bantennews

Sultan Ageng Tirtayasa, Berjuang Melawan Dominasi Kompeni Belanda

DaerahKita 13/09/2020

Sultan Ageng Tirtayasa lahir pada 1631 di Banten. Ayahnya bernama Abdul Ma'ali Ahmad, menjadi Sultan Banten ke-5 yang berkuasa pada 1640-1650, dan ibunya bernama Ratu Martakusuma. Nama kecil Sultan Ageng Tirtayasa adalah Abdul Fatah, yang bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, Abdul Fatah diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya yang merupakan sultan ke-4, yaitu Sultan Abdul Mafakhir meninggal dunia, beliau diangkat menjadi sultan ke-6 dengan gelar Sultan Abul Fatih Abdul Fatah. Seemnatar nama Sultan Ageng Tirtayasa berawal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa. Arti nama Tirtayasa dalam Bahasa Sansekerta adalah Air Mengalir.

Pada saat beliau berkuasa, VOC (Verenidge Oostindisce Compagnie) yang merupakan Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, mengadakan perjanjian yang menerapkan monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa adalah pemimpin yang sangat ingin menyejahterakan rakyatnya dalam bidang ekonomi dan agama. Beliau juga mempunyai mimpi ingin mewujudkan Banten sebagai Kerajaan Islam terbesar. Jadi, dengan sangat tegas beliau menentang perjanjian yang dibuat VOC tersebut.

Sultan Ageng Tirtayasa menutup jalur laut perdagangan Belanda. Setelah itu, beliau mengadakan kerja sama dengan negara-negara Eropa lainnya seperti Denmark dan Inggris. Selain itu, hasil-hasil perkebunan teh pun berhasil dikuasai oleh Banten. Untuk menyejahterakan rakyatnya, Sultan Ageng Tirtayasa membuka lahan-lahan sawah baru dan meningkatkan irigasi. Kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa membawa Banten ke masa kegemilangannya.

Sementara itu, Belanda sangat marah atas tindakan Sultan Ageng Tirtayasa yang merugikan kegiatan perdagangannya. Belanda mengadu domba Sultan Ageng Tirtayasa dengan putra-putra beliau. Sultan Haji yang merupakan putra tertua Sultan Ageng Tirtayasa termakan hasutan Belanda. Sultan Haji mengira Sultan Ageng Tirtayasa akan menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Pangeran Purbaya. Sultan Haji kemudian bekerja sama dengan Belanda untuk menentang dan melawan ayahnya. Pada 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibuang ke Batavia hingga wafat di penjara pada 1692. Beliau dimakamkan di Masjid Banten.

Pada 1 Agustus 1970, berdasarkan Keppres No.045/TK/1970, pemerintah menobatkan Sultan Ageng Tirtayasa sebagai pahlawan nasional. Nama beliau diabadikan menjadi nama perguruan tinggi negeri di Serang, Banten, yaitu Universitas Tirtayasa (Untirta).

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh raja kerajaan sultan pejuang biografi
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. www.tribunnewswiki.com
  3. id.wikipedia.org
  4. untirta.ac.id






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0