah asuhan Mbok Rondho. Ketika Joko Kendil berumur belasan tahun, Mbok Rondho sering mengajaknya ke pasar dan ke ladang. Joko Kendil adalah anak yang rajin, baik hati, dan suka membantu orang-orang yang sedang kesusahan. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya.

Waktu berjalan begitu cepat. Joko Kendil pun tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia pun semakin rajin membantu ibu angkatnya bekerja di ladang. Ia juga suka membantu masyarakat di sekitarnya yang membutuhkan tenaganya.

Pada suatu hari, raja dari negeri seberang dengan rombongannya sedang mengadakan rekreasi di sungai di dekat Dusun Kasihan tempat tinggal Mbok Rondho dan Joko Kendil. Dalam rombongan tersebut hadir pula permaisuri dan putrinya yang jelita bernama Putri Ngapunten. Masyarakat Dusun Kasihan pun berbondong-bondong untuk melihat rombongan raja yang sedang berekreasi tersebut. Tak terkecuali Joko Kendil dan Mbok Rondho.

Saat pertama kali melihat Putri Ngapunten, Joko Kendil pun langsung jatuh hati. Ia terus menatap wajah putri raja yang cantik nan rupawan itu hingga rombongan raja tersebut kembali ke negerinya. Bahkan, di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, wajah cantik Putri Ngapunten selalu terbayang-bayang di hadapannya. Joko Kendil benar-benar jatuh hati kepada Putri Ngapunten dan berniat untuk meminangnya. Setibanya di rumah, ia pun menyampaikan niat tersebut kepada ibu angkatnya.

"Wahai ibu! Aku jatuh hati kepada putri raja dari negeri seberang itu. Bersediakah Ibu melamarnya untukku?" pinta Joko Kendil.

Alangkah terkejutnya Mbok Rondho mendengar permintaan putra angkatnya itu.

"Ah, kamu jangan meminta yang aneh-aneh, Putraku! Mana mungkin Raja Negeri Seberang itu akan menerima pinanganmu dengan keadaanmu seperti ini. Apalagi dia itu putri raja satu-satunya. Sebaiknya, kamu urungkan saja niatmu itu, Putraku!" kata Mbok Rondho menasehati Joko Kendil.

"Tidak, Bu! Apa salahnya jika Ibu mencobanya dulu," desak Joko Kendil.

Mulanya, Mbok Rondho menolak untuk memenuhi permintaan Joko Kendil. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun bersedia untuk memenuhi permintaan putra kesayangannya itu. Ia pun segera ke istana untuk menyampaikan niat Joko Kendil kepada Raja Asmawikana. Penguasa Kerajaan Ngambar Arum yang bijak itu pun menyetujuinya.

"Baiklah, Mbok Rondho! Aku merestui putraku menikah dengan Putri Ngapunten. Tapi, aku mohon Mbok Rondho yang datang ke Kerajaan Seberang untuk meminang putri raja itu. Aku akan menyiapkan segala keperluan pinangan ini dan mengutus beberapa pengawalku untuk mendampingimu ke sana," pinta Raja Asmawikana.

Mbok Rondho pun tidak kuasa untuk menolak permintaan Raja Asmawikana. Pada hari yang telah ditentukan, Mbok Rondo bersama utusan raja pun berangkat ke Kerajaan Seberang dengan membawa perhiasan emas dan intan permata untuk dipersembahkan kepada putri raja.

Pada malam sebelum Mbok Rondho berangkat ke Kerajaan Seberang, Joko Kendil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar pinangannya diterima. Berkat doanya tersebut, Tuhan pun membuka hati Raja Negeri Seberang melalui mimpi. Suatu malam, sang Raja bermimpi kejatuhan sebuah kendil. Ajaibnya, ketika kendil itu diberikan kepada putrinya, kendil itu tiba-tiba berubah menjadi seorang kesatria yang gagah dan tampan. Raja Negeri Seberang pun berharap mimpi tersebut menjadi kenyataan. Maka, ketika Mbok Rondho bersama utusan Raja Asmawikana datang meminang putrinya, ia pun langsung menerimanya.

"Pinangan Joko Kendil saya terima. Kembalilah ke negeri kalian untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Raja Asmawikana! Sampaikan kepadanya bahwa pesta pernikahan Joko Kendil dengan putriku akan dilaksanakan pekan depan!" seru Raja Negeri Seberang.

"Baik, Gusti!" ucap Mbok Rondho dengan senang hati. Mbok Rondho bersama utusan raja pun mohon diri kembali ke istana untuk menemui Raja Asmawikana.

Begitu mendengar berita gembira tersebut, Raja Asmawikana segera memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan pesta pernikahan putranya. Pada hari yang telah ditentukan, pesta pernikahan Joko Kendil dengan Putri Ngapunten pun dilangsungkan dengan meriah di istana Negeri Seberang. Pesta tersebut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan tari. Undangan yang hadir pun datang dari berbagai penjuru negeri.

Saat Joko Kendil dan Putri Ngapunten duduk bersanding di atas pelaminan, suasana mulai menjadi gaduh. Banyak di antara para undangan yang hadir tidak merasa puas. Mereka menyesalkan pernikahan tersebut, karena kedua mempelai mereka anggap bukanlah pasangan yang serasi. Putri Ngapunten adalah seorang putri raja yang cantik nan rupawan, sedangkan Joko Kendil merupakan pemuda yang memiliki bentuk tubuh yang sangat buruk, yakni menyerupai kendil.

Di tengah suara-suara ketidakpuasan itu mendadak terjadi sebuah peristiwa ajaib. Joko Kendil tiba-tiba menghilang entah ke mana, sehingga Putri Ngapunten tampak duduk seorang diri di atas pelaminan. Tak lama kemudian, sesosok pemuda tampan dan gagah muncul di antara kerumunan undangan, lalu berjalan menuju ke pelaminan dan duduk di samping Putri ngapunten. Dari penampilannya nampak bahwa ia adalah seorang pangeran. Kepada Putri Ngapunten, sang pangeran tersebut kemudian mengatakan bahwa dia tak lain adalah Joko Kendil, suaminya.

Joko Kendil lalu menceritakan bahwa tubuhnya yang berbentuk kendil itu adalah kehendak Dewata. Tubuhnya akan kembali seperti semula apabila ada seorang puteri raja yang tulus bersedia menikah dengannya. Putri Ngapunten takjub mendengar cerita itu dan langsung memeluk suaminya dengan bahagia.

Para undangan tersentak kaget bercampur rasa senang ketika menyaksikan peristiwa ajaib itu. Mereka baru menyadari bahwa ternyata Joko Kendil adalah seorang pangeran, putra raja yang tampan dan gagah. Akhirnya, pesta pernikahan berlanjut dengan suasana meriah. Para undangan pun merasa senang dan gembira menyaksikan kedua mempelai pengantin yang duduk di pelaminan. Setelah itu, kedua mempelai tersebut menjadi pasangan suami-istri yang sangat serasi. Mereka hidup bahagia dan harmonis dalam menjalani bahtera rumah tangga hingga akhirnya Joko Kendil diangkat sebagai raja menggantikan ayahandanya, Raja Asmawikana yang sudah sepuh dan tiba waktunya untuk turun tahta.

Pesan Moral:

Janganlah kita selalu iri dan dengki hati, sehingga membuat kita melakukan hal yang dilarang seperti menyakiti atau membuat susah orang lain yang tidak bersalah. Selain itu jangan menilai seseorang dari penampilannya fisiknya saja. Mungkin saja orang yang kita anggap buruk karena penampilannya ternyata lebih baik daripada yang kita sangka.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. ceritarakyatnusantara.com
  2. validnews.id

Artikel Terkait:

  • Daftar Nama Fauna Identitas Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah
  • Kisah Aji Saka dan Asal Usul Aksara Jawa Hanacaraka, Cerita Rakyat Jawa Tengah
  • Urip Sumoharjo Sang Sesepuh Tentara Indonesia di Masa Perang Kemerdekaan
  • Asal Mula Batu Raden - Cerita Rakyat Jawa Tengah
  • K.H. Samanhudi, Pengusaha yang Gigih Berjuang untuk Kemerdekaan
  • Daftar 15 Gunung Tertinggi di Jawa Tengah
  • Wage Rudolph Soepratman, Pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
  • Asal Usul Rawa Pening, Cerita Rakyat Jawa Tengah
  • Timun Emas, Cerita Rakyat Jawa Tengah
  • Cindelaras, Cerita Rakyat Jawa Tengah
  • Daftar Nama 35 Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah
  • Menteri Pemuda dan Pembangunan Soepeno, Pejuang Yang Gugur Di Tangan Penjajah Belanda
  • Terowongan Notog, Terowongan Kereta Api Jalur Ganda Pertama dan Terpanjang di Indonesia
  • Kolang kaling, Buah Kenyal Yang Laris di Bulan Puasa
  • Burung Gelatik Madu Satwa Mungil Fauna Identitas Kota Magelang
  • Sistem Persinyalan Elektronik Kereta Api Berbasis PLC Buatan PT LEN, Pertama Kali Diterapkan Di Stasiun Slawi
  • Burung Kepodang, Maskot Satwa Provinsi Jawa Tengah
  • Bukit Seribu Besek Wisata Alam Pohon Pinus Di Purworejo
  • Telaga Sarangan Magetan, Wisata Danau Nan Sejuk Di Lereng Gunung Lawu
  • Embun Es Di Dataran Tinggi Dieng, Fenomena Alam Unik Di Negeri Tropis
  • Saloka Theme Park Semarang, Taman Bermain Terbesar Di Jawa Tengah
  • Fenomena Unik Api Abadi Mrapen di Grobogan Jawa Tengah
  • Menelusuri Sisa Kejayaan Kereta Api Era Kolonial Di Museum Kereta Api Ambarawa
  • Candi Borobudur, Simbol Kejayaan Wangsa Syailendra
  • Bledug Kuwu, Letusan Kawah Lumpur Vulkanik di Grobogan
  • Sendratari Ramayana Candi Prambanan
  • Menengok Megahnya Candi Borobudur di Magelang



  • Semua Komentar
      Belum ada komentar
    Tulis Komentar