iklantravel

Uniknya Tradisi Kampung Naga Di Tasikmalaya

DaerahKita 23/05/2019

Berada di tepi ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya-Bandung melalui Garut, yaitu kilometer ke-30 ke arah barat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kampung Naga dihuni oleh sekelompok masyarakat adat yang sangat memegang teguh adat-istiadat peninggalan para leluhur. Perbedaan tampak jelas jika dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Sebagai sebuah desa adat, warga Kampung Naga hidup berpedoman pada kondisi yang penuh kesahajaan dan lingkungan kearifan yang lekat.

Kampung Naga ini tidaklah besar, hanya ada 100-an rumah saja di kampung tersebut. Untuk mencapai lokasi desa adat tersebut, pengunjung harus menuruni 439 anak tangga yang sudah ditembok (sangked) sampai ke tepi Sungai Ciwulan dengam kemiringan 45 derajat dan jarak sekitar 500 meter. Dan apabila pengunjung akan kembali ke pintu masuk, maka harus menanjak menapaki jumlah anak tangga yang sama. Perjalanan menuju Kampung Naga melewati anak tangga tersebut ditemani dengan pemandangan bentangan sawah, tebing, dan sungai.



Tidak seperti yang mungkin Anda bayangkan, di Kampung Naga, pengunjung tidak akan menemui hal-hal yang berhubungan dengan makhluk mitologi naga. Asal kata "naga" diambil dari bahasa Sunda "nagawir" yang artinya kampung di bawah tebing. Kampung Naga merupakan kompleks desa seluas 1,5 hektare yang dikelilingi oleh tebing-tebing dan berada di sebelah aliran Sungai Ciwulan yang berhulu di Gunung Cikuray.

Batas wilayah Kampung Naga ditentukan oleh area luasnya, bukan berdasarkan bangunannya. Batas lahannya harus meliputi area seluas 1,5 hektare dan dikelilingi pagar bambu. Sebagian besar lahan digunakan untuk perumahan, pekarangan, dan kolam ikan. Selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang setahun dipanen dua kali.

Di dalam pagar bambu yang membatasi areal kampung, terdapat rumah penduduk dan bangunan-bangunan sakral. Sementara di luar pagar merupakan tempat-tempat yang dianggap "kotor", seperti kamar mandi dan kandang ternak.

Masyarakat adat Kampung Naga memilih untuk hidup dengan memegang teguh ajaran dan petuah leluhur. Hal tersebut ditunjukkan dengan keseharian mereka yang melestarikan kearifan lokal, menolak kesenian modern, dan memilih untuk tidak menggunakan listrik.

tripadvisor
Suasana di Kampung Naga

Warga di sana sama sekali tidak memanfaatkan listrik untuk menjaga rumah-rumah panggung mereka agar tidak terbakar mengingat semua bahan bangunan rumah berasal dari alam, seperti atap yang terbuat dari ijuk dan daun tepus serta tembok bilik dari bambu. Sedangkan penyangganya dari batu untuk mencegah rayap. Pintu dapur di rumah panggung Kampung Naga juga terbuat merupakan bilik sasak anyaman bambu.

Rumah di Kampung Naga hanya boleh menghadap ke utara atau selatan. Tujuannya agar setiap rumah bisa saling berhadapan. Jadi setiap kali pemilik rumah hendak keluar rumah, mereka akan langsung bertatapan dengan tetangganya.

yukpiknik
Suasana di Kampung Naga

Bentuk rumah juga berupa rumah panggung. Meskipun bentuk dari rumah panggung tersebut tak sama layaknya rumah panggung umumnya, namun lantai rumah mereka selalu berada sekitar 1 meter di atas tanah. Semua rumah yang dibuat sama merupakan salah satu warisan leluhur, yang memberi wejangan untuk menjauhkan diri dari sikap iri dan dengki.



Konon, Kampung Naga pertama dikunjungi oleh orang asing pada tahun 1980-an, yaitu oleh seorang warga negara Belanda. Sedangkan pengunjung lokal mulai ramai berkunjung ke Kampung Naga sekitar 1993-1994. Diperkirakan pengunjung yang pernah berkunjung ke Kampung Naga berasal dari 12 negara.

erwinmul
Tangga curam menuju ke Kampung Naga

Kampung Naga sebenarnya bukan merupakan objek wisata. Ini perlu ditegaskan demi menghindari komersialisasi, seperti penarikan retribusi dan tiket bagi pengunjung. Pemberlakukan biaya masuk memang pernah terjadi sekitar 1999, namun kemudian warga memutuskan menolak desa adatnya dijadikan tempat wisata. Tamu boleh saja berkunjung tanpa bayar tiket, karena masyarakat adat setempat menjunjung tinggi silaturahim. Namun apabila ada acara adat khusus, tamu tetap tidak diperbolehkan mengambil gambar atau merekam video.

Acara adat tersebut biasanya merupakan kegiatan yang diselenggarakan di Bumi Ageng yang menjadi salah satu tempat sakral dan keramat peninggalan nenek moyang. Bumi Ageng salah satunya digunakan warga adat untuk menjalankan ritual sebelum berziarah ke makam leluhur yang berada di hutan keramat sebelah timur laut Kampung Naga.

Sebagai kampung adat, Kampung Naga dipimpin oleh satu lembaga adat yang terdiri dari tiga tokoh adat, yaitu kuncen, lebe adat, dan punduh adat, yang dijabat secara turun-temurun dan tidak dipilih oleh warga. Kuncen bertugas sebagai pemangku dan pemimpin upacara adat. Lebe mempunyai tugas membantu pihak yang meninggal, dari memandikan sampai menguburkan, kemudian punduh mempunyai tugas sebagai penyebar informasi ke masyarakat.



Penduduk atau kaum Naga yang tinggal di desa adat tersebut sekitar 300 orang atau 101 kepala keluarga. Terdapat 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah dan tiga bangunan sarana umum yaitu masjid, balai pertemuan, dan lumbung padi.

Sementara, sekitar 97 persen warga asli Kampung Naga sudah bertempat tinggal di luar desa. Warga kampung naga di luar disebut dengan istilah "sanaga" atau satu keturunan Kampung Naga. Warga Kampung Naga sudah menyebar terutama di tiga kecamatan, yaitu Slawu, Puspahiyang, dan Cigalontang.

Keturunan Kampung Naga yang tinggal di luar hidupnya disesuaikan dengan kondisi luar, artinya boleh memakai rumah permanen dan listrik, namun tetap mengikuti upacara adat setahun enam kali, terutama setiap hari besar Islam.

Agama Islam itu sendiri diperkirakan masuk ke Kampung Naga pada abad XIV. Sebuah masjid didirikan di sebelah timur lapangan sentral atau semacam alun-alun di kampung tersebut.

Salah satu hal yang unik di Kampung Naga adalah dikaitkannya hari raya umat Islam dengan larangan adat yang berlaku di desa tersebut. Terdapat tiga hari larangan mengadakan kegiatan adat, yaitu pada Selasa, Rabu, dan Sabtu. Pada hari-hari tersebut, Kampung Naga tidak boleh melakukan kegiatan adat.

Tetapi, larangan tersebut tidak berlaku ketika penduduk Kampung Naga merayakan Idul Fitri. Misalkan Lebaran jatuh pada hari Selasa, maka salat Id tetap dilakukan pada Selasa namun upacara adat hajat sasih dilaksanakan pada Kamis. Sedangkan apabila Lebaran jatuh pada hari yang bukan termasuk larangan, maka akan dilangsungkan upacara adat langsung setelah salat Id. Aturan hari larangan itu sangat dijaga oleh warga desa adat karena merupakan amanat dan wasiat nenek moyang yang tidak boleh dilanggar.

Selain tradisi yang unik, suasana alam di Kampung Naga juga bisa jadi daya tarik. Karena tidak ada listrik di Kampung Naga, maka alam itulah yang jadi hiburannya. Bagi Anda yang ingin menjauhkan diri sejenak dari penatnya hingar bingar kota, Kampung Naga merupakan destinasi liburan yang bisa dipertimbangkan. Didukung dengan udara sejuk dan pemandangan hijau sejauh mata memandang.

Hawa dingin yang menyelimuti Kampung Naga akan membuat selera makan kita meningkat. Di Kampung Naga ada makanan khas yang patut dicoba. Namanya unik, Pipis. Kue ini mirip kue bugis yang diisi gula. Hanya saja bahan baku Pipis terbuat dari singkong.

Hidangan akan lebih nikmat lagi jika sambil menyeruput bajigur yang hangat dan manis. Minuman hangat khas Jawa Barat yang terbuat dari santan, kopi, gula aren, vanili, garam, gula pasir ini memang pas dinikmati saat udara dingin.

Tags budaya wisata alam adat
Referensi: Dari berbagai sumber





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0