wikipedia

Andi Djemma, Raja Luwu Pendukung Kemerdekaan Republik Indonesia

DaerahKita 20/05/2019

Andi Djemma lahir pada 15 Januari 1901 di Palopo, Sulawesi Selatan. Ibunya bernama Andi Kombo, pemimpin Kerajaan Luwu. Pada 1906, Belanda berhasil menaklukkan kerajaan Luwu. Djemma kecil pun hanya sempat bersekolah hingga tingkat sekolah dasar. Andi Djemma memperoleh pendidikan formal di Inlandsche School (sekolah dasar lima tahun) di Palopo. Ia tamat dari sekolah ini pada tahun 1915. Sebagai seorang calon datu (raja), Andi Djemma belajar tentang pemerintahan dari sang ibu dan para pejabat istana.



Pada 1919 hingga 1923, Andi Djemma memegang jabatan Sulewatang (setingkat wedana) di Kolaka. Setelah itu, beliau diminta kembali ke Palopo untuk dipersiapkan sebagai Datu. Ternyata Andi Djemma yang cerdas juga mulai mempelajari dan mengenal tentang nasionalisme. Beliau pun akhirnya dipercaya menjadi pemimpin sebuah cabang partai politik di Jawa. Hal ini tak luput dari pengawasan Belanda. Mereka takut kiprah politik Andi Djemma akan meruntuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pada 1935, Djemma naik tahta menggantikan ibunya yang telah wafat. Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, Djemma langsung mengeluarkan pernyataan, bahwa Kerajaan Luwu merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai seorang raja, Djemma juga mengijinkan pembentukan badan-badan perjuangan di Palopo, seperti Pemuda Nasional Indonesia, dan Pemuda Republik Indonesia.

andioddang
Andi Djemma sang pahlawan nasional

Pada November 1945, pasukan Australia yang mewakili negara sekutu datang ke Palopo untuk memulangkan pasukan Jepang ke negaranya. Namun, Belanda memanfaatkan kedatangan pasukan Australia dengan menentang aksi pengibaran bendera merah putih di Palopo. Hal tersebut membuat Djemma marah lalu mengultimatum Belanda untuk pergi dari daerah tersebut dalam waktu 2 X 24 jam, tapi rupanya hal itu tidak diindahkan Belanda. Maka pada tanggal 23 Januari 1946, setelah batas waktu ultimatum itu berakhir, para pemuda melancarkan serangan serentak terhadap kedudukan pasukan Belanda di kota Palopo.

Dalam pertempuran ini, pihak Australia membantu pasukan Belanda dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah Istana. Belanda juga mendatangkan pasukan bantuan dari Makassar, sehingga mereka berhasil menguasai Palopo.



Andi Djemma beserta istri dan kerabat istana mengungsi ke kampung Lamasi. Dari sini ia berpindah-pindah ke tempat lain, seperti Cappasole, Patampanua (Kolaka), dan akhirnya, pada tanggal 28 Februari 1946, tiba di Batuputih di hulu sungai Latou. Setelah menyeberangi Teluk Bone, tempat-tempat pengungsian itu difungsikan sebagai pusat pemerintahan. Di tempat-tempat tersebut pemerintahan tetap dijalankan dan kekuatan perjuangan semakin disempurnakan. Pada tanggal 1 Maret 1946 semua organisasi kelaskaran di Luwu disatukan menjadi Pembela Keamanan Rakyat (PKR) Luwu.

Pada Mei 1946, Belanda berhasil memasuki wilayah Benteng Batuputih melalui jalan belakang yang sulit ditembus. Akhirnya, Andi Djemma bersama keluarga dan para pejabat pemerintah Luwu ditahan oleh Belanda. Dari Batuputih, Andi Djemma dibawa Belanda ke Kolaka. Dari sini dipindahkan ke Palopo, dan pada tanggal 6 Juni 1946 dibawa ke Makassar. Ia ditempatkan di tangsi polisi di Jongaya. Dari Jongaya di pindahkan lagi ke Bantaeng, kemudian ke Pulau Selayar. Selanjutnya Andi Djemma diasingkan ke Ternate pada 3 Juli 1948.



Andi Djemma dibebaskan setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Pada 1950, Andi Djemma dipercaya kembali memangku jabatan sebagai kepala pemerintahan swapraja Luwu oleh Presiden Republik Indonesia. Beliau mengabdikan hidupnya sebagai seorang pemimpin yang selalu setia kepada rakyat dan negaranya. Andi Djemma mendapat piagam penghargaan dari Kementerian Pertahanan pada tahun 1960 dan Satyalancana Karya Tingkat II pada tahun 1964 dari pemerintah Republik Indonesia.

Andi Djemma wafat pada 23 Februari 1965 di Makassar dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Penaikang. Pada 6 November 2002, berdasarkan Keppres No. 073/TK/2002, pemerintah menobatkan Andi Djemma sebagai pahlawan nasional. Kerajaan Luwu memberi gelar adat kepada Andi Djemma sebagai berikut : “Andi Djemma Lapatiware Opu Tomappeme – Ne Wara – Wara – E – Petta Matinroe Ri Kemerdekaannya” yang mengandung arti Baginda yang mangkat dalam alam kemerdekaannya.

Berdasarkan Peraturan Walikota, pada tahun 2017, nama Andi Djemma resmi digunakan sebagai nama baru untuk Jalan Landak Baru di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Tags sejarah biografi edukasi
Referensi: Dari berbagai sumber





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0