budayalokal

Rumah Bale, Tempat Tinggal Tradisional Suku Sasak di Lombok

DaerahKita 01/02/2021

Masyarakat Sasak merupakan suku asli yang mendiami Pulau Lombok, di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak ini memiliki kebudayaan yang kaya. Salah satunya terkait berbagai bentuk tempat tinggal mereka. Di kalangan masyarakat adat ini, rumah tradisonal mereka secara umum disebut dengan "bale". Terdapat berbagai macam bale dengan berbagai ciri khasnya masing-masing sebagai bukti kekayaan budaya Suku Sasak. Rumah adat Suku Sasak itu bisa ditemui di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

1. Bale Lumbung

Bale lumbung menjadi semacam ikon rumah adat suku sasak dari pulau Lombok. Hal ini disebabkan bentuknya yang sangat unik dan menarik yaitu berupa rumah panggung dengan ujung atap yang runcing kemudian melebar sedikit lalu lurus ke bawah dan bagian bawahnya melebar kembali dengan jarak atap 1,5 - 2,0 meter dari tanah dan diameter 1,5 – 3,0 meter.

Atap rumah Bale Lumbung dibuat dari jerami kering yang disusun serapat mungkin agar tidak bisa ditembus air hujan dan panas, dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bedek), dan lantainya menggunakan papan kayu. Bale lumbung ini disangga oleh empat tiang yang terbuat dari tanah dan batu sebagai fondasi. Bagian atap dari bale lumbung merupakan suatu ruangan yang digunakan untuk menaruh padi hasil dari beberapa kepala keluarga. Bentuknya berupa rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari hasil panen rusak akibat banjir dan serangan tikus.

Uniknya meskipun rumah ini terlihat kecil mungil dari luar, tapi bagian dalamnya jauh lebih lega. Rumah ini terdiri dari 2 lantai, penghuni bisa memasak di lantai pertama dan istirahat di lantai kedua.

2. Bale Jajar

Rumah juga memiliki arti status sosial ekonomi penghuninya. Bale jajar merupakan tempat hunian suku sasak dengan ekonomi menengah ke atas. Bentuknya serupa dengan Bale Tani, perbedaannya terletak pada ruang Dalem Bale yang lebih banyak. Bale Jajar memiliki dua Dalem Bale dan satu serambi (sesangkok) dan ditandai dengan adanya sambi yaitu tempat penyimpanan bahan makanan dan keperluan rumah tangga. Pada bagian depan Bale Jajar terdapat bangunan sekepat dan pada bagian belakangnya terdapat bangunan sekenam yang akan dijelaskan lebih lanjut di bagian berikutnya.

3. Berugaq Sekepat

Berugaq sekepat memiliki bentuk seperti saung, yaitu berupa panggung tanpa dinding, beratap alang–alang dan ditopang oleh empat tiang bambu membentuk segi empat. Lantai terbuat dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dan tingginya 40–50 cm dari tanah dan terletak di bagian depan Bale Jajar.

Sekepat ini biasa digunakan untuk menerima tamu karena tradisi sasak tidak menerima sembarang orang ke dalam rumah. Bila pemilik rumah memiliki anak perempuan, sekepat dapat digunakan untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar). Selain itu juga digunakan untuk berkumpul dan beristirahat setelah kerja di sawah.

4. Berugaq Sekenam

Sekenam memiliki bentuk yang serupa dengan berugaq sekepat, perbedaannya terletak dari jumlah tiangnya yaitu sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

5. Bale Tani

Rumah adat Sasak yang disebut dengan Bale Tani mempunyai lantai yang unik. Bahannya terbuat dari kombinasi antara tanah liat, batu bata, abu jerami, getah pohon dan kotoran sapi atau kerbau. Campuran tanah liat dan kotoran ternak membuat lantai tanah mengeras. Selain itu lantai dengan lapisan kotoran ternak dapat menjaga agar lantai tidak retak, rumah menjadi lebih hangat, dan mengusir nyamuk. Agar tidak timbul aroma tak sedap, kotoran ternak sudah dibakar dan dihaluskan terlebih dahulu sebelum digunakan.

Bale Tani memiliki beberapa ruangan. Bale Luar atau disebut juga Sesangkok (serambi) yang digunakan sebagai tempat menerima tamu dan kamar tidur dan Bale Dalam yang terbagi lagi menjadi Dalem Bale (kamar) dan Pawon (dapur). Dalem Bale ini khusus digunakan oleh anggota keluarga perempuan, diantaranya tempat menaruh harta berharga, ruang tidur anak gadis, ruang persalinan, dan ruang menaruh jenazah sebelum dikuburkan. Pada dapur terdapat dua tungku untuk memasak yang menempel pada lantai dan sempare yaitu wadah untuk menaruh bahan pangan dan peralatan dapur yang terbuat dari bambu.

Dalem Bale berada di atas Luar Bale sehingga untuk mencapai Dalem Bale terdapat tiga anak tangga. Tiga anak tangga ini memiliki arti Wetu Telu yaitu kepercayaan tiga waktu oleh suku sasak yang terdiri dari lahir, tumbuh dan mati. Saat awal Islam memasuki Pulau Lombok, suku sasak melakukan sholat sesuai adat Wetu Telu yaitu sholat tiga waktu. Namun saat ini warga Sade telah menunaikan sholat lima waktu atau Wetu Lima yang ditandai dengan tambahan dua tangga pada bagian muka Bale Luar di Bale Tani. Setelah melewati tangga teratas terdapat satu pintu masuk untuk memasuki ruang Bale Dalem, cara membuka pintu adalah dengan cara digeser yang disebut Lawang Kuri.

6. Bale Bonder

Rumah adat Bale Bonder atau disebut juga Gedeng Pengukuhan memiliki design segi empat bujur sangkar dan ditopang oleh tiang dengan jumlah minimum 9 tiang dan maksimum 18 tiang. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan bagian dalamnya seperti ruang serbaguna. Atapnya tidak memakai nok atau talang jurai, namun ujung atapnya menggunakan penutup berbentuk kopyah berwarna hitam.

Bale Bonder biasanya dihuni oleh pejabat desa atau dusun dan terletak di tengah pemukiman. Fungsinya yaitu sebagai tempat persidangan adat, seperti tempat diselesaikannya kasus pelanggaran hukum adat. Selain itu Bale Bonder digunakan sebagai tempat menaruh benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga.

7. Bale Beleq Bencingah

Bale Beleq Bencingah biasa digunakan pada masa kerajaan dahulu. Fungsinya yaitu sebagai tempat acara-acara penting kerajaan, diantaranya pelantikan pejabat kerajaan, pengukuhan putra mahkota kerajaan dan para Kiai penghulu kerajaan, tempat penyimpanan benda pusaka kerajaan, dan sebagainya. Bale ini juga dijadikan sebagai tempat suci.

8. Bale Tajuk

Bale tajuk memiliki bentuk segi lima dan ditopang oleh lima tiang . Bale Tajuk adalah sarana pendukung bagi rumah yang memiliki keluarga besar. Tempat ini digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

9. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

Bale Gunung Rate dan bale Balaq merupakan jenis hunian yang didirikan pada daerah dengan kondisi geografis khusus. Bale Gunung Rate didirikan oleh warga yang bermukim di lereng pegunungan sedangkan bale Balaq didirikan berupa rumah panggung untuk menghindari bencana banjir.

10. Bale Kodong

Bale Kodong memiliki ukuran yang sangat kecil dan rendah, tingginya kira-kira seukuran orang dewasa. Bale ini umumnya digunakan oleh para pengantin baru atau orang lanjut usia yang tinggal bersama cucu-cucunya yang masih kecil.

Tags rumah adat seni budaya tradisi arsitektur edukasi wisata
Referensi:
  1. www.arsitur.com
  2. ruangarsitek.id
  3. Dari sumber lainnya






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0