wisatamedan

Masjid Raya Al Mashun Medan

DaerahKita 25/05/2019

Sebagai daerah bekas berdirinya kesultanan yang besar, yaitu Kesultanan Deli, di Medan, Sumatera Utara, terdapat sebuah masjid yang bersejarah. Masjid besar itu bernama Masjid Raya Al Ma’shun. Salah satu ikon kota Medan ini cocok untuk dikunjungi karena kental suasana religius. Terutama di bulan Ramadhan, di mana kegiatan akan meriah dengan adanya acara buka puasa bersama (ifthar) yang menyediakan menu khas, yaitu bubur sup Anyang.

Untuk menikmati makanan yang identik dengan suku Melayu ini, warga rela antre berjam-jam agar bisa merasakan gurih dan lezatnya bubur sup Anyang. Tak heran, karena makanan khas Kesultanan Deli ini, hanya disajikan pada saat bulan suci Ramadhan. Bubur sup Anyang disajikan di masjid bersama dengan buah kurma dan teh manis. Bubur ini disediakan gratis sampai tiga hari jelang Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

goriau
Memasak Bubur Sup Anyang

Di masjid ini pula, kita bisa melihat dari dekat sebuah mushaf Al Quran tua yang berumur ratusan tahun. Mushaf Al Qur’an tersebut dipajang di pintu masuk jemaah laki-laki. Mushaf terbuat dari kertas kulit yang sangat tua, dibuat di Timur Tengah. Walaupun merupakan tulisan tangan, dan berusia tua, tapi Al Qu’an tersebut masih utuh dan masih jelasn untuk dibaca.

Salah satu peninggalan Kesultanan Deli yang terdapat di Medan ini mulai dibangun pada 1 Rajab 1324 H atau 21 Agustus 1906 dan selesai pada 10 September 1909. Rencananya, masjid raya ini akan menjadi satu bagian dengan kompleks Istana Maimun. Masjid ini memang merupakan peninggalan Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam, pemimpin ke-9 Kesultanan Melayu Deli yang berkuasa pada 1873-1924. Di masa kejayaannya mesjid ini dibangun untuk jamaah muslim melakukan ibadah dan mendengarkan khotbah atau pidato Sultan. Mimbar beliau bahkan masih terawat dan diletakkan di bagian depan. Sesekali masih digunakan saat khotbah di bulan Ramadan setiap tahunnya.

tribunnews
Mushaf Al Quran berusia tua

Menurut Hikayat Deli, pemuka Aceh yang bernama Muhammad dalik berhasil menjadi laksmana di Kesultanan Aceh. Beliau merupakan keturunan Amir Muhammad Badaruddin Khan, seorang bangsawan Delhi-India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudera Pasai. Alkisah, Muhammad Dalik dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah Sungai Lalang-Percut.

Pada 1630, beliau mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh. Setelah Dalik meninggal pada 1653, putranya, Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekusaan. Pada 1669, ia mengumumkan untuk memisahkan kerajaannya dari Aceh. Ibukotanya berada di Labuhan, berjarak 20 km dari Medan. Pada 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda, setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya kepada mereka.

Pada 1861, Kesultanan Deli diakui secara resmi merdeka dari Siak dan Aceh sehingga Sultan Deli lebih bebas dalam mengelola hak lahan. Pembangunan pun berlangsung pesat, terbukti perkembangan pembangunan Istana Maimun dan Masjid Raya Al Ma’shun.

nolnews
Interior Masjid Raya Al Mashun

Walaupun dirancang oleh arsitek yang berbeda dengan Istana Maimun, yaitu JA Tingdeman dari Amsterdam, Belanda, masjid ini masih menggunakan gaya Timur Tengah, India, dan Eropa klasik. Gaya arsitektur Moor yang kental terlihat pada kubah masjid yang berbentuk pipih dan hiasan bulan sabit pada bagian puncaknya. Dekorasinya didatangkan khusus dari Italia dan jerman. Masjid ini memiliki bentuk simetris jika dilihat dari keempat sisinya. Ternyata, tidak hanya bentuk bangunannya yang berbeda, kubahnya pun tidak bulat seperti lazimnya kubah masjid.

Kubah yang berbentuk persegi delapan benar-benar mengikuti bentuk bangunan yang oktagonal (segi delapan). Uniknya lagi, hiasannya bukan berupa kaligrafi, melainkan hiasan bunga dan tumbuhan. Seni hias tinggi tampak pada lukisan cat minyak bunga-bunga dan tumbuhan, berkelok-kelok dengan manisnya menghiasi permukaan dinding, plafon, serta tiang-tiang kokoh pada bagian dalam masjid.

Rancangan desain yang tidak terpaku pada pola yang monoton, membuat Masjid Raya Al Mashun memiliki daya tarik yang berbeda. Tentu saja hal ini tidak mengurangi kekhusyukan para jemaah yang sedang beribadah.

Lokasi masjid Raya Al Mashun adalah di dukuh Sungaimati, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimon, Kota Medan, Sumatera Utara. Sisi timur Masjid Raya Al Mashun menghadap ke Jalan Sisingamangaraja sedangkan sisi utaranya menghadap ke Jalan Masjid Raya. Berjarak hanya sekitar 200 meter dari Istana Maimon yang merupakan Istana kesultanan Deli dan berada tepat di jantung kota Medan, masjid ini sangat mudah dijangkau dari manapun. Dari bandara, terminal, dan atau stasiun kereta api, para pengunjung dapat mencapai lokasi masjid dengan mengunakan becak motor (bentor) dan angkutan kota lain yang lalu lalang di depan masjid.

Tags masjid wisata sejarah budaya religi puasa buka puasa
Referensi:
  1. 100 Tempat Liburan Keluarga di Indonesia (Anastasia RY Sadrach)
  2. Dari berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0