Merdeka

Iswahyudi, Penerbang Perintis Angkatan Udara Indonesia di Sumatera

DaerahKita 15/12/2020

Iswahyudi lahir pada 15 Juli 1918 di Surabaya. Beliau memulai sekolahnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di tanah kelahirannya, Surabaya. Lulus dari HIS, Iswahyudi kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surabaya juga. Iswahyudi kemudian melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS), sebuah sekolah menengah di Malang.

Setelah menamatkan pendidikan AMS, Iswahyudi melanjutkan sekolah dokter di Nederlandische Indische Artsen School (NIAS) yang berada di Surabaya. Namun, Iswahyudi lebih tertarik dengan dunia penerbangan sehingga tidak menamatkan pendidikan dokternya.

Iswahyudi lalu pindah ke Militaire Luchtvaart Opleiding School, sekolah penerbangan Belanda di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Ia menyelesaikan pendidikan di sekolah penerbangan itu pada 1941, dengan predikat Klein Militaire Brevet.

Pada masa pendudukan Jepang, Iswahyudi diungsikan ke Australia oleh pemerintah Hindia Belanda. Di sana, Iswahyudi mengikuti pelatihan menerbangkan pesawat sebagai persiapan untuk mengikuti operasi-operasi udara militer Sekutu. Namun, Iswahyudi tidak ingin dirinya dilibatkan dalam operasi tersebut. Beliau pun melarikan diri, pulang ke Indonesia menggunakan perahu karet pada tahun 1943.

Pada masa proklamasi kemerdekaan, Iswahyudi bersama para pemuda Surabaya mengambil alih kantor-kantor pemerintah dari tangan Jepang. Iswahyudi memimpin para pemuda memasang bendera merah putih di Kantor Jawatan Kereta Api. Pada Desember 1945, Iswahyudi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan di Yogyakarta, dan diangkat sebagai pembantu utama Adisucipto karena kepandaiannya.

Beberapa waktu lamanya, ia ditempatkan di Yogyakarta. Setelah itu, diserahi jabatan sebagai komandan Pangkalan Udara Gadut, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Bersama Abdul Halim Perdanakusuma, ia bertugas pula membentuk dan menyusun organisasi Angkatan Udara RI di Sumatera. Ia juga mendapat tugas khusus untuk menyelenggarakan hubungan udara dengan luar negeri.

Pada 14 Desember 1947, Iswahyudi bersama Halim Perdanakusuma ditugaskan terbang ke Bangkok, Thailand dengan pesawat Avro Anson bernomor registrasi RI-003. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, saat pesawat sedang melintas di atas Negara Bagian Perak, Semenjung Malaya (sekarang Malaysia). Cuaca buruk menghadang dan jarak pandang sangat pendek. Akhirnya pesawat jatuh di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Keesokan harinya upaya pencarian dilakukan. Jenazah Halim Perdanakusuma berhasil ditemukan untuk kemudian dimakamkan di daerah setempat dan beberapa tahun kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. Sementara itu nasib Iswahyudi tetap tidak diketahui. Tapi ia dikenang karena kepandaian dan keberaniannya sebagai penerbang di masa perjuangan kemerdekaan.

Pada 9 Agustus 1975, berdasarkan Keppres No.63/TK/1975, pemerintah menobatkan Marsekal Udara (anumerta) Iswahyudi sebagai pahlawan nasional. Nama beliau diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) di Maospati, Magetan, Jawa Timur.

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh nasionalis pejuang biografi
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. www.tribunnewswiki.com
  3. daerah.sindonews.com






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0