inspir451ku

Si Lebai Malang - Cerita Rakyat Sumatera Barat

DaerahKita 20/05/2019

Alkisah, di tepian sungai di daerah Sumatera Barat hiduplah seorang guru agama yang bernama Lebai. Karena profesinya itu, ia sangat dikenal di seluruh kampung yang berada di hulu sampai hilir sungai tersebut. Suatu hari, Lebai mendapatkan sebuah undangan pesta pernikahan anak salah seorang kenalannya yang berada di hulu sungai. Ia pun membaca isi undangan tersebut satu-persatu. Tidak berapa lama, datanglah tetangganya.



"Pak Lebai, besok sore ada undangan pernikahan salah seorang anak didik Bapak Lebai. Rumahnya ada di hilir sungai. Ia berpesan agar Pak Lebai bisa hadir di acaranya tersebut," ucap salah seorang tetangganya.

"Baiklah. Jika aku tidak berhalangan, aku akan datang," jawab Pak Lebai.

Tetangga itu pun pergi setelah menyampaikan pesan. Tapi, Pak Lebai teringat akan undangan yang ia dapatkan sebelumnya. Ternyata, kedua undangan tersebut waktunya bersamaan. Hanya, rumah kedua undangan berjauhan. Undangan pertama letaknya ada di hulu sungai, sedangkan undangan kedua letaknya dihilir sungai. Pak Lebai sangat bingung, undangan mana yang akan ia hadiri.

Keesokan hari, Pak Lebai masih belum dapat memutuskan undangan mana yang hendak ia hadiri. Menurut kabar dari tetangganya, pesta yang diadakan di hulu akan memotong dua ekor kerbau. Kedua kepala kerbau itu akan diberikan kepada Pak Lebai. Meskipun demikian, menurut kabar yang ia terima, masakan di tempat tersebut kurang enak.



Pak Lebai sangat bingung. Ia juga berpikir bahwa ia kurang akrab dengan tuan rumah yang berada di hulu.

Pak Lebai juga mempertimbangkan tentang pesta yang diadakan di hilir. Menurut kabar, pesta itu hanya akan menyembelih satu ekor kerbau. Jika Pak Lebai datang ke pesta, ia akan mendapat satu kepala kerbau saja. Namun, menurut kabar pula, masakan di hilir sangat enak. Selain itu, Pak Lebai juga kenal baik dengan si tuan rumah. Pastinya si tuan rumah akan membawakan ia kue-kue yang sangat enak.

Menjelang sore, Pak Lebai masih belum memutuskan kemana ia akan datang. Ia pun pergi ke sungai mengayuh perahunya. Dengan perasaan yang masih bimbang, ia mangayuh perahunya ke arah hulu. pak Lebai masih berpikir bahwa disana ia akan mendapat dua kepala kerbau.

Di tengah perjalanan, ia mengubah haluannya. Ia mengayuh perahunya berbalik arah menuju hilir. Pak Lebai berpikir, jika ia ke hilir, ia akan memakan masakan yang sangat enak dan mendapatkan kue-kue yang enak, meskipun hanya mendapatkan satu kepala kerbau. Pak Lebai dengan mantap mengayuh perahunya menuju hilir. Ia pun semakin dekat dengan tempat pesta. Tapi, Pak Lebai kemudian berpapasan dengan beberapa orang tetangganya.

"Pak Lebai apa kau hendak ke hilir? Aku baru saja menghadiri pesta disana. Tapi ternyata, kerbau yang disembelih sangat kurus. Kami akan pergi ke hulu," ucap tetangganya.



Mendengar hal itu, Pak Lebai mengurungkan niatnya untuk datang ke pesta yang berada di hilir. Ia mengikuti tetangganya pergi ke pesta yang berada di hulu. Tapi malang benar nasib Pak Lebai. Sesampainya di hulu, pesta yang diadakan telah usai. Makanan-makanan yang dihidangkan di pesta telah habis oleh para tamu yang lain. Betapa kecewanya Pak Lebai. Jangankan mengharapkan dua kepala kerbau, sedikit makanan pun tidak ia dapatkan di pesta itu.

Dengan rasa kecewa, Pak Lebai kemudian pergi ke hulu. Ia berharapkan akan mendapatkan satu kepala kerbau meskipun sangat kurus dan makanan yang enak-enak. Pak Lebai pun mengayuh dengan cepat perahunya. Hari semakin gelap, akhirnya tibalah ia dihulu. Tapi apa yang terjadi, pesta di hulu pun telah selesai. Tidak seorang pun tamu undangan yang terlihat. Betapa malangnya Pak Lebai, ia telah kehabisan makanan di pesta itu. Tidak sedikit pun makanan yang dapat ia nikmati.

Kini, Pak Lebai pulang dengan tangan hampa. Harapannya untuk mendapatkan makanan yang lezat dan kepala kerbau menjadi sia-sia. Akhirnya, ia memakan makanan seadanya yang ada di rumahnya.

Keesokan harinya, perutnya masih terasa lapar. Semalam, ia hanya makan sedikit karena lauk yang ada sudah habis. Sementara itu, untuk lauk makan pagi, ia berencana untuk berburu dan memancing. Ia juga membawa bekal sebungkus nasi. Tidak lupa ia membawa anjing miliknya sebagai teman berburu.

Mulailah Pak Lebai mengawali kegiatannya dengan memancing. Ia pun pergi ke tepi sungai. Setelah sampai, ia lemparkan kailnya ke sungai.

Sekian lama ia menunggu, akhirnya kailnya bergerak juga. "Wah, akhirnya ada ikan yang memakan umpanku. Kebetulan sekali aku sudah sangat lapar," ucapnya dalam hati.

Tapi, ketika hendak menarik pancingnya, ia merasakan kailnya tersangkut di batu. Tanpa berpikir panjang ia pun terjun ke dalam sungai. Benar saja, kailnya tersangkut di sela-sela batu besar di dalam sungai. Di sana, ia melihat seekor ikan yang lumayan besar tersangkut di kailnya. Dengan susah payah ia berhasil mengeluarkan kail dan ikannya dari sela-sela batu. Ketika hendak mengambil ikan yang memakan umpannya, tiba-tiba saja ikan itu meronta-ronta sehingga tubuhnya yang licin sulit dipegang olek Pak Lebai. Ikan itu kemudian lepas dan berenang dengan cepat.

Dengan rasa kecewa, ia kemudian naik ke darat. Namun, betapa terkejutnya Pak Lebai ketika melihat bungkusan nasi yang dibawanya telah terkoyak-koyak. Rupanya anjing yang dibawa sebagai teman berburu telah memakan nasi yang dibawanya. Benar-benar malang nasib Pak Lebai. Sejak saat itu, ia mendapat julukan si Lebai Malang.

Tags
Referensi: Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0