wahyumedia

Hiu Adodo Cerita Rakyat Maluku

DaerahKita 23/11/2021

Ada sebuah desa bernama Adodo berada di Pulau Fordata, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Alkisah, di desa Adodo itu hiduplah sebuah keluarga bangsawan dari marga Werluka. Suami istri itu memiliki seorang anak laki-laki bernama Tameru dan seorang anak perempuan bernama Inkelu.

Sesuai adat istiadat di desa Adodo, seorang anak perempuan bangsawan tidak boleh keluar rumah sampai ia berusia dewasa. Inkelu pun demikian. Menurut cerita, Inkelu adalah gadis yang sangat cantik. Meskipun begitu, belum ada warga desa yang pernah melihat wajahnya.

Suatu hari, ketika Inkelu menginjak usia lima belas tahun, ia mengajukan permohonan kepada ayahnya. "Ayah, aku ingin sekali pergi ke pantai. Bukankan aku sudah cukup dewasa untuk dapat keluar rumah?" bujuk Inkelu.

"Apa yang kau katakan? Usiamu baru lima belas tahun. Kau belum cukup dewasa untuk keluar rumah! Nanti saja ketika usiamu tujuh belas tahun," sanggah si ibu.

"Tapi, aku pikir Inkelu sudah dapat menjaga dirinya sendiri," kata ayahnya. "Tapi, ingatlah Inkelu, kau tidak boleh keluar rumah sendirian. Kau harus pergi ditemani para pelayan," pesan si ayah.

"Baiklah, aku akan menjaga diri dan membawa para pelayan untuk menemaniku pergi ke pantai," ucap Inkelu bahagia.

Sebelum pergi, Inkelu berpesan kepada ketujuh pelayannya untuk tidak lupa membawa bekal dan bakul-bakul kosong. Bakul itu akan ia gunakan untuk wadah kerang-kerang ataupun kepiting yang akan ditangkapnya di laut.

Tidak berapa lama, pergilah Inkelu bersama tujuh pelayannya ke pantai sambil membawa bakul-bakul kosong. Ia sangat bahagia bisa keluar rumah. Wajahnya berseri-seri. Inkelu berlarian menangkap kerang-kerang dan kepiting. Para pelayan pun tampak bahagia menemani Inkelu. Tidak terasa, beberapa bakul sudah terisi penuh dengan kepiting dan kerang.

"Aku pikir kerang-kerang dan kepiting di sini sudah habis. Sebaiknya kita mencari tempat lain. Pergilah kalian ke timur. Aku akan pergi ke barat mencari kerang," ucap Inkelu kepada para pelayannya.

"Tapi, Tuan Putri tidak boleh pergi sendirian. Biarlah salah satu dari kami menemani Tuan Putri," ucap salah seorang pelayan.

"Sudahlah. Aku sudah dewasa untuk bisa menjaga diri sendiri. Kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Kalian bersenang-senanglah. Nanti, setelah sore, kita berkumpul lagi di sini," perintah Inkelu.

"Tapi, Tuan Putri...," sahut pelayan lainnya.

"Tidak ada tapi-tapi. Sudahlah, aku ingin sendirian. Kita akan berkumpul kembali di sini," potong Inkelu.

Meskipun para pelayan itu tidak ingin meninggalkan tuannya, mereka tidak dapat membantah keinginan Inkelu. Akhirnya, mereka melakukan perintah Inkelu dengan membiarkan Inkelu bermain sendirian di barat, sedangkan mereka pergi ke timur.

Inkelu sangat senang bisa menikmati keindahan pantai sendirian tanpa ditemani para pelayan. Tanpa terasa, ia telah terpisah jauh dengan para pelayannya. Inkelu kemudian mencari-cari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah batu besar datar yang letaknya agak ke tengah laut. Ia pun pergi ke batu itu dan beristirahat di atasnya.

Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berlari dan membungkuk mencari kerang serta kepiting. Inkelu berbaring di atas batu besar yang hangat terkena pancaran sinar matahari. Entah dari mana, tiba-tiba saja di hadapannya sudah ada seorang pemuda yang sangat tampan. Selain ayah dan kakak lelakinya, ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki manapun. Inkelu sangat bahagia bercakap-cakap dengan lelaki asing itu. Walaupun baru kenal saat itu, mereka sudah terlihat sangat akrab. Inkelu terkejut lagi ketika pemuda tampan yang baru ditemuinya itu tiba-tiba menghilang.

Karena sudah seharian bermain di pantai, perutnya mulai terasa lapar. Ia pun pergi ke tempat ia berjanji bertemu dengan para pelayannya. Ternyata, di sana para pelayannya sudah menunggu dengan hati cemas.

"Apa kalian tidak lapar?" tanya Inkelu.

"Kami memang lapar. Tapi kami tidak berani untuk makan lebih dulu sedangkan Tuan Putri belum tiba," sahut pelayannya.

"Kalau kalian lapar, sebaiknya kalian makan lebih dulu. Ya sudah, ayo kita makan bersama!" ucap Inkelu.

Inkelu dan para pelayannya kemudian saling bertukar cerita tentang apa yang mereka alami selama bermain di pantai. Namun, Inkelu tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang pertemuannya dengan pemuda tampan di pantai.

Semenjak pertemuannya dengan pemuda asing di pantai, Inkelu merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Meskipun demikian, ia tidak menceritakan kejadian yang dialaminya bersama pemuda itu kepada siapa pun. Namun, sepulang dari pantai, ia tampak murung dan lebih pendiam. Orangtuanya tidak mengetahui apa yang sebenarnya menimpa buah hati mereka. Setiap pertanyaan yang dilontarkan kedua orangtuanya, Inkelu lebih senang untuk bungkam.

Karena merasa heran dengan tingkah laku anaknya, bangsawan itu menanyakan kepada pelayan Inkelu apa sebenarnya yang terjadi di pantai. Ta

pi, tidak seorang pun dari mereka yang tahu penyebab perubahan sikap Inkelu.

Tiga bulan telah berlalu. Betapa terkejutnya orangtua Inkelu ketika mengetahui putri tercintanya telah hamil. Kedua orangtua itu sangat bingung, bagaimana mungkin putrinya yang belum menikah dan selalu berada dalam pengawasan mereka tiba-tiba hamil. Mereka ingat, satu-satunya waktu di luar pengawasan mereka adalah ketika Inkelu pergi ke pantai. Tapi, berkali-kali ditanya siapa lelaki yang telah kurang ajar kepada Inkelu, berkali-kali pula Inkelu hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun.

"Kurang ajar. Siapa laki-laki kurang ajar yang berani menghamili putriku?" tanya ayah Inkelu.

Berita kehamilan Inkelu telah menyebar dengan cepat. Entah siapa yang membongkar aib itu, tetapi seluruh penduduk desa telah mengetahui bahwa Inkelu telah hamil. Betapa malunya keluarga bangsawan itu. Akhirnya, untuk menebus rasa malu, Inkelu dihukum tidak boleh tidur di kamar. Hal ini dilakukan untuk mendesak agar Inkelu mau berterus terang siapa pemuda yang telah menghamilinya. Tapi, rencana itu ternyata tidak berhasil juga.

Bulan berganti bulan. Inkelu pun melahirkan anaknya. Namun, betapa terkejutnya ketika bayi yang lahir dari Inkelu bukanlah anak manusia, melainkan seekor anak hiu berwarna putih. Berita itu kemudian menyebar ke seluruh desa.

Namun, ada hal yang aneh pada bayi hiu itu ketika diletakkan di dalam air, ia tidak mau tengkurap seperti layaknya ikan. Bayi hiu itu tetap pada posisinya yang terbaring dengan perut menghadap ke atas.

Kemudian, ayah Inkelu bermusyawarah dengan para tetua desa. Akhirnya, disepakatilah untuk mengumpulkan semua pria di daerah itu dan menyelidiki siapa ayah dari bayi hiu itu. Namun, usahanya sia-sia saja. Jejak pemuda itu tidak ditemukan. Lalu, ayah Inkelu memanggil seorang dukun untuk menyelidikinya.

Setelah sekian lama didesak, akhirnya Inkelu terpaksa membuka mulutnya. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pemuda di pantai setahun yang lalu.

"Hmm...kalau begitu berarti pemuda itu adalah makhluk halus. Kau pasti sudah menghirup napasnya. Inilah yang menyebabkan kau hamil," ucap sang dukun.

Atas petunjuk Inkelu, pergilah para penduduk desa ke batu datar tempatnya beristirahat setahun yang lalu. Benar saja, ketika bayi hiu itu diletakkan ke dalam air dekat batu datar, hiu kecil itu dapat membalikkan badannya dan dapat berenang dengan normal seperti ikan pada umumnya.

"Berarti benar, ayah bayi hiu ini berada di tempat ini," ucap sang dukun.

Semua penduduk mengangguk-angguk. Tidak ada lagi dari mereka yang mencemooh Inkelu. Para penduduk desa justru merasa kasihan kepada Inkelu karena kemalangannya itu.

Malam harinya, Tameru, kakak kandung Inkelu bermimpi bertemu dengan ikan hiu kecil kemenakannya. "Paman Tameru, tahun depan aku akan berumur satu tahun. Pada hari itu, aku harap paman datang ke dekat batu datar di pantai karena di situlah rumahku. Tapi, jangan lupa paman harus membawa sepiring nasi putih dan kuning telur rebus sebutir. Setelah itu, taburkanlah di sana sambil memanggilku. Ingatlah, yang memasak nasi itu harus Ni Lohat Ra (adik perempuan nenek) tidak boleh digantikan oleh siapapun. Paman harus datang sendiri atau boleh ditemani seorang saudara laki-laki yang masih ada hubungan kekerabatan. Tidak boleh ada wanita yang datang apalagi wanita hamil," pesan hiu kecil itu dalam mimpi.

Setahun kemudian, Tameru memenuhi pesan hiu kecil kemenakannya. Ia melaksanakan semua pesan yang ada dalam mimpinya dengan baik hingga tidak satu pun yang terlewatkan. Dengan ditemani saudara laki-laki, Tameru pun pergi ke pantai dekat batu datar.

Malam harinya, Tameru kembali bertemu dengan ikan hiu itu. Kini usianya telah satu tahun. Tubuhnya tidak lagi kecil seperti dulu. Tubuhnya sudah sebesar perahu. Ia berterima kasih karena Tameru telah melaksanakan permintaannya dengan baik.

Sejak saat itu wanita hamil pantang mengunjungi pantai sebelah barat. Dan pada bulan Juni, di dekat alur laut yang di sebut Nam Dabdubal, banyak sekali ikan hiu yang berkumpul di tempat itu. Saat ini, di desa Adodo masih terdapat orang yang sudah botak sejak lahir dan bergigi halus dan tajam seperti hiu. Konon, itu adalah akibat dari ibu mereka yang melanggar pantangan untuk tidak pergi ke pantai sewaktu hamil.

Pesan Moral:

Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu patuh akan nasihat orangtua. Jangan mencoba untuk melanggar semua petuah yang diberikan oleh orangtua. Sebab, ada hal yang baik di balik semua petuah ataupun larangannya.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
    Oleh: Sumbi Sambangsari
    Penerbit: Wahyumedia






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0