wahyumedia

Watuwe Si Buaya Ajaib, Cerita Rakyat Papua

DaerahKita 30/07/2020

Dahulu dikisahkan, di tepian Sungai Tami di Papua, hiduplah sepasang suami istri yang sedang menantikan kehadiran seorang anak. Sang suami yang bernama Towjatuwa sangat gelisah karena istrinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan.

Hanya ada satu cara untuk membantu istrinya melahirkan, yaitu dengan mengoperasinya menggunakan batu tajam dari Sungai Tami. Ketika ia sedang sibuk mencari batu tajam, tiba-tiba muncul seekor buaya besar di depannya. Towjatuwa kaget bukan kepalang. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan.

Buaya itu semakin mendekati Towjatuwa dengan tubuh yang terlihat aneh tidak seperti buaya lainnya. Di punggung buaya itu tumbuh bulu-bulu burung kasuari. Hal ini membuat buaya itu tampak menyeramkan ketika bergerak.

Ketika jarak buaya sudah semakin dekat, Towjatuwa mulai bersiap-siap melarikan diri. Tiba-tiba sang buaya menyapa Towjatuwa dengan ramah.

"Maafkan aku jika mengagetkanmu. Namaku Watuwe. Siapa namamu dan apa yang kamu lakukan di sungai ini?" tanya buaya.

"Oh, a...ku...aku...namaku Towjatuwa. Aku disini sedang mencari batu tajam untuk membantu istriku melahirkan," jawab Towjatuwa ketakutan.

Rasa takut Towjatuwa semakin lama semakin hilang karena buaya itu tidak seseram penampilannya. Pembicaraan mereka semakin akrab dan santai.

"Kau tidak usah khawatir, Towjatuwa. Aku bisa membantu masalahmu. Aku akan menolong istrimu melahirkan," ucap Watuwe.

Mendengar hal itu, Towjatuwa sangat senang. Ia pun kembali ke rumah dan menceritakan pertemuannya dengan buaya ajaib di Sungai Tami kepada istrinya.

Hari berganti hari , Towjatuwa tetap saja merasa gelisah karena sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Ia takut jika Watuwe mengingkari janjinya untuk membantu istrinya melahirkan.

Malam telah tiba, sang istri sudah mulai merasakan perutnya yang sakit. Towjatuwa pun panik. Tidak lama, muncullah Watuwe sang buaya ajaib menepati janjinya. Betapa bahagianya Towjatuwa. Ia pun mempersilahkan Watuwe untuk membantu istrinya melahirkan. Dengan kekuatan ajaibnya, Watuwe menolong proses kelahiran anak Towjatuwa dengan selamat.

Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi laki-laki yang memecah keheningan malam. Perasaan lega, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu di hati Towjatuwa. Ia berterima kasih atas pertolongan Watuwe. Anak laki-laki Towjatuwa diberi nama Narrowra.

"Towjatuwa, kelak anakmu akan menjadi pemuda yang gagah dan andal dalam berburu. Tapi, ada satu hal yang harus kau ingat. Kelak keturunanmu jangan ada yang membunuh atan memakan daging buaya. Jika kau melanggar larangan ini, kau dan keturunanmu akan mati," ucap Watuwe.

"Baiklah, Watuwe. Aku akan mengingat pesanmu dan akan kusampaikan pada keturunanku," ucap Towjatuwa.

Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk tidak membunuh hewan di sekitar Sungai Tami. Mereka pun melindungi hewan-hewan tersebut dari para pemburu.

Pesan Moral:

Berbuat baiklah pada sesama. Bantulah ketika ada orang yang membutuhkan. Sebab, sewaktu-waktu kita akan membutuhkan bantuan orang lain.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0