wahyumedia

Situ Bagendit, Cerita Rakyat Jawa Barat

DaerahKita 18/12/2020

Di sebuah desa yang subur di sebelah utara Kota Garut, hiduplah seorang janda kaya raya dengan harta yang berlimpah. Wanita itu bernama Nyi Endit. Di seluruh desa, ia paling ditakuti. Dengan kekayaannya ia dapat berbuat apa pun sesuai keinginannya.

Banyak penduduk desa yang meminjam uang kepada Nyi Endit meskipun harus membayar utangnya dengan bunga yang sangat tinggi. Nyi Endit juga memiliki pengawal pribadi ataupun para tukang pukul untuk menagih utang-utang dari penduduk dengan paksa. Jika salah seorang penduduk tidak mampu membayar utang berikut bunganya tepat pada waktunya, Nyi Endit dengan mudah menyuruh para pengawalnya untuk melakukan tindak kekerasan.

Jika musim panen tiba, betapa melimpahnya hasil panen di rumah Nyi Endit. Suatu hari, musim paceklik tiba. Para penduduk yang hidup dari bertani mengalami kesulitan. Panen mereka banyak yang gagal. Kelaparan pun melanda sehingga banyak penduduk yang mengalami penyakit busung lapar.

Keadaan tersebut sangat jauh berbeda dengan keadaan Nyi Endit. Saat penduduk kesulitan bahan pangan, Nyi Endit justru berpesta pora bersama sanak keluarga, kerabat, dan para tamunya. Sedikit pun Nyi Endit tidak berbagi dengan penduduk yang kelaparan.

"Teman-teman dan saudara-saudaraku, makan dan minumlah kalian sepuasnya. Kalian tidak akan merasakan penderitaan seperti yang di luar sana karena hasil panenku sangat melimpah," ucap Nyi Endit.

Pesta yang digelar Nyi Endit sangat meriah, sedangkan di luar tempat tinggalnya yang mewah, para penduduk mengais-ngais tempat sampah demi mendapatkan makanan. Di tengah-tengah pesta yang sedang berlangsung, tiba-tiba pengawal Nyi Endit datang melapor. "Maaf Nyi, di luar ada pengemis yang memaksa masuk dan membuat keributan. Sepertinya ia ingin meminta sedekah," ucap pengawal Nyi Endit.

"Kurang ajar. Berani-beraninya dia mengganggu pestaku. Cepat usir dia! Aku tidak mau pestaku rusak dibuatnya," perintah Nyi Endit kepada pengawalnya dengan geram.

Namun, tanpa diduga pengemis itu berhasil masuk ke halaman rumah Nyi Endit. "Nyi Endit, kau benar-benar kejam dan serakah. Berikanlah sedikit makananmu untuk orang-orang yang kelaparan," ketus pengemis itu.

"Kurang ajar. Berani-beraninya kau berkata begitu hai Pengemis. Cepat kalian usir dia dari tempatku!" teriak Nyi Endit marah.

Dengan sigap, para pengawal Nyi Endit bergerak untuk memukuli pengemis itu. Tapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Entah berasal dari mana pengemis itu, para pengawal Nyi Endit terlempar beberapa meter hanya dengan sekali gebrakan. Tampaknya, pengemis itu bukanlah orang sembarangan, dia adalah orang yang sakti. Semua tamu Nyi Endit yang hadir kala itu, tertegun melihat kesaktian sang Pengemis.

"Baiklah, Nyi Endit, jika kau tidak mau berbagi dengan orang lain yang sedang kesulitan, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," kata sang pengemis.

Pengemis itu kemudian mengambil sebatang ranting pohon. Lalu ia menancapkan ranting tersebut ke tanah.

"Lihat batang ranting pohon ini! Jika kau bisa mencabutnya, kau termasuk orang-orang yang paling mulia di dunia. Jika kau tidak mampu, kau bisa mewakilkannya kepada orang lain," seru si pengemis kepada Nyi Endit.

Melihat batang ranting itu, Nyi Endit dengan enteng dan rasa penasaran menyuruh pengawalnya untuk mencabut batang ranting pohon tersebut. Tapi tidak disangka, pengawalnya yang berbadan kekar dan berotot itu tidak mampu mencabut batang ranting itu.

Kemudian pengemis itu berkata, "Ternyata pengawalmu yang kau bayar mahal itu tidak mampu mencabut batang ranting itu Nyi Endit. Sekarang kau lihatlah, aku akan mencabut batang ranting ini dari tanah."

Benar saja, dengan mudah pengemis itu mencabut ranting pohon yang tertancap di tanah. Tiba-tiba, dari lubang bekas batang ranting yang tertancap itu keluar air yang memancar dengan deras. Sedangkan, pengemis tersebut lenyap dengan tiba-tiba. Ketika itu, hujan pun turun dengan lebat diselingi guncangan gempa bumi yang seolah-olah menelan desa itu ke dalam perut bumi. Dengan sekejap, desa Nyi Endit sudah tersendam air.

Banjir pun melanda. Kini desa itu berubah menjadi sebuah danau yang bernama Situ Bagendit. Situ yang berarti danau, sedangkan Bagendit diambil dari nama Nyi Endit. Konon di danau tersebut hidup seekor lintah yang sangat besar dan dipercaya sebagai jelmaan dari Nyi Endit sang lintah darat.

Pesan Moral:
Orang yang sombong, kikir, serakah, dan tidak mau menolong orang lain pasti akan mendaoat musibah dari Tuhan YME. Karenanya, kita harus bisa menjadi orang yang rendah hati, baik hati, dan ringan tangan dalam menolong terhadap sesama.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
    Oleh: Sumbi Sambangsari
    Penerbit: Wahyumedia






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0