myzevabe

Sejarah Wisata Selabintana Sukabumi Sejak Jaman Hindia Belanda

DaerahKita 31/05/2019

Dari berbagai destinasi wisata di Sukabumi, salah satu yang cukup terkenal adalah Selabintana. Sebuah tempat wisata yang memiliki sejarah cukup panjang, karena telah dibangun sejak jaman Hindia Belanda dulu. Walaupun demikian, tempat wisata ini tetap menjadi tujuan berlibur yang menarik bagi banyak wisatawan hingga sekarang.

Kawasan wisata alam Selabintana berada di kaki Gunung Gede – Pangrango. Jaraknya sekitar 7 kilometer ke arah utara kota Sukabumi atau lengkapnya Jalan Selabintana KM 7, Sundajaya Girang, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat 43151. Awalnya, tempat ini ditemukan oleh seorang berkembangsaan Belanda, bernama AAE Lenne (1853 – 1916). Di tempat itu dibangun sebuah hotel pada tahun 1900-an yang hingga kini masih menjadi ikon Selabintana. Di tempat ini, para wisatawan akan mendapatkan jejak sejarah peninggalan Belanda dengan latar belakang Gunung Gede – Pangrango yang eksotis.

Di masa pemerintahan Hindia Belanda, Sukabumi terkenal sebagai tempat peristirahatan bagi petinggi perkebunan Belanda. Pada saat itu orang-rang Belanda menjadikan Sukabumi sebagai pusat perkantoran untuk mengurus perkebunan yang tersebar di beberapa tempat. Tempat peristirahatan yang dikelilingi perkebunan dan pemandangan cantik gunung Gede Putri Pangrango memikat hati dan menjadi tempat favorit bagi para warga Belanda untuk mencari udara bersih, sejuk, dan segar. Kerena itu dalam waktu singkat kawasan itu mengalami perkembangan yang pesat. Lene sang pendiri kemudian mengubah peristirahatan ini menjadi sebuah hotel dengan nama Hotel Selabintana.

hotelselabintana
Hotel Selabintana di masa Hindia Belanda

Pada tahun 1924, AAE Lene menyerahkan Hotel Selabintana kepada anaknya GE Lene (1897 – 1976). GE Lene kemudian mengangkat Los Bakker, seorang manejer berkebangsaan belanda untuk mengelola Hotel Selabintana. Saat itu, Bakker berhasil meningkatkan jumlah kunjungan warga Belanda ke Selabintana.

Menjelang Perang Dunia Kedua, di Hotel Selabintana tersebut, atau kini bernama Selabintana Hotel & Conference Resort , rapat penting antara pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Jepang digelar tahun 1940. Rapat tersebut membahas hubungan ekonomi kedua negara itu terkait erat dengan berakhirnya Perjanjian Perdagangan Jepang-Amerika Serikat (AS) pada 26 Januari 1940. Berakhirnya perjanjian itu diikuti dengan pengurangan drastis ekspor AS ke Jepang dan kekhawatiran Jepang akan diembargo AS.

Jepang membutuhkan negara lain untuk memasok sumberdaya alam, terutama minyak, agar industrinya tetap berjalan. Untuk itu mereka menghubungi penguasa Hindia Belanda, untuk mendapatkan jaminan pasokan dan konsesi ekonomi lebih jauh.

Akhirnya Jepang mengutus Menteri Perdagangan dan Industri Ichizo Kobayashi datang ke Hindia Belanda, sehingga delegasi yang ke Batavia dikenal dengan Misi Kobayashi.  Delegasi Jepang tiba di Batavia pada 12 September 1940 menggunakan Kapal Nissho Maru. Disambut Menteri Ekonomi Hindia HJ van Mook dengan upacara meriah di Batavia, mereka berangkat ke tempat konferensi, Selabintana pada 16 September.

situsbudaya
Hotel Selabintana saat ini

Hingga kini banyak bangunan yang berdiri sejak jaman Hinida Belanda masih tetap dipertahankan di Selabintana. Seiring berjalannya waktu, kini juga daya tarik Selabintana makin berkembang. Bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya kini dapat menaiki Kereta Api Pangrango dari Stasiun Paledang Bogor, sampai ke Stasiun Sukabumi, lalu melanjutkan dengan angkutan kota sampai ke Selabintana.

Di lokasi ini sekarang terdapat beberapa obyek wisata alam yang layak untuk di kunjungi. Seperti air terjun Curug Cibeureum, Pondok halimun yang seringkali di jadikan tempat hiking dan camping, Tea Walk di Perkebunan Warnasari, dan kebun strawberry di jalur menuju Pondok Halimun.

Tak sampai di situ, di sana pengunjung dapat beraktifitas mendidik dan menghibur, yaitu belajar menanam tumbuh-tumbuhan, flying fox, motor ATV, outbound, dan permainan anak lainnya.

Dengan beranek ragamnya atraksi wisata yang tersedia, maka kedatangan pengunjung ke Selabintana dapat merasakan dua hal sekaligus, yaitu merasakan indahnya wisata alam nan hijau dan menyelusuri jejak sejarah peninggalan Belanda pada masa lampau.

Tags sejarah arsitektur wisata liburan alam
Referensi:
  1. historia.id
  2. Berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0