beritamalukuonline

Kapitan Pattimura, Penakluk Benteng Duurstede Saparua

DaerahKita 22/05/2019

Pattimura lahir pada tahun 1783 di Pulau Saparua, Maluku. Nama aslinya adalah Thomas Matulessy dan ibunya bernama Fransina Silahoi. Pattimura merupakan keturunan bangsawan dari Raja Sahulau, yang kerajaannya berada di Teluk Seram Selatan.

Thomas Matulessy awalnya bekerja sebagai prajurit Inggris dan pangkat terakhirnya adalah Sersan Mayor. Karirnya berhenti seiring hengkangnya Inggris yang harus menyerahkan kekuasaannya di nusantara termasuk Maluku kepada Belanda. Hal ini merupakan hasil Traktat London, yaitu kesepakatan Inggris dengan Belanda pada Tanggal 13 Agustus 1814.



Kembali berada di bawah cengkeraman Belanda menimbulkan petaka bagi rakyat Maluku. Belanda memberlakukan kebijakan yang sangat merugikan rakyat, termasuk monopoli perdagangan rempah-rempah, menetapkan pajak tanah (landrente) yang tinggi, memindahkan penduduk untuk dijadikan pekerja paksa, hingga persoalan pelayaran Hongi (hongitochten).

Pada 4 Mei 1817, seluruh rakyat Saparua melakukan perlawanan terhadap Belanda untuk mempertahankan daerahnya. Ketika itu, rakyat mengangkat Thomas Matulessy sebagai kapitan untuk melawan penjajah. Sejak saat itulah Thomas Matulessy dikenal sebagai Kapitan Pattimura.

Di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura, Benteng Fort Duurstede berhasil direbut dari tangan Belanda. Semua tentara Belanda yang ada di dalam benteng itu tewas, termasuk Residen Van Den Berg.

Belanda lalu ingin membalas kekalahannya dengan menyusun strategi baru. Bersenjatakan peralatan perang modern, Belanda menyerang pasukan Pattimura. Pada 11 November 1817, Pattimura ditangkap oleh Belanda, dan Benteng Duurstede pun kembali mereka kuasai.

negerisaparua
Benteng Duurstede tampak dari atas (bird view)

Selanjutnya, Pattimura dibawa ke Ambon. Di sana, pihak Belanda membujuknya agar mau bekerjasama, tetapi Pattimura menolaknya. Belanda pun memutuskan menjatuhkan hukuman mati kepada Pattimura. Sampai sehari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Belandan masih mencoba membujuk Pattimura untuk bekerja sama. Namun Pattimura tetap teguh dengan pendiriannya, menolak bujuk rayu Belanda.



Pada 16 Desember 1817, Pattimura akhirnya dihukum mati dengan cara digantung di Benteng Victoria, Ambon. Pattimura menjalani hukuman secara ksatria, ia menghadapinya dengan gagah berani, tanpa rasa takut. Pattimura wafat pada usia 35 tahun. Pada 6 November 1973, berdasarkan Keppres N0. 087/TK/1973, pemerintah menobatkan Kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional.

ramatours
Pintu masuk Benteng Duurstede

Fort Duurstede mulai dibangun Portugis pada 1676. Lalu setelah kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda, pada tahun 1690 direbut oleh Arnold De Flaming van Ouds Hoorn. setelah diambil alih oleh VOC, bangunan ini dimanfaatkan dan dibangun kembali oleh Gubernur Ambon Mr. N. Schaghen pada tahun 1691. Hal tersebut berlangsung dari abad ke-17 hingga 18, sebelum diserang oleh pasukan Pattimura pada tahun 1817.

Tags sejarah biografi pahlawan nasional
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa (Didi Junaedi)
  2. Dari berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0