indonesiatera

KH Mas Mansur, Ulama Sekaligus Tokoh Empat Serangkai di Masa Perjuangan Kemerdekaan

DaerahKita 27/11/2021

Tokoh nasional yang satu ini merupakan tokoh ulama dari Surabaya, Jawa Timur dan tergabung dalam Muhammadiyah. Beliau bernama K.H. Mas Mansur yang lahir pada 25 Juni 1896 di Surabaya, Jawa Timur. Ayahnya bernama K.H. Mas Achmad Marzoeqi, seorang ulama terkenal di Jawa Timur pada masanya, sedangkan ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmi Wonokromo Surabaya. Mansur mendapatkan peiajaran agama dari sang ayah, kemudian belajar di Pesantren Sidoresmi dan Pesantren Demangan untuk mengkaji Al-Quran dan mendalami kitab Alfiyah ibn Malik kepada Kyai Khalil.

Pada 1908 ayahnya menyarankan untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Mekah dengan Syaikh Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur. Karena situasi politik di Arab Saudi yang tidak aman, akhirnya Mas Mansur memutuskan belajar di Al Azhar, Kairo, Mesir meskipun ditentang oleh orangtuanya.

Mas Mansur kembali ke lndonesia pada 1915. Beliau mengabdikan dirinya dengan mengajar di Pesantren Mufidah, Surabaya. Mas Mansur mulai terjun ke dunia politik. Pada masa itu, Mansyur merasa bahwa pemerintah kolonial tengah menghalangi ajaran Islam. Kondisi ini membuat Mas Mansyur bergabung dalam Muhammadiyah dan Persatuan Bangsa Indonesia. Dalam Muhammadiyah, Mas Mansyur terpilih untuk menjadi ketua cabang konsul Muhammadiyah Jawa Timur. Kemudian pada 1937, ia terpilih menjadi ketua umum Muhammadiyah melalui pemilihan pada Muktamar Muhammadiyah ke-26.

Mas Mansur juga aktif dalam kegiatan jurnalistik dengan mendirikan berbagai majalah, serta aktif menulis artikel dan opini di berbagai media massa terbitan Surabaya, Yogyakarta, dan Medan.

Bersama Muhammadiyah Mas Mansur aktif mengadakan dakwah ke daerah-daerah sebagai upaya memajukan Muhammadiyah. Pengaruhnya yang luas di kalangan masyarakat membuat Belanda berusaha mendekatinya dengan menawarkan jabatan di Het Kantoor voor Inlandsche Zaken sebagai kepala lembaga urusan agama Islam. Namun, Mas Mansur menolak. Beliau justru berinisiatif untuk membentuk Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) pada 25 September 1937 yang menjadi cikal bakal Masyumi.

Pada masa pendudukan Jepang Mas Mansur tetap aktif dan semangat mengurus perguruan Muhammadiyah. Beliau bersama dengan K.H. Wahid Hasyim dan K.H. Taufiqur-rahman mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada November 1943. Selain itu, Mas Mansur diangkat oleh Jepang menjadi salah satu pimpinan PUTERA (Pusat Tenaga Rayat). Organisasi ini dipimpin oleh Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur. Keempat tokoh ini dianggap Jepang sebagai kelompok yang paling berpengaruh di Indonesia saat itu.

Empat Serangkai adalah kumpulan tokoh yang berpengaruh di era kebangkitan nasional. Latar belakang terbentuknya Empat Serangkai ini adalah ketika Jepang tengah menghadapi Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya melawan negara-negara Barat. Jepang ingin memanfaatkan Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk membantu Jepang menghadapi perang. Supaya rakyat bersedia membantu, Jepang pun mendekati golongan nasionalis yang sedang memperjuangkan kemerdekaan.

Namun tugas tersebut tidak begitu disukai Mas Mansur yang memang tidak menyukai pemerintahan Jepang. Pada 1944 Mas Mansur mengundurkan diri dari organisasi PUTERA karena kesehatannya memburuk dan kembali ke Surabaya.

Menjelang Indonesia merdeka, Mas Mansur menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Setelah Indonesia merdeka, walaupun belum begitu sembuh, Mas Mansur aktif membantu para pejuang Surabaya menghadapi kedatangan tentara Belanda (NICA). Mas Mansur ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Kalisosok, Surabaya. Kondisi Mas Mansur yang saat itu sedang sakit, semakin memburuk setelah ditahan Belanda. K.H. Mas Mansur wafat di tahanan pada 25 April 1946 dan dimakamkan di Gipo, Surabaya, Jawa Timur. Pada 26 Juni 1964, berdasarkan Keppres No. 163/1964 pemerintah menobatkan K.H. Mas Mansur sebagai pahlawan. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di Jakarta.

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh pendidikan sekolah pejuang biografi Hindia Belanda ulama kiai kemerdekaan
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. www.kompas.com
  3. www.republika.co.id






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0