gogonesia

Dahsyatnya Sejarah Vulkanologi Gunung Krakatau

DaerahKita 23/05/2019

Nama Krakatau di dunia internasional tak kalah terkenal dibandingkan dengan Bali. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kompleks Vulkanik Krakatau terletak di Selat Sunda, Lampung Selatan, yang terdiri atas empat buah pulau yaitu Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau. Pulau Rakata biasa disebut juga Pulau Krakatau Besar, sedangkan Pulau Panjang biasa disebut Pulau Krakatau Kecil.

Awalnya Krakatau merupakan satu pulau besar yang terbentuk dari tiga gunung api, yaitu kerucut basal Rakata serta kerucut kecil andesit Perboewatan dan Danan.

Gunung Krakatau menjadi terkenal di dunia karena letusan besar pada hari minggu, 27 Agustus 1883. Sebelumnya pada tanggal 25 Agustus, aktivitas vulkanik Krakatau ditandai letusan semakin meningkat. Sekitar pukul 13.00 tanggal 26 Agustus, Krakatau memasuki fase paroksimal. Satu jam kemudian, para pengamat bisa melihat awan abu hitam dengan ketinggian 27 km. Pada saat itu, letusan terjadi terus menerus dan ledakan terdengar setiap sepuluh menit sekali.

Tepat pada 27 Agustus, empat letusan besar terjadi pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10:41 waktu setempat. Pada pukul 5.30, letusan pertama terjadi di Gunung Perboewatan, yang memicu tsunami menuju Teluk Betung. Pukul 06.44, Krakatau meletus lagi di bagian Gunung Danan, menimbulkan tsunami di arah timur dan barat.

Letusan besar pada pukul 10.02 terjadi begitu keras dan terdengar hingga ke Perth, Australia Barat, dan Pulau Rodrigues di Mauritius yang jaraknya sejauh 4.800 km atau 3.000 mil dari Krakatau. Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat.

Masing-masing letusan disertai dengan gelombang tsunami, yang tingginya diyakini mencapai 30 meter di beberapa tempat. Wilayah-wilayah di Selat Sunda dan sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut terkena dampak aliran piroklastik gunung berapi.

javabalitrips
Pulau Anak Krakatau tampak dari atas

Letusan besar pada pukul 10.02 terjadi begitu keras dan terdengar hingga ke Perth, Australia Barat, dan Pulau Rodrigues di Mauritius yang jaraknya sejauh 4.800 km atau 3.000 mil dari Krakatau. Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat.

Masing-masing letusan disertai dengan gelombang tsunami, yang tingginya diyakini mencapai 30 meter di beberapa tempat. Wilayah-wilayah di Selat Sunda dan sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut terkena dampak aliran piroklastik gunung berapi.

Energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT, kira-kira hampir empat kali lipat lebih kuat dari Tsar Bomba (senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan). Pada pukul 10.41, tanah longsor yang meruntuhkan setengah bagian Rakata memicu terjadinya letusan akhir.

Gemuruh suara empat letusan dahsyat yang terdengar hingga Perth, Australia, dengan jarak 4.500 kilometer itu tertulis di buku Krakatoa: The Day the World Exploded, August 27, 1883. Sementara itu aktivitas seismik sendiri tetap berlangsung hingga Februari 1884.

Letusan itu dianggap kejadian terbesar dalam sejarah letusan krakatau, di mana gunung itu melontarkan material vulkanik dengan volume 18 km3 dan asap setinggi 80 km. Walaupun saat itu belum ada kota-kota besar di sepanjang pantai tersebut seperti sekarang, tapi 297 kota kecil (kota kecamatan) hancur disapu tsunami dan memakan korban 36.417 jiwa tewas. Diperkirakan pula ribuan orang tewas di Sumatera bagian selatan oleh “abu panas”. Tak satupun yang selamat dari total 3.000 orang penduduk pulau Sebesi, yang jaraknya sekitar 13 km dari Krakatau.

gogonesia
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan pijaran lava

Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca tetap tak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu tidak pernah normal hingga tahun 1888 atau lima tahun sejak letusan.

Setelah erupsi, gunung api Danan, Perboewatan, dan setengah bagian Rakata lenyap. Dari dua pulau di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang tersisa, sementara Poolsche Hoed menghilang sepenuhnya. Juga tertinggal beberapa pulau baru dan sisa pembentukan kaldera dengan kedalaman 250 m dan diameter 7 km.

Krakatau tenang kembali, sampai 11 Juni 1927 erupsi yang berkomposisi magma basa muncul di pusat kompleks Krakatau, yang kemudian dinyatakan sebagai saat lahirnya Gunung Anak Krakatau. Akibat dari letusan-letusannya, Gunung Anak Krakatau tumbuh semakin besar dan tinggi, rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun, membentuk kerucut yang sekarang telah mencapai tinggi lebih kurang 305 m dari muka laut. Di samping menambah tinggi kerucut tubuhnya, juga memperluas wilayah daratnya.

Sejarah kegiatan vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak 11 Juni 1930 hingga tahun 2000, mencatat erupsi yang mencapai lebih dari 100 kali yang umumnya selalu berpindah-pindah di sekitar tubuh kerucutnya. Erupsi umumnya terjadi empat tahun sekali berupa letusan abu vulkanik dan leleran lava. Pernah juga Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus mulai dari 8 November 1992 - Juni 2000.

swisseduc
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap

Kerana aktivitasnya, Anak Krakatau dinyatakan Status Waspada sejak 26 Januari 2012 dan belum berubah sampai sekarang. Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga erupsi dapat terjadi kapan saja, tapi tidak sebesar letusan dahsyat tahun 1883.

Kompleks Gunung Anak Krakatau dapat dicapai melalui beberapa jalur laut. Jalur pertama dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan kapal jet-foils atau kapal pesiar. Jalur kedua dari Pelabuhan Labuan, kota kecamatan di pantai barat Banten. Dari pelabuhan ini dapat disewa kapal motor atau nelayan yang berkapasitas 5 - 20 orang penumpang. Jalur ketiga dari Pelabuhan Canti, Kalianda, Lampung.

Untuk mencapai Pelabuhan Canti, gunakan jalan tol Jakarta-Merak, kemudian menyeberang ke Pulau Sumatera dengan feri dari Merak ke Bakauheni. Dari Bakauheni dilanjutkan ke Kota Kalianda, kemudian ke Pelabuhan Canti yang jaraknya sekitar 25 km.<.p>

Waktu terbaik mengunjungi Krakatau adalah pada musim kemarau, antara bulan Mei dan September.

Tags gunung sejarah geografi vulkanologi wisata selat sunda
Referensi:
  1. Intisari / Oktober 2002
  2. Tribunnews
  3. Wikipedia


Video tentang Dahsyatnya Sejarah Vulkanologi Gunung Krakatau






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0