UII

KH Abdul Halim, Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Majalengka

DaerahKita 18/10/2020

KH Abdul Halim lahir pada 26 Juni 1887 di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Nama kecilnya Mohammad Sjatari, biasa dipanggil Otong Satori. Ayahnya bernama H. Muhammad Iskandar berasal dari Banten yang kemudian menjadi Penghulu di Jatiwangi. Sedangkan ibunya bernama Hj. Siti Mutmainah. Abdul Halim merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Pendidikan ilmu agama diperoleh dari ayahnya. Setelah itu, Abdul Halim belajar ilmu agama di berbagai pesantren. Selain belajar, beliau juga mempunyai jiwa dagang. Selama menuntut ilmu agama di pesantren, Abdul Halim juga berdagang batik, minyak wangi, dan kitab-kitab kuning. Hasilnya, pada usia 22 tahun sudah bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Pada kesempatan itu beliau juga memperdalam ilmu agama dengan belajar pada ulama besar yang ada di sana.

Sekembalinya ke tanah air, Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan Majelis Ilmi di Majalengka untuk mendidik santri-santri di daerah tersebut. Setahun setelah itu, pada 1912, beliau mendirikan Hayatul Qulub yang berarti Kehidupan Hati. Majelis Ilmi menjadi bagian di dalamnya. Hayatul Qulub (Hayat al-Qulub) tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, melainkan juga masuk bidang perekonomian. Hal ini disebabkan Abdul Halim ingin memajukan lapangan pendidikan sekaligus perdagangan. Maka, anggota organisasinya bukan saja dari kalangan santri, guru, dan kiai, tetapi juga para petani dan pedagang.

Selanjutnya beliau mendirikan Persyarikatan Ulama (Persjarikatan Oelama atau PO) pada 1916. Persyarikatan Ulama berkembang pesat, hanya dalam waktu satu tahun memiliki cabang di berbagai daerah di Indonesia. Di bidang pendidikan beliau juga mendirikan Santi Asmoro pada tahun 1932. Dalam lembaga pendidikan ini, para murid tidak hanya dibekali dengan pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga dengan keterampilan sesuai dengan bakat anak didik, antara lain pertanian, pertukangan, dan kerajinan tangan.

Pada masa awal pendudukan Jepang, Persyarikatan Ulama sempat dilarang. KH Abdul Halim berhasil mendirikannya kembali pada 1944 dengan nama Perikatan Oemat Islam (POI) dan pada tahun 1952, setelah melakuakn fusi dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), namanya berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI). Selain itu KH Abdul Halim juga aktif di Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) yang kemudian hari berganti nama menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Abdul Halim menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Pada masa revolusi kemerdekaan, Abdul Halim menentang berdirinya Negara Pasundan buatan Belanda pada 1947. KH Abdul Halim lalu diangkat sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (PB KNID) Cirebon. Selanjutnya ia aktif membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua yang dimulai tanggal 19 Desember 1948, Abdul Halim aktif membantu kebutuhan logistik bagi pasukan TNI dan para gerilyawan. Residen Cirebon juga mengangkatnya menjadi Bupati Majalengka.

Dalam periode tahun 1950-an KH Abdul Halim pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan kemudian menjadi anggota Konstituante. KH Abdul Halim wafat pada 17 Mei 1962. Pada 6 November 2008, berdasarkan Keppres No.041/TK/2008, pemerintah menobatkan KH Abdul Halim sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol di Majalengka.

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh kerajaan nasionalis pejuang biografi ulama BPUPKI
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. www.tribunnewswiki.com
  3. id.wikipedia.org
  4. Dari berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0