ebookanak

Abdul Kadir Raden Temenggung Melawan Belanda Hingga Usia Lebih Seabad

DaerahKita 27/04/2019

Abdul Kadir dilahirkan pada 1711 di Sintang, Kalimantan Barat. Ayahnya bernama Oerip, seorang hulubalang atau pemimpin pasukan di Kerajaan Sintang, sedangkan ibunya bernama Siti Safriyah. Abdul Kadir dididik menjadi anak pemberani oleh sang ayah. Beliau sering membantu tugas ayahnya sebagai hulubalang sehingga beliau mewarisi jiwa kepemimpinan sang ayah.

Pada 1845, Abdul Kadir diangkat menjadi kepala pemerintahan di Melawi dengan gelar Raden Tumenggung dari Raja Sintang, karena Melawi sendiri adalah merupakan bagian dari Kerajaan Sintang. Di masa kepemimpinannya, beliau berhasil mengembangkan perekonomian Melawi. Beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang bijak dan cinta damai, terbukti dari prestasinya menyatukan suku Melayu dan suku Dayak.



Kemajuan Melawi membuat Belanda tergiur untuk menguasai wilayah yang dipimpin oleh Abdul Kadir tersebut. Belanda kemudian membujuk Abdul kadir dengan memberikan sejumlah uang dan menganugerahi gelar Setia Pahlawan, kepada dirinya. Namun Abdul Kadir menolak karena tahu bahwa pemberian hadiah tersebut merupakan rayuan Belanda untuk dapat menguasai Melawi.

Penolakan tersebut membuat Belanda marah kemudian melancarkan serangan ke Melawi. Namun, secara diam-diam Abdul Kadir telah mempersiapkan pasukan bersenjata. Berbagai strategi disusun Abdul Kadir untuk menghadang dan menggagalkan penyerbuan Belanda. Sehingga, serangan Belanda pun dapat dipatahkan.



Selama tujuh tahun (1868-1875) pihak Belanda tidak mengetahui aksi Abdul Kadir sebagai ahli strategi yang selalu berhasil menumpas dan menggagalkan serangan militer Belanda ke daerah Malawi. Dengan posisinya sebagai kepala daerah Melawi, Abdul Kadir dapat dengan mudah memperoleh informasi dari Sintang dan Belanda. Pada saat itu usia Abdul Kadir sudah melampaui seratus tahun atau satu abad. Namun, pada usianya yang telah lanjut itu beliau tetap setia memimpin dan menyejahterakan rakyat Melawi. Abdul Kadir merupakan satu-satunya pahlawan yang gigih dan terus berjuang hingga usia di atas seratus tahun.

Pada 1875, Belanda akhirnya mengetahui peran Abdul Kadir sebagai ahli strategi di belakang pemberontakan. Belanda segera menangkap dan memenjarakan Abdul Kadir di Benteng Saka Dua di Kota Nanga Pinoh. Tiga minggu kemudian, Abdul Kadir wafat di penjara pada usia 104 tahun. Tokoh yang bergelar Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan itu kemudian dimakamkan di Natali Mangguk Liang, Melawi.

Pada 13 Oktober 1999, berdasarkan Keppres No. 114/TK/1999, pemerintah Republik Indonesia menobatkan Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan sebagai pahlawan nasional.

Tags sejarah biografi pahlawan
Referensi: Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa (Didi Junaedi)





Semua Komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0