wahyumedia

Batu Menangis, Cerita Rakyat Kalimantan Barat

DaerahKita 31/07/2020

Alkisah di sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis cantik bersama dengan ibunya yang lembut dan bijaksana. Kecantikan si gadis tidak ada bandingannya. Matanya indah dan bersinar. Rambutnya hitam, panjang, dan berkilau bagai mutiara hitam. Kulitnya putih dan lembut bagaikan sutera. Parasnya cantik menawan. Semua orang mengakui dan mengagumi kecantikan si gadis.

Gadis itu tidak bosan-bosannya memandangi cermin. Dalam hati, gadis itu berkata, "Betapa cantiknya diriku. Semua orang yang melihatku pasti mengagumi kecantikanku. Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kecantikanku."

Mengetahui keangkuhan anaknya, si ibu berulang kali berusaha menasihatinya. "Anakku, wajahmu yang rupawan janganlah menjadikanmu angkuh dan congkak. Jadikan karunia Tuhan itu sebagai sesuatu yang harus disyukuri dengan kerendahan hati."

Tapi, nasihat ibunya dianggap seperti angin lalu. Ia masih tetap angkuh dan sombong. Setiap hari, kerja gadis itu hanya bersolek dan bercermin. Ia tidak pernah membantu ibunya yang dibiarkan bekerja seorang diri. Meskipun begitu, si ibu tidak pernah mengeluh. Ia hanya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, lindungilah anak hamba dan sadarkanlah anak hamba."

Pada suatu pagi, seperti kebiasaan gadis itu sehari-hari, ia tidak pernah lupa untuk bersolek. Ia bercermin selama berjam-jam dan mengurung diri di kamar. Si gadis tidak mau kulitnya yang putih mulus terkena debu ataupun sinar matahari yang dapat merusak kecantikan kulitnya.

Sementara itu, ibunya dijadikan layaknya pembantu. Ketika di gadis merawat kulitnya yang halus, tidak biasanya si ibu lupa menyiapkan lulur dan air hangat untuk anaknya. "Ibu..., kemana air hangat dan lulur untukku? Kamarku juga belum dirapikan," teriak si gadis dari dalam kamarnya.

Dengan tergopoh-gopoh, si ibu lari menuju kamar anak gadisnya. "Maaf. ibu tidak sempat menyiapkan untukmu. Hari ini pekerjaan ibu banyak sekali. Ibu harus mencuci, memasak, dan membersihkan rumah," jawab si ibu dengan lembut.

"Bagaimana sih ibu ini. Aku kan harus membersihkan kulitku agar sehat dan cantik. Tidak seperti kulit ibu yang kusam dan tidak terawat," ucap gadis itu.

"Cobalah sekali-kali kamu siapkan sendiri kebutuhanmu. Jangan hanya mengandalkan ibu saja. Kamu kan sudah dewasa," nasihat si ibu.

"Aku kan sibuk," jawab si gadis dengan ketus.

Si ibu mencoba bersabar. Ia sudah mengetahui tabiat anaknya. Setiap hari yang dilakukan gadis itu hanya mempercantik diri tanpa mempedulikan ibunya. Bahkan pekerjaan yang setidaknya dapat dilakukan gadis itu sendiri masih saja si ibu yang mengerjakannya. Si ibu berulang kali mencoba menasihati anaknya untuk mengubah tabiat buruknya.

"Anakku, jika kamu terus begini, bagaimana kamu bisa mandiri? Dan jika suatu hari nanti ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi, bagaimana kamu bisa mengurusi dirimu sendiri? Cobalah kamu melakukan pekerjaan yang setidaknya dapat kamu lakukan sendiri. Jadi, ibu tidak khawatir lagi jika suatu hari nanti harus meninggalkanmu sendiri," kata si ibu.

"Aku tidak pernah meminta ibu untuk melahirkan aku ke dunia. Aku juga tidak pernah meminta ibu menjadi ibuku," jawab si gadis dengan ketus.

Betapa sedih dan teririsnya hati si ibu. Dalam hatinya ia berdoa,"Ya Tuhan, ampunilah dosa anakku dan sadarkanlah anakku."

Hari berganti hari, kebiasaan si gadis yang enggan keluar rumah karena takut kulitnya hitam kini sudah mulai berubah. Ia sudah mau keluar rumah dan mengenali lingkungannya. Setiap ia berjalan, orang selalu menatapnya penuh kekaguman. Kecantikan wajah si gadis membuat orang lain terpana dan berdecak kagum.

Suatu hari, tidak biasanya si gadis mau keluar rumah dengan ibunya. Betapa bahagianya hati si ibu melihat anaknya sudah mau menemaninya berbelanja atau sekedar menemani ibunya pergi ke kota.

Namun, kebahagiaan si ibu tidak berlangsung lama ketika anaknya mengatakan, "Ibu, aku mau sering keluar bersama ibu asalkan tidak mengaku bahwa ibu adalah ibuku. Dan jika aku berjalan, ibu jangan menghalangi pandanganku. Ibu harus berjalan di belakang aku."

Kali ini ucapan sang anak bagaikan sambaran petir untuk ibunya. Hatinya terluka sangat dalam. Si ibu hanya bisa pasrah dengan keinginan anaknya. Ia tidak mampu lagi untuk menasihati anaknya yang angkuh.

"Ya Tuhan, terlalu burukkah aku menjadi ibu untuk anakku? Mengapa anakku sampai malu untuk mengakui bahwa aku adalah ibunya?" tanya si ibu dalam hati.

Benar saja, ketika gadis itu keluar bersama ibunya, banyak yang bertanya kepada si gadis, siapa perempuan setengah baya yang berjalan di belakangnya. Penampilan mereka jauh berbeda. Si ibu berpakaian sederhana dan bersahaja, sedangkan si gadis berpakaian indah dan mewah. Penampilan keduanya bertolak belakang. Si ibu hanya berusaha tersenyum ketika orang-orang bertanya. Ia dilarang oleh gadis itu untuk mengakui bahwa ia adalah ibu kandungnya.

"Hai gadis cantik, apakah beliau ini ibumu?" tanya salah seorang pejalan kaki. "Oh, tentu saja dia bukan ibuku," sangkal si gadis.

"Benarkah? Pantas saja, kalian tampak berbeda. Tapi, jika dilihat-lihat, wajah kalian sebenarnya mirip," ucap pejalan kaki itu. "Ah, bagaimana mungkin aku mirip dengannya? Dia ini adalah seorang pembantu. Ibuku tentu sangat mirip denganku, cantik dan berkelas," ucap si gadis dengan angkuh.

Untuk kesekian kalinya, hati si ibu terluka sangat dalam. Hatinya menangis mendengar ucapan anaknya. Tidak pernah ia mengira bahwa anaknya akan mengatakan dirinya seorang pembantu. Sakit hatinya sudah tidak terbendung lagi.

Si ibu akhirnya berkata dalam hati, "Ya Tuhan, anakku sudah sangat keterlaluan. Hambamu ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan cara apa Engkau akan menghukum anak yang angkuh ini Tuhan?"

Tuhan Mahaadil dan mendengar doa hambanya. Segala yang dikehendaki-Nya pastilah sesuatu yang terbaik untuk umatnya. Suatu hari, ketika gadis itu kembali menyakiti hati ibunya, tiba-tiba saja tubuh si gadis tampak kaku dan tidak dapat bergerak.

"Ibu..., apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Apa yang terjadi?" jerit si gadis. "Karena keangkuhan dan kecongkakanmu, Tuhan mungkin menghukummu, anakku," ucap si ibu.

Benar saja, tubuh si gadis semakin lama semakin kaku. Awalnya kakinya mengeras, lalu tubuhnya. Pada kesempatan yang terakhir, gadis itu berteriak minta maaf. Ia baru menyadari kesalahannya. "Ibu, maafkan kesalahanku," jerit si gadis itu sambil menangis menyesali perbuatannya.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan gadis itu sudah tidak berguna. Tubuh si gadis berubah menjadi batu. Sekarang, batu itu dikenal dengan sebutan "Batu Menangis".

Pesan Moral:

Surga ada di telapak kaki ibu. Itulah pepatah bijak yang menggambarkan betapa agungnya peran seorang ibu bagi kehidupan anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak. Karenanya, berbuat baiklah pada ibu dan jangan menjadi anak durhaka.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0