wahyumedia

Lutung Kasarung, Cerita Rakyat Jawa Barat

DaerahKita 29/01/2021

Alkisah, di sebuah kerajaan di Jawa Barat, hiduplah seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Ia memiliki dua orang putri, si sulung bernama Purbararang dan si bungsu bernama Purbasari. Keduanya sama-sama cantik. Tapi, sifat mereka jauh berbeda. Purbararang memiliki sifat iri hati dan serakah, sedangkan Purbasari memiliki sifat pemaaf dan bijaksana.

Ketika tiba waktunya Prabu Tapa turun tahta, ia menunjuk putri bungsunya, Purbasari, untuk menggantikan kedudukannya. Hal itu membuat si sulung, Purbararang, merasa iri. "Bagaimana mungkin Purbasari yang menjadi pengganti ayahanda? Dia hanyalah anak bungsu. Seharusnya, akulah yang lebih berhak menggantikan ayahanda untuk naik tahta," ucapnya kepada Indrajaya, tunangannya.

Rasa iri membuat Purbararang kehilangan akal sehatnya. Dengan cara licik ia mencoba mencelakai Purbasari. Akhirnya, Purbararang menemui seorang tukang sihir yang dikenal sangat sakti. "Nenek, tolong bantu aku mendapatkan tahta kerajaan. Aku percaya engkau dapat membantuku. Aku akan membayarmu dengan mahal," ucap Purbararang. "Hamba akan membantu sebisa hamba," ucap si nenek sihir.

Saat malam tiba, si nenek sihir mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk mengirimkan ilmu hitam kepada Purbasari. Ia mengucapkan mantra-mantra untuk mencelakai Purbasari.

Keesokan harinya, Purbasari mendapatkan tubuhnya sudah bertotol-totol hitam. Ia sama sekali tidak mengetahui mengapa kulitnya berubah tiba-tiba. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa kulitku berubah seperti ini?" tutur Purbasari panik.

Ketika mengetahui kejadian yang menimpa adiknya, betapa bahagianya hati Purbararang. "Ternyata nenek sihir itu benar-benar sakti. Ha...ha...ha..."

"Ayahanda, Purbasari pasti terkena kutukan. Bagaimana mungkin orang yang terkena kutukan seperti dia bisa menjadi seorang ratu," hasut Purbararang. Sang ayah, Prabu Tapa, tidak dapat berbuat apa-apa.

Kemudian, Purbararang mengutus seorang patih untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Betapa sedihnya hati Purbasari harus berpisah dengan keluarga, istana, dan rakyatnya. Ia terpaksa menuruti keinginan kakaknya untuk diasingkan karena dirinya terkena kutukan.

"Apa yang telah kuperbuat sehingga aku terkena kutukan seperti ini?" rintih Purbasari dalam hari.

Akhirnya, setelah beberapa lama menempuh perjalanan yang cukup jauh meninggalkan negerinya, Purbasari dan patih tiba di hutan. Di dalam hutan, Purbasari dibuatkan sebuah pondok yang terbuat dari akar-akar pohon dan dedaunan oleh sang patih yang baik hati. Setelah selesai membuatkan pondok kecil, patih berpamitan untuk kembali ke istana.

"Tuan Putri, tabahlah menghadapi cobaan ini. Kebenaran pasti akan terungkap. Jaga diri dengan baik-baik. Hamba mohon diri," ujar patih.

"Terima kasih atas kebaikanmu Paman Patih," kata Purbasari.

Sang patih kemudian menaiki kudanya dan kembali ke istana. Purbasari hanya bisa memandangi sang patih sampai sosoknya menghilang di kejauhan. Kini, ia hanya seorang diri di dalam hutan belantara.

Berhari-hari sudah tinggal di dalam hutan membuat dirinya terbiasa dengan keadaan hutan yang berhawa dingin maupun suara binatang-binatang buas yang terdengar sampai ke pondoknya. Ia mulai berteman dengan hewan-hewan penghuni hutan yang datang ke pondoknya. Namun, ada seekor kera berbulu hitam yang selalu baik kepadanya. Kera ini selalu membawakan buah-buahan yang dipetik dari pohon-pohon hutan untuk dirinya.

Selain itu, sang kera juga sering membawakan beberapa tangkai bunga untuk Purbasari. Kera hitam itu bernama Lutung Kasarung. Betapa bahagianya hati Purbasari berteman dengan hewan-hewan di hutan. Apalagi ia mendapatkan teman yang setia seperti Lutung Kasarung.

Suatu hari, saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia pergi ke tempat yang sepi untuk bertapa. Hal ini menandakan bahwa Lutung Kasarung bukanlah kera biasa. Entah apa yang diminta Lutung Kasarung kepada Dewata dalam tapanya. Tiba-tiba saja tanah di dekat tempatnya bertapa berubah menjadi sebuah telaga kecil yang berair jernih. Air telaga itu mengandung obat yang berbau harum.

Esok paginya, Lutung Kasarung menemui Purbasari. Ia menarik-narik tangan Purbasari. Purbasari sangat bingung apa maksud kera itu. Ternyata, Lutung Kasarung membawanya ke sebuah telaga yang berbau harum.

"Mengapa aku baru mengetahui ada telaga berbau harum di sekitar sini ya? Ah, sudahlah, Tapi sepertinya aku ingin sekali mandi di telaga ini. Lutung Kasarung pun hanya berjingkrak-jingkrak tanda setuju.

Purbasari kemudian masuk ke dalam telaga itu dan berendam. Ia menggosok-gosok tubuhnya dengan air telaga itu.

Ajaib. Totol-totol di tubuh Purbasari tiba-tiba saja menghilang. Kecantikannya telah kembali. Betapa bahagianya Purbasari ketika ia bercermin di air telaga. "Lutung, lihatlah! Kulit tubuhku sudah kembali seperti semula. Aku sudah bebas dari kutukan,I Ini semua berkat dirimu yang telah menemukan telaga ini. Terima kasih Dewata Agung. Terima kasih Lutung," ucap Purbasari.

Purbasari menari-nari bahagia dan seakan tidak percaya tubuhnya mulus seperti semula dan wajahnya kembali terlihat cantik. Berkali-kali ia berkaca di air telaga untuk meyakinkan diri.

Suatu hari, Purbararang datang ke hutan. Ia ingin memastikan bahwa adiknya masih tinggal di hutan dengan kulitnya yang buruk. Purbararang pergi bersama tunangannya bernama Indrajaya dan para pengawal.

Saat tiba di hutan dan bertemu dengan Purbasari, ia terkejut melihat adiknya telah kembali cantik seperti semula. "Ah, apa yang terjadi? Mengapa tubuhmu sudah kembali seperti semula? tanya Purbararang tidak percaya.

"Ini semua berkat si Lutung, Kak. Dia menunjukkan kepadaku tempat telaga yang ternyata mengandung obat mujarab untukku. Berarti aku bisa ke istana berkumpul kembali bersama kalian," jawab Purbasari bahagia.

"Tidak. Jika kau ingin kembali, kita harus beradu panjang rambut. Siapa yang memiliki rambut paling panjang, dialah yang akan kembali ke istana," tantang Purbararang.

Kemudian, Purbararang dan Purbasari melepas ikatan sanggul mereka. Keduanya memiliki rambut yang sangat panjang dan indah. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang dibandingkan rambut Purbararang. Purbararang pun mengaku kalah. Tapi, ia tetap tidak mau kehilangan muka. Akhirnya Purbararang satu syarat lagi kepada Purbasari.

"Baiklah, untuk hal ini aku mengaku kalah. Tapi kita harus bertanding lagi. Siapa yang memiliki tunangan paling tampan, dialah yang menang," tantang Purbararang.

Indrajaya, tunangan Purbararang, memang sangatlah tampan. Purbasari sangat bingung untuk menjawab tantangan Purbararang. Jangankan tunangan, kekasih saja ia tidak punya. Purbasari tidak tahu harus berkata apa. Ketika itu, sang kera Lutung Kasarunglah yang berada di sampingnya. Lutung Kasarung terus meloncat-loncat. Akhirnya, tanpa berpikir panjang Purbasari berkata," Ini adalah tunanganku."

Mendengar jawaban sang adik, Purbararang tertawa geli. "Apa kau bercanda? Kera jelek itu adalah tunanganmu? Ha...ha...ha...Mana mungkin seekor kera seperti dia dapat mengalahkan tunanganku yang tampan ini," ucap Purbararang mengejek.

Setelah mendengar ejekan Purbararang, si kera segera bersemedi. Tiba-tiba, muncul gumpalan asap putih di sekeliling tubuh si kera. Ajaib. Tidak disangka-sangka si kera berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Ia berpakaian sangat indah layaknya seorang pangeran. Ketampanannya melebihi Indrajaya, tunangan Purbararang.

Purbararang saat itu benar-benar terkejut. Ia tidak mengetahui harus berbuat apa lagi. Berkali-kali Purbararang mengajukan syarat kepada Purbasari, berkali-kali pula ia kalah. Akhirnya, ia menyadari segala kesalahannya. Ia pun meminta maaf kepada Purbasari atas semua kesalahan yang telah dilakukannya.

"Maafkan aku Purbasari. Aku memang telah berbuat salah padamu. Aku jugalah yang telah membuatmu seolah-olah terkena kutukan. Tolong maafkan aku. Jangan hukum aku," ucap Purbararang memohon.

Purbasari yang baik hati memaafkan kesalahan kakaknya. Ia tidak merasa dendam kepada Purbararang yang telah berbuat jahat kepadanya. Kemudian, mereka saling berpelukan.

Setelah itu, mereka semua kembali ke istana berikut sang Lutung Kasarung yang telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Setibanya di istana, Purbasari diangkat menjadi ratu di kerajaan itu. Purbasari pun menikah dengan pemuda tampan yang semula berwujud kera dan telah menemaninya selama tinggal di hutan. Keadaan kerajaan kembali damai dan tenteram. Purbasari dan suaminya hidup bahagia selama-lamanya.

Pesan Moral:
Kisah ini membuktikan kepada kita bahwa kebenaran pasti akan terungkap kalau kita mau bersabar. Dan dengan kebaikan pasti kita akan menang. Kejahatan tidak akan pernah menang sampai kapan pun.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
    Oleh: Sumbi Sambangsari
    Penerbit: Wahyumedia






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0