wahyumedia

Cindelaras, Cerita Rakyat Jawa Tengah

DaerahKita 26/08/2020

Dahulu, diceritakan di sebuah kerajaan bernama Jenggala, hidup seorang raja bernama Raden Putra. Ia memiliki seorang permaisuri yang sangat cantik dan baik hati. Selain itu, ia juga memiliki seorang selir yang juga sangat cantik. Sayangnya, selir itu memiliki hati yang busuk. Ia merasa iri terhadap permaisuri yang selalu diperhatikan oleh sang raja. "Huh, seharusnya aku yang menjadi permaisuri. Kecantikanku juga tidak kalah dengan permaisuri. Aku akan membuat baginda hanya memperhatikan aku," ucap selir dalam hati.

Rasa iri sang selir membawanya memiliki niat jahat terhadap permaisuri. Suatu hari, sang selir berkomplot bersama tabib istana membuat rencana agar selir berpura-pura sakit parah. Keesokan harinya, rencana tersebut dilaksanakan. Sang selir berpura-pura merintih menahan sakit. Raja yang melihat selir kesayangannya jatuh sakit segera memerintahkan pengawal kerajaan memanggil tabib istana.

"Tabib, sebenarnya apa yang terjadi dengan selirku? Mengapa sakitnya sangat mendadak dan terlihat sangat parah? Padahal kemarin terlihat sehat-sehat saja," ucap raja.

"Begini Baginda, sebenarnya hamba tidak berani mengatakannya. Sebab, jika Baginda mengetahuinya, Baginda pasti akan murka," ucap tabib istana. "Ada apa sebenarnya?" tanya raja semakin penasaran.

"Maafkan hamba sebelumnya. Sepertinya selir terkena racun dari air minumnya. Sebelumnya, selir mengatakan kepada hamba bahwa permaisuri yang membawakan minuman itu untuknya. Jadi, menurut hamba, permaisuri sengaja meracuni minuman selir karena merasa iri Baginda terlalu sayang kepada selir," ucap tabib istana.

"Apa? Benar-benar keterlaluan. Berani benar permaisuri melakukan hal itu pada selir kesayanganku. Pengawal, panggil permaisuri untuk menghadapku sekarang juga, cepat!" perintah raja dengan murka.

Para pengawal segera memanggil permaisuri untuk menghadap raja. Ia tidak mengetahui alasan raja yang sangat tergesa-gesa memanggilnya. Sang permaisuri menghadap raja, betapa terkejutnya ia mendengar tuduhan sang raja terhadapnya. Permaisuri yang tidak merasa melakukan hal tersebut, mengelak tuduhan itu.

"Berani sekali kau menyangkal apa yang telah engkau perbuat. Hukuman bagi seseorang yang hendak membunuh adalah pelakunya harus dibunuh," ucap sang raja murka.

Karena terbakar amarah, sang raja memerintahkan para pengawalnya untuk mengusir permaisuri dari istana. Ia pun memerintahkan patih istana untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya. Raja tidak mengetahui bahwa permaisuri dalam keadaan mengandung. Akhirnya, patih membawa permaisuri yang sedang mengandung ke hutan. Patih merasa yakin bahwa permaisuri tidak bersalah. Permaisuri yang baik hati dan bijaksana tidak mungkin meracuni selir. Oleh karena itu, sang patih melanggar titah raja.

"Permaisuri, hamba mengetahui bahwa semua ini adalah perbuatan licik selir. Hamba juga tidak sampai hati untuk menyakiti permaisuri. Biarlah hamba berdusta kepada baginda tentang permaisuri. Hamba akan mengatakan bahwa permaisuri telah hamba bunuh. Jagalah baik-baik calon bayi ini. Kelak, ia akan menjadi putra mahkota Kerajaan Jenggala," ucap patih.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Patih. Aku akan menjaga baik-baik kandunganku," kata permaisuri.

Kemudian, patih membuat rumah-rumahan dari ranting pohon dan dedaunan untuk sang permaisuri selama tinggal di hutan. Ia juga melumuri pedangnya dengan darah kelinci untuk mengelabui raja. Setelah itu, ia kembali ke istana melaporkan bahwa dirinya telah membunuh permaisuri. Raja mengangguk puas.

Bulan berganti bulan. Anak yang berada dalam kandungan permaisuri pun telah lahir. Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan tampan. Ia diberi nama Cindelaras. Karena sejak kecil tinggal di hutan, Cindelaras banyak berteman dengan binatang. Suatu hari, ketika Cindelaras sedang bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Telur tersebut jatuh tepat di depan Cindelaras. Hap! Dengan sigap Cindelaras menangkap telur tersebut. Ternyata, Cindelaras membiarkan telur tersebut selama tiga minggu sampai menetas.

Cindelaras merawat anak ayam itu dengan baik hingga menjadi seekor ayam jantan dewasa yang bagus dan kuat. Satu hal yang membuat ayam Cindelaras berbeda dengan ayam lainnya adalah kokokannya. "Kukuruyuk...Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Cindelaras sangat takjub dengan ayam miliknya. Ia pun memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Akhirnya, sang ibu memberitahukan asal-usul Cindelaras dan kejadian yang menimpa mereka. Mendengar cerita itu, Cindelaras bertekad untuk pergi ke istana menemui ayahandanya dan membongkar perbuatan jahat yang dilakukan oleh selir.

Keesokan harinya, dengan ijin sang ibu, Cindelaras pergi menuju istana dengan membawa ayam kesayangannya. Di tengah perjalanan, ia dipanggil oleh beberapa orang yang sedang menyabung (mengadu) ayam. "Hai, kemarilah! Kalau berani, adu ayam jantanmu dengan ayam jantan milikku ini!" tantang salah seorang penyabung ayam.

Akhirnya, Cindelaras mengadu ayam jantan miliknya dengan ayam jantan para penyabung itu. Berkali-kali diadu, ayam milik Cindelaras selalu menang. Ketangguhan ayam jantan Cindelaras menyebar dengan cepat hingga sampai ke telinga raja. Mendengar hal tersebut, raja memerintahkan hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana.

"Hamba menghadap, Paduka Raja," ucap Cindelaras dengan santun. "Hmm...anak ini tampan dan cerdas. Ia juga sangat sopan. Sepertinya ia bukan dari golongan rakyat jelata," pikir raja.

"Anak muda, aku ingin mengadu ayam jantan milikku dengan ayam jantan milikmu. Jika kau bersedia, apa syarat yang kau ajukan," tanya raja.

"Hamba bersedia Paduka. Jika hamba kalah, hamba bersedia dipancung. Tapi, jika hamba menang, separuh kekayaan paduka akan menjadi milik hamba," ucap Cindelaras.

"Benar-benar tawaran yang sangat berani," pikir raja. "Baiklah, aku setuju dengan syaratmu," ucap raja menyanggupi.

Kabar tentang adu ayam milik raja dengan ayam milik Cindelaras pun tersebar ke seluruh rakyat Jenggala. Akhirnya, acara tersebut digelar dan ditonton oleh seluruh rakyat. Tibalah waktu yang dinantikan. Ayam jantan milik raja diadu dengan ayam jantan milik Cindelaras. Dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil mengalahkan ayam raja. Seluruh penonton bersorak-sorak dan mengelu-elukan nama Cindelaras dan ayamnya.

Raja pun tersenyum. Ia berbesar hati menerima kekalahan. "Aku mengaku kalah dan akan menepati janji. Tap siapakah dirimu sebenarnya?" tanya raja.

Cindelaras mengambil ayamnya. Ia seperti membisikkan sesuatu di telinga ayam kesayangannya. Tiba-tiba saja ayam itu berkokok,"Kukuruyuk...Tuanku Cindelaras rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Mendengar kokokan itu raja sangat terkejut. Ia terperanjat dari singgasananya. Raja semakin penasaran dengan sosol pemuda yang ada di hadapannya. "Benarkah apa yang dikatakan ayammu itu anak muda?" tanya raja. "Benar Paduka, nama hamba Cindelaras. Ibu hamba adalah permaisuri Kerajaan Jenggala yang telah dibuang ke hutan," jawab Cindelaras.

Mendengar pengakuan Cindelaras raja semakin terkejut. Patih yang mendengar penjelasan itu kemudian menghadap raja dan memberitahukan kejadian sebenarnya.

"Aku telah melakukan kesalahan, Patih. Aku benar-benar tidak menyangka selir kesayanganku bisa berbuat sekejam itu. Sekarang juga, tangkap selir itu dan seret ke hadapanku! Ia harus diberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya!" titah sang raja.

Tidak berapa lama, selir jahat sudah berada di hadapannya. Dengan murka, raja menyuruh pengawal untuk membuang selir ke hutan. "Ampuni hamba, Baginda...Hamba mengaku bersalah. Jangan buang hamba, Baginda...," ratap selir jahat.

Ratapan selir tidak digubris sedikit pun oleh raja. Raja yang melihat buah hatinya berada di hadapannya segera berlari dan memeluknya erat. Raja meminta maaf pada Cindelaras atas kesalahannya. Setelah itu, raja memerintahkan hulubalangnya untuk menjemput permaisuri di hutan. Mereka pun hidup bahagia di istana. Sepeninggal Raden Putra, kedudukannya digantikan oleh Cindelaras yang memerintah dengan arif dan bijaksana.

Pesan Moral:

Janganlah menuduh seseorang sebelum kita mengetahui kebenarannya. Sebab, hal itu akan merugikan orang yang dituduh. Selain itu, siapa yang melakukan kejahatan akan berbuah keburukan bagi dirinnya sendiri.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0