wahyumedia

Anak Sakti dan Daerah Singaraja, Cerita Rakyat Bali

DaerahKita 09/12/2020

Sri Sagening adalah seorang raja yang berkuasa di wilayah Klungkung, Bali. Raja ini memiliki banyak istri. Ni Luh Pasek adalah istri Sri Sagening yang terakhir yang merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg yang berasal dari Desa Panji. Semula, Ni Luh Pasek hidup berbahagia dengan Sri Sagening, namun semakin lama kehidupan Ni Luh tidak menentu. Ia seperti dibuang oleh suaminya. Ketika Ni Luh mengandung, ia dinikahkan oleh suaminya dengan Kyai Jelantik Bogol. Ni Luh sangat kecewa dengan sikap Sri Sagening yang telah membuangnya secara halus.

Meskipun sangat sedih, Kyai Jelantik Bogol selalu menghiburnya. Kyai Jelantik Bogol sangat menyayangi Ni Luh Pasek. Kehidupan Ni Luh Pasek pun berubah menjadi penuh kebahagiaan. Ditambah lagi ketika tiba waktunya ia melahirkan putra pertama. Anak laki-laki itu diberi nama I Gusti Gede Pasekan.

Semakin hari, bayi mungil itu tumbuh menjadi besar. Anak itu memiliki budi pekerti yang baik dan menjadi anak yang cerdas. Tidak heran jika I Gusti Gede Pasekan sangat dicintai semua orang.

Ketika I Gusti Gede Pasekan menginjak dewasa, ia sangat dihormati dan mempunyai wibawa sebagai seorang pemimpin di kota Gelgel. Kyai Jelantik Bogol sangat sayang kepada anaknya meskipun hanya seorang anak tiri.

Suatu hari, ketika putra tercintanya berusia dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol meminta anaknya untuk pergi ke daerah Panji. "Anakku, kemarilah sebentar," panggil Kyai Jelantik Bogol.

"Ada apa gerangan Ayah memanggilku?" tanya I Gusti Gede Pasekan.

"Usiamu telah dewasa. Kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri. Esok, pergilah kau ke Den Bukit di daerah Panji."

"Mengapa aku harus kesana, Ayah?"

"Desa itu adalah tempat kelahiran ibumu, Nak. Pergilah kau ke sana! Semoga kau selamat sampai tujuan," perintah Kyai Jelantik Bogol.

Keesokan hari, pergilah I Gusti Gede Pasekan menunaikan perintah ayahnya. Ia membawa empat puluh orang pengawalnya di bawah pimpinan Ki Dumping dan Ki Kasodot. Selain itu, ia juga membawa dua buah benda pusaka pemberian Kyai Jelantik Bogol, yaitu sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutut dan sebilah keris bernama Ki Baru Semang.

Berbagai rintangan mereka hadapi selama perjalanan. Tidak terasa sudah empat hari mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Saat tiba di daerah Batu Menyan, rombongan I Gusti Gede Pasekan bermalam. Para pengawalnya secara bergantian menjaga I Gusti Gede Gede Pasekan dan ibunya dengan ketat.

Meskipun tempat bermalam mereka dijaga dengan ketat, tapi makhluk gaib penghuni hutan tetap saja dapat masuk dengan mudah. Makhluk gaib itu mengajak I Gusti Gede Pasekan untuk melihat pemandangan dari atas langit. Tanpa ragu, I Gusti Gede Pasekan naik ke pundak makhluk gaib itu. Ia pun dibawa terbang.

Betapa takjubnya ia melihat pemandangan indah pada malam hari. Lautan dan daratan dapat dilihatnya dengan jelas. Ketika pandangannya beralih ke arah timur dan barat laut, ia dapat melihat dengan jelas pulau-pulau yang jaraknya sangat jauh. Dan ketika menuju ke arah selatan, ia melihat gunung yang menjulang tinggi.

Akhirnya, setelah makhluk gaib itu lenyap, I Gusti Gede Pasekan seolah-olah mendengar bisikan. "Barusan kau melihat pemandangan yang sangat indah. Dan wilayah yang kau lihat tadi suatu hari akan menjadi daerah kekuasaanmu."

Suara gaib itu membuatnya terkejut. "Daerah kekuasaan? Apa maksudnya?" tanyanya dalam hati. Meskipun demikian, ia merasa senang jika yang dikatakan suara gaib ibu benar. Itu artinya ia akan mendapat kedudukan yang mulia dengan kekuasaan yang cukup luas.

Saat pagi datang, ia segera menceritakan apa yang dialaminya semalam kepada ibunya. Sang ibu hanya memberi nasihat kepada anaknya agar selalu berusaha untuk dapat mencapai apa yang diinginkan.

Perjalanan ke daerah Panji kembali dilanjutkan. Semakin hari rintangan yang dihadapi semakin berat. Namun, hal itu bukanlah sebuah halangan untuk sampai ke daerah tujuan. I Gusti Gede Pasekan dan rombongannya akhirnya tiba dengan selamat di daerah Panji.

Suatu hari, sebuah perahu Bugis terdampar di pantai Panimbangan. Berbagai cara telah dicoba sang nahkoda dan beberapa anak buahnya, namun tetap tidak membuahkan hasil. Sang nahkoda pun meminta bantuan para nelayan untuk mendorong perahunya, tapi tetap saja gagal. Sang nahkoda menjadi putus asa. Tapi, tiba-tiba saja kepala kampung di daerah itu menghampirinya dan memberi saran.

"Tuan, hanya ada satu orang yang dapat membebaskan perahu Tuan yang kandas," ucap si kepala kampung.

"Benarkah? Siapa orang itu? Aku akan menemui dan meminta bantuannya," tanya sang nahkoda.

"Ia adalah anak muda yang sakti dan berwibawa. Anak itu bernama I Gusti Gede Pasekan," jawab si kepala kampung.

Keesokan hari, sang nahkoda datang menemui I Gusti Gede Pasekan. "Maaf Tuan. Kiranya Tuan bersedia membantu kami. Sebab, perahu yang kami gunakan terdampar di pantai Panimbangan. Namun, tidak ada seorang pun yang berhasil membebaskan perahu kami. Jika Tuan berhasil membantu kami, sebagian muatan kami yang berada di kapal akan menjadi milik Tuan," kata sang nahkoda.

"Baiklah, akan saya coba," jawab I Gusti Gede Pasekan.

Kemudian, I Gusti Gede Pasekan pergi ke pantai Panimbangan bersama sang nahkoda. Disana, tampak sebuah perahu yang sangat besar di pinggir pantai. Setelah itu, I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka yang diberikan olah Kyai Jelantik Bogol. Ia memusatkan pikirannya. Tiba-tiba saja muncul dua makhluk gaib keluar dari dalam pusaka itu.

"Ho...ho...ho...Ada apa gerangan Tuan memanggil kami?" tanya kedua makhluk gaib yang bertubuh besar dan menyeramkan.

"Kalian lihat perahu besar yang kandas itu! Bantulah aku untuk menyeretnya kembali ke laut lepas."

"Ho...ho...ho...Perintah Tuan akan kami laksanakan," kata kedua makhluk gaib itu.

Kemudian, mereka menyeret perahu besar berisi muatan barang-barang berharga. Dalam sekejap, perahu berhasil diseret ke laut. Meskipun kedua makhluk gaib itu berada di hadapan I Gusti Gede Pasekan, namun orang-orang di sekitarnya tidak ada yang dapat melihat. Mereka hanya melihat I Gusti Gede Pasekan menggerakkan tangan menunjuk ke arah perahu.

Orang-orang Bugis itu sangat senang. Sesuai dengan janji sang nahkoda, I Gusti Gede Pasekan diberikan sebagian isi dari muatan perahu yang sangat besar. Di antara barang-barang berharga yang diberikan oleh sang nahkoda, terdapat dua buah gong besar. Akhirnya, I Gusti Gede Pasekan menjadi orang yang kaya raya. Ia pun digelari dengan sebutan I Gusti Panji Sakti.

Selepas kejadian itu, kekuasaan I Gusti Panji Sakti semakin luas. Ia juga mendirikan sebuah kerajaan baru di daerah Den Bukit. Ibu kota kerajaan itu semakin lama semakin dikenal masyarakat dengan nama Sukasada pada pertengahan abad ke-17.

Selain itu, pemerintahannya semakin lama semakin luas, hingga didirikanlah sebuah kerajaan baru yang letaknya di utara kota Sukasada. Pusat kota kerajaan baru itu diberi nama Buleleng. Nama ini diambil karena dahulu daerah itu banyak ditumbuhi pohon Buleleng. Kerajaan baru dengan istana yang megah itu diberi nama Singaraja.

Pesan Moral:
Kisah ini mengajarkan kita untuk terus berusaha demi mencapai kemuliaan dan tujuan yang kita inginkan. Tidak ada kesuksesan yang didapat dengan mudah tanpa adanya usaha.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
    Oleh: Sumbi Sambangsari
    Penerbit: Wahyumedia






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0