akmi-untirta

Mohammad Natsir, Tokoh Penyelamat NKRI

DaerahKita 17/08/2020

Mohammad Natsir lahir pada 17 Juli 1908 di Kampung Jembatan Berukir, Kenagarian Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ayahnya, Idris Sutan Saripado, adalah seorang juru tulis pada sebuah kantor pemerintah di Alahan Panjang. Natsir merupakan pemangku adat untuk kaumnya yang berasal dari Maninjau Agam dengan gelar Datuk Sinaro Panjang.

Selain pendidikan agama yang ditanamkan, Natsir juga disekolahkan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Adabiyah di Padang. Kurang dari satu tahun Natsir bersekolah di HIS Adabiyah Padang, ayahnya menjemput Natsir untuk bersekolah di HIS Pemerintah di Solok. Di Kota Solok Natsir menumpang pada seorang saudagar bernama Haji Musa. Pagi hari Natsir sekolah di HIS, pada sore harinya sekolah di Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut Haji Rasul (tokoh pembaharu di Minangkabau), dan pada malam harinya mengaji sambil belajar bahasa Arab.

Natsir kemudian pindah ke HIS Pemerintah di Padang dan tamat pada 1923. Beliau mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang. Di MULO Padang, Natsir bergabung dengan Jong Sumateranen Bond yang diketuai Sanusi Pane. Setamat dari MULO pada 1927, Natsir mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS) Bandung hingga tamat pada 1930. Dari 1928 sampai 1932, beliau menjadi ketua Jong Islamieten Bond (JIB) Bandung. Selain itu beliau juga aktif di Pandu Nationale Islamietische.

Karir politiknya dimulai pada 1938 ketika beliau bergabung dengan Partai Islam Indonesia. Natsir diangkat menjadi pimpinan cabang Bandung sejak 1940 sampai 1942. Selama masa pendudukan Jepang, beliau bergabung dengan Majelis Islam A'la Indonesia (lalu berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi). Beliau diangkat menjadi salah satu ketua sejak 1945 sampai ketika Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia dibubarkan oleh Presiden Sukarno pada 1960.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Natsir pernah menjabat sebagai wakil ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Pada April 1960 Natsir mengajukan mosi integral dalam sidang pleno parlemen yang secara aklamasi diterima oleh seluruh fraksi. Mosi tersebut adalah memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sebelumnya berbentuk federal atau serikat (Republik Indonesia Serikat atau RIS). Bung Karno menganggap Natsir mempunyai konsep untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi. Oleh karena itu, Natsir dilantik menjadi perdana menteri kelima.

Natsir banyak berjasa untuk perkembangan dakwah Islam dan termasuk di antara sedikit tokoh Indonesia dengan reputasi Internasional. Beliau pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress), ketua Dewan Masjid se-Dunia, anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang berpusat di Mekkah, dan pendiri Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).

Mohammad Natsir wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta. Pada 10 November 2008, berdasarkan Keppres No.41/TK/2008, pemerintah menobatkan Mohammad Natsir sebagai pahlawan nasional. Nama beliau diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh politik pejuang biografi
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. Dari berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0