klipingsekolah

Frans Kaisiepo Konsisten Berjuang Untuk Pembebasan Irian Barat

DaerahKita 21/05/2019

Pada tanggal 10 Oktober 1921, tokoh Papua bernama Frans Kaisiepo dilahirkan di Wardo, Biak, Papua. Frans Kaisiepo mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat pada 1931-1934, kemudian melanjutkan ke Sekolah Guru Normalis di Manokwari. Frans Kaisiepo juga mengikuti kursus kilat Pamong Praja di Jayapura pada Maret-Agustus 1945.

Pada 1945, saat terjadi proklamasi kemerdekaan Indonesia, Frans Kaisiepo tengah mengikuti kursus kilat Pamong Praja di Kampung Harapan, Jayapura. Ternyata proklamasi kemerdekaan Indonesia ikut memperngaruhi pandangan Frans Kaisiepo. Beliau, bersama para siswa lainnya, mengadakan rapat rahasia menentang Belanda dan merancang rencana Papua untuk bergabung dengan negara Republik Indonesia yang baru saja berdiri.



Pada 14 Agustus 1945, Frans Kaisiepo bersama Marcus Kaisiepo, Nicolas Youwe, dan teman-temannya di Kampung Harapan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara diam-diam. Itu adalah pertama kalinya lagu Indonesia Raya dinyanyikan di Papua. Kemudian pada 31 Agustus 1945, tokoh-tokoh Komite Indonesia Merdeka, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey, dan M. Youwe bersama Frans Kaisiepo mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Tanggal 10 Juli 1946, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak. Lukas Rumkoren terpilih sebagai ketua partai. Waktu itu Frans Kaisiepo tengah menjabat sebagai Kepala Distrik Warsa, di BIak Utara.

Ketika Konferensi Malino diadakan pada 1946 di Malino, Ujung Pandang, Frans Kaisiepo ikut ambil bagian sebagai satu-satunya wakil dari Nieuw Guinea (Papua) dan ikut berbicara tentang pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Dalam konferensi itu pada 16 Juli 1946, beliau mengajukan usulan penggantian nama Papua menjadi Irian.

pemudamaritim
Kapal perang korvet TNI AL kelas SIGMA, KRI Frans Kaisiepo 368

Sebelumnya, ada beberapa nama untuk menyebut Papua, yakni Os Papuas, Isla de Oro atau Island of Gold yang artinya Pulau Emas, Nueva Guinee, dan Nieuw Guinea.

Frans Kaisepo kemudian mengambil nama dari sebuah mitos Manseren Koreri, sebuah legenda yang termahsyur dan dikenal luas oleh masyarakat luas Biak, yaitu Irian. Dalam bahasa Biak Numfor “Iri” artinya tanah,“an”artinya panas. Dengan demikian nama Irian artinya tanah panas.

Dalam bahasa Serui,“Iri”artinya tanah,“an”artinya bangsa, jadi Irian artinya tanah bangsa, sementara dalam bahasa Merauke, “Iri” artinya ditempatkan atau diangkat tinggi, “an” artinya bangsa, jadi Irian adalah bangsa yang diangkat tinggi.



Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo pernah mengatakan “Perubahan nama Papua menjadi Irian mempunyai arti historis dan juga mengandung semangat perjuangan. Irian artinya Ikut Republik Indonesia Anti Netherland.”

tribunnews
Foto Frans Kaisiepo tercetak di uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah

Pada Maret 1948, Frans Kaisiepo memimpi pemberontakan rakyat Biak melawan Belanda. Pada 1949, Frans Kaisiepo ditunjuk oleh Belanda untuk menjadi ketua delegasi Nederlands Nieuw Giunea ke Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda. Namun, beliau menolaknya karena tak ingin diperalat oleh Belanda. Akibatnya, Frans Kaisiepo dipenjara selama lima tahun, yaitu pada 1955 hingga 1961.



Tahun 1961, Presiden Sukarno mengumandangkan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) sebagai upaya pembebasan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Frans Kaisiepo pun turut membantu Angkatan Perang RI dalam perjuangan pembebasan Irian Barat itu. Pada 1963, organisasi PBB untuk mengatasi penyelesaian konflik Indonesia dan Belanda dalam perebutan Irian Barat (United Nations Temporary Executive Authority, disingkat UNTEA) menyerahkan wilayah Irian Barat kepada Indonesia dengan syarat adanya kesepakatan kedua belah pihak, yaitu Indonesia berkewajiban membangun wilayah Irian Barat dalam kurun waktu 1963-1969.

harnas
Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak, Papua

Pada 1964, Frans Kaisiepo dipercaya menjadi Gubernur Irian Jaya yang bertugas melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Kemudian Pepera itu dilaksanakan pada 1969 dengan hasil menunjukkan sebagian besar rakyat Irian Jaya memilih bergabung ke dalam wilayah Republik Indonesia. Pada 1972, Frans Kaisiepo diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1973-1979.

Frans Kaisiepo wafat pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Biak, Papua. Pada 14 September 1993, berdasarkan Keppres No. 77/TK/1993, pemerintah menobatkan Frans Kaisiepo sebagai pahlawan nasional, serta dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya kepada negara, nama Frans Kaisiepo diabadikan sebagai nama bandar udara di Biak, Papua, dan dipakai untuk nama kapal perang canggih milik TNI AL. Kapal perang jenis korvet kelas SIGMA itu adalah KRI Frans Kaisiepo 368. Selain itu Pada tanggal 19 Desember 2016, foto Frans Kaisiepo diabadikan pada uang kertas Rupiah baru, pecahan sepuluh ribu rupiah.

Tags biografi sejarah pahlawan tokoh
Referensi:
  1. Buku "Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa", Didi Junaedi, 2014
  2. Celebesonline
  3. Pahlawancenter






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0