wahyumedia

Atu Belah Ajaib, Cerita Rakyat Aceh

DaerahKita 26/09/2020

Di sebuah desa bernama Penurun yang letaknya di Tanah Gayo, hiduplah keluarga petani yang sangat miskin. Mereka terdiri atas ayah, ibu, dan dua anaknya yang masih kecil. Anaknya yang tertua berusia tujuh tahun, sedangkan adiknya masih menyusui.

Karena kehidupannya sangat miskin, setiap hari pada waktu senggang setelah bertani, sang ayah berburu di hutan dan menangkap belalang di sawah. Belalang-belalang tersebut kemudian dimasukkan dan dikumpulkan di dalam lumbung. Biasanya, belalang-belalang tangkapan si petani diolah menjadi makanan oleh istrinya. Belalang-belalang ini sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka sehari-hari maupun pada saat musim paceklik datang. Sebab, sawah mereka yang hanya beberapa petak saja tidak menghasilkan aoa-apa. Hal inilah yang membuat petani merasa bingung mencari cara agar bisa menafkahi keluarganya.

Suatu hari, ia pergi berburu ke hutan karena tidak memiliki pilihan lain untuk dapat menafkahi keluarganya. Sebelum berangkat ia berpamitan kepada istrinya, "Bu, jaga anak-anak di rumah! Aku akan berburu ke hutan. Doakan agar aku mendapat hewan buruan yang besar dan cukup untuk makan kita sekeluarga." Akhirnya, pergilah ia berburu, sedangkan istrinya menjaga anak-anaknya di rumah.

Hari sudah siang, tapi sang ayah belum juga sampai di rumah membawa hewan buruan. Padahal kedua anaknya sudah merengek menahan lapar. Melihat kedua anaknya menangis , sang ibu sangat sedih. Ia pun bergegas ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

"Di dapur sudah tidak ada lagi makanan yang dapat dimasak. Aduh..., bagaimana ini? Anak-anakku sudah sangat kelaparan," ucap sang ibu dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian, ia teringat akan belalang yang dikurung oleh suaminya di lumbung. Sang ibu pun memanggil anak tertuanya.

"Nak, tolong kau ambilkan belalang yang ada di lumbung! Ibu akan membuatkan makanan untuk kalian," pinta si ibu. "Baik, bu," ucap anak tertua.

Anak itu pergi menuju lumbung yang tidak jauh dari rumah mereka. Dibukanya pintu lumbung tersebut perlahan. Hap! Seekor belalang tertangkap. Kemudian, satu lagi dan satu lagi belalang ia masukkan ke dalam kantong yang sudah disiapkan sebelumnya.

"Tapi, mengapa belalang yang tadi aku lihat sangat banyak kini tinggal sedikit?" tanyanya dalam hati.

Ternyata, hal yang tidak diinginkan terjadi. Anak itu lupa menutup pintu lumbung. Setelah membukanya, anak itu langsung asyik menangkap belalang-belalang yang beterbangan di dalam lumbung. Akibatnya, lepaslah semua belalang-belalang di dalam lumbung yang telah dikumpulkan sang ayah setiap hari. "Celaka! Aku lupa menutup pintunya," teriak anak itu.

Kemudian, anak itu kembali ke rumah sambil menangis tersedu. Ia sangat takut dimarahi kedua orang tuanya. Tapi, mau tidak mau, ia harus mengatakannya kepada sang ibu.

"Ada apa anakku? Mengapa kamu menangis? Mana belalang-belalang yang ibu minta?" tanya sang ibu dengan lembut.

"Maaf belalangnya lepas semua, Bu. Aku lupa menutup pintu lumbung setelah membukanya," ucap anaknya sambil menangis.

Betapa terkejutnya sang ibu mendengar hal itu. Ia tahu, suaminya pasti akan marah besar mengetahui belalang-belalang yang ditangkapnya dengan susah payah setiap hari hilang karena kecerobohan anaknya.

Tidak berapa lama kemudian, sang ayah kembali dari berburu. Ia terlihat kesal karena tidak seekor hewan buruan pun berhasil ia dapatkan. "Hari ini aku benar-benar tidak beruntung, Bu. Tidak seekor hewan pun berhasil aku buru. Mungkinkan mereka semua sudah mengetahui kedatanganku dan bersembunyi di sarangnya? Hah...aku lelah sekali. Jadilah hari ini kita hanya makan belalang," ucap sang ayah sambil mengempaskan tubuhnya di kursi.

Melihat sang ayah yang kelelahan dan kesal, si ibu bingung, tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tega mengatakan kejadian sebenarnya pada suaminya. Tapi, mau tidak mau ia harus mengatakannya juga.

"Maaf Pak, hari ini kita juga tidak dapat makan belalang. Tadi, ketika hendak mengambil beberapa belalang untuk dimasak, aku lupa menutup pintu lumbung sehingga belalang-belalang itu lepas. Maafkan aku, Pak," sang ibu berbohong untuk menutupi kesalahan anaknya.

"Apa? Belalang-belalangnya lepas? Apa kamu tidak tahu, berapa lama aku mengumpulkan belalang-belalang itu? Dasar ceroboh," teriak sang ayah.

Sang ayah sangat murka, lalu mengusir istrinya. Ia tidak menyangka bahwa suaminya tega memperlakukannya seperti itu. Sambil menangis terisak-isak, sang istri pergi dari rumah. Ia menerima akibat dari kecerobohan anaknya.

Dengan hati remuk redam, sang istri pergi menuju Atu Belah yang dapat menelan siapa saja. Konon, Atu Belah akan menelan seseorang jika orang tersebut mengucapkan kata-kata sambil bernyanyi dalam bahasa Gayo. Tanpa disadari, anak-anaknya mengikuti dari belakang. Sang kakak menggendong adiknya yang masih sangat kecil.

Sepertinya, tekad untuk dimakan Atu Belah sudah bulat. Di depan Atu Belah, sang ibu bernyanyi berkali-kali menggunakan bahasa Gayo. Ajaib, tidak lama kemudian batu itu terbuka. Sang ibu pun masuk ke dalam mulut batu yang menganga lebar. Perlahan tubuh ibu tersebut tidak terlihat lagi.

"Ibu...ibu...jangan tinggalkan kami," jerit anaknya, ia sangat menyesali perbuatannya. Tapi, tubuh sang ibu sudah terlanjur ditelan oleh Atu Belah. Hanya tujuh helai rambutnya saja yang tersisa. Entah datang darimana, tiba-tiba cuaca buruk, langit gelap, dan hujan turun dengan lebat. Bumi bergetar menyaksikan Atu Belah menelan manusia. Tujuh helai rambut sang ibu kemudian dijadikan sebagai jimat oleh anak-anaknya.

Masyarakat Gayo percaya bahwa Atu Belah merupakan batu besar yang letaknya sekitar 35 km dari Takengon, Gayo. Kisah ini menjadi cerita yang disampaikan secara turun-menurun di daerah mereka.

Pesan Moral:

Kisah ini dapat memberi kita pelajaran bahwa kecerobohan seseorang dapat berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain. Karena itu jika kita diberi suatu tugas atau amanah, maka jalankanlah dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
Oleh: Sumbi Sambangsari
Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0