wahyumedia

Asal Mula Kalimas, Cerita Rakyat Jawa Timur

DaerahKita 25/11/2020

Dahulu, ketika Belanda menjajah negeri kita, raja-raja di wilayah Jawa masih tercerai berai. Mereka belum bersatu. Akibatnya, tentara Belanda dengan mudah menaklukkan wilayah-wilayah di Indonesia. Selain itu, dengan peralatan yang sudah canggih, Belanda mampu mengalahkan dan menaklukkan daerah-daerah di wilayah Indonesia. Melihat hal ini, Sultan Agung, raja dari Mataram hendak mempersatukan raja-raja di Pulau Jawa untuk mengusir penjajah Belanda.

Untuk mewujudkan tekadnya itu, Sultan Agung berniat untuk menaklukkan kembali raja-raja di wilayah pesisir, kemudian dipersatukan kembali untuk melawan tentara Belanda. Langkah awal yang dilakukan Sultan Agung adalah dengan menaklukkan Kadipaten Surabaya yang saat itu dikuasai oleh Adipati Pangeran Pekik.

Melalui mata-matanya, Pangeran Pekik sudah mengetahui bahwa tentara Mataram sedang menuju Kadipaten Surabaya untuk menaklukkan Surabaya. Akhirnya, Pangeran Pekik memanggil Patih Suradigda ke hadapannya. "Paman Patih Suradigda, tentara Mataram mulai mendekati wilayah kita. Aku ingin tahu, apakah bala tentara kita sudah siap untuk melawan tentara Mataram?" tanya Pangeran Pekik.


"Hamba telah mempersiapkan para tentara kita untuk melawan tentara Mataram, Baginda. Mereka telah dilatih dan dibekali dengan ilmu keprajuritan," jawab Patih Suradigda.

"Baguslah kalau begitu. Tentara kita tidak boleh kalah dengan tentara dari Mataram. Aku tidak ingin orang-orang Surabaya menjadi budak orang-orang Mataram," ucap Pangeran Pekik.

Tapi, tiba-tiba saja perbincangan mereka harus terhenti. Seorang prajurit mata-mata sambil berlari datang menghadap Pangeran Pekik.

"Ampun, Baginda, hamba hendak melaporkan bahwa tentara Mataram sudah memasuki wilayah Kadipaten Surabaya," kata prajurit itu dengan napas yang masih terengah-engah.

"Kurang ajar tentara Mataram. Berani benar ia memasuki wilayahku tanpa izin," teriak Pangeran Pekik dengan gusar. "Paman Patih, segera persiapkan tentara kita untuk melawan tentara Mataram!" "Siap, Baginda," jawab Patih Suradigda.

Patih Suradigda segera mempersiapkan bala tentaranya yang terlatih untuk menghadapi bala tentara Mataram. Setelah berkumpul, mereka berangkat menuju perbatasan Kadipaten Surabaya.

Dipimpin Patih Suradigda, mereka berhadapan dengan bala tentara Mataram. Pertempuran tidak dapat terelakkan lagi. Bala tentara Mataram yang gagah berani kewalahan menghadapi bala tentara dari Kadipaten Surabaya yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Tentara Kadipaten Surabaya sangat tangguh. Teknik berperang mereka jauh lebih bagus dibandingkan dengan tentara-tentara Mataram. Selain itu, Patih Suradigda dari Kadipaten Surabaya juga harus berhadapan dengan Patih Kridhanagara dari Kerajaan Mataram. Mereka beradu mulut. "Mengapa hanya kau dan bala tentara yang datang? Mana Raja Mataram? Apa dia takut menghadapi kami?" ledek Patih Suradigda. "Memangnya siapa kau ini? Berani-beraninya menantang rajaku!" balas Patih Kridhanagara.

Kemudian, mereka saling menyerang. Patih Suradigda dengan kegesitannya berhasil mengelak dari serangan-serangan Patih Kridhanagara. Sedangkan, Patih Kridhanagara berkali-kali terkena serangan dari Patih Suradigda. Pertarungan pun berlangsung sengit.

Meskipun Patih Kridhanagara dan tentara Mataram sangat tangguh, mereka harus mengakui bahwa Patih Suradigda dan tentara Kadipaten Surabaya memang benar-benar telah siap untuk menghadapi pasukan dari Mataram. Dalam pertempuran itu, banyak bala tentara Mataram yang gugur. Patih Kridhanagara dari Mataram pun kewalahan menghadapi Patih Suradigda dari Kadipaten Surabaya.

Sebuah tendangan hebat dari Patih Suradigda membuat Patih Kridhanagara terlempar cukup jauh. Melihat Patih Kridhanagara terkalahkan, tentara Mataram yang masih hidup berhamburan menyelamatkan diri. Dengan dipapah salah seorang prajuritnya, Patih Kridhanagara kembali ke perkemahan.

Setibanya di perkemahan, Patih Kridhanagara segera menghadap Sultan Agung yang sejak tadi menunggu laporan. "Apa yang terjadi padamu Patih Kridhanagara?" tanya Sultan Agung.

"Ampun, Baginda. Ternyata pasukan dari Kadipaten Surabaya memang benar-benar tangguh. Sepertinya mereka telah siap untuk menghadapi kita. Prajurit kita banyak yang menjadi korban karena pertempuran ini," lapor Patih Kridhanagara.

"Tapi, bagaimanapun juga, Kadipaten Surabaya harus kembali tunduk padaku. Prajurit mereka yang tangguh dan gagah berani sangat berguna untuk melawan dan mengusir para penjajah tentara Belanda," ucap Sultan Agung.

"Sepertinya kita harus mengubah taktik berperang kita," ucap Patih Kridhanagara. "Apa maksudmu, Patih?" tanya Sultan Agung.

"Begini Baginda. Semua orang yang ada di kadipaten selalu mengambil air minum dari Sungai Brantas. Jika mereka tidak dapat minum lagi dari Sungai Brantas dan tidak dapat mencari makan, makin lama mereka akan menyerah dengan sendirinya kepada kita," usul Patih Kridhanagara.

"Tapi, bagaimana caranya kita mencegah mereka untuk mengambil air dari Sungai Brantas? Apakah kita harus menjaga di sepanjang sungai itu?" tanya Sultan Agung bingung.

"Kita tidak harus menjaganya. Tapi kita masukkan kotoran ke dalam Sungai Brantas. Lalu, kita kepung hingga bantuan bahan makanan tidak dapat masuk ke kadipaten," kata Patih Kridhanagara. "Usulmu sangat bagus Patih. Laksanakan segera," perintah Sultan Agung.

Akhirnya, Patih Kridhanagara mengajak para prajuritnya untuk memasukkan segala kotoran ke dalam Sungai Brantas. Sampah-sampah, sisa-sisa makanan, bangkai binatang, bangkai manusia, dan lain sebagainya. Sementara itu, bahan makanan pun tidak dapat masuk ke kadipaten karena diambil oleh para tentara Mataram.

Hal ini membuat Adipati Surabaya bingung. Persediaan makanan dan minuman hampir habis. Beberapa prajurit yang diperintahkan untuk mengambil air dari Sungai Brantas harus kembali dengan tangan hampa. Rakyat di Kadipaten Surabaya terancam kelaparan dan kehausan. "Mana air itu? Kenapa kalian kembali dengan tangan hampa? Apakah Sungai Brantas telah kering?" tanya Adipati Surabaya.

"Ampun Baginda, Sungai Brantas tidaklah kering. Tapi, air Sungai Brantas sudah berubah warna. Warnanya kini sudah menjadi kuning keemasan dan banyak kotoran di dalamnya. Air Sungai Brantas sudah tidak layak lagi untuk diminum, Baginda," jawab prajurit itu.

"Apa? Air Kali Brantas telah berubah menjadi warna kuning keemasan? Bagaimana kita dapat menghilangkan rasa dahaga kita? Mau mencari keluar kadipaten, itu sangar sulit dilakukan karena tentara Mataram telah mengepung kadipaten ini," ucap Adipati Surabaya bingung.

Beberapa hari sudah rakyat di Kadipaten Surabaya bertahan tanpa makan dan minum. Akhirnya, mereka tidak tahan lagi dan menyerah kalah kepada Raja Mataram. Pangeran Pekik akhirnya tunduk pada Sultan Agung. Kemudian, Sultan Agung diterima dengan baik di Kadipaten Surabaya. "Sebenarnya, niatmu untuk mempertahankan kadipaten sangat bagus. Tapi, aku melakukan ini karena ingin mempersatukan raja-raja di seluruh wilayah pesisir. Lalu, akan kuajak semua untuk melawan tentara Belanda yang telah menjajah negeri kita," ucap Sultan Agung.

"Baiklah, aku mengerti. Aku akan bersatu dengan Kerajaan Mataram untuk mengusir penjajah," ucap Adipati Surabaya.

Sementara itu, Sungai Brantas atau Kali Brantas sudah terlanjur berubah menjadi kuning keemasan. Ini akibat dari kotoran-kotoran yang dimasukkan oleh pasukan Mataram ke dalam kali. Sejak saat itu, Kali Brantas disebut dengan nama Kalimas.

Pesan Moral:

Untuk berhasil mengalahkan musuh, kita harus bekerjasama. Selain itu, dibutuhkan pula pengorbanan untuk memperoleh persatuan dan kesatuan.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:
  1. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
    Oleh: Sumbi Sambangsari
    Penerbit: Wahyumedia






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0