wahyumedia

Terompah Sultan Gajadean, Cerita Rakyat Maluku

DaerahKita 28/07/2020

Kisah ini berasal dari Pulau Ternate. Dahulu dikisahkan, di Ternate hiduplah seorang raja bernama Sultan Jafar Nuh. Ia memiliki seorang permaisuri yang sangat cantik. Permaisuri ini berasal dari kayangan sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menandingi kecantikan sang permaisuri.

Suatu hari, adik laki-laki permaisuri yang bernama Gajadean datang dari kayangan menengoknya. Gajadean tinggal di istana untuk beberapa lama. Ia kerasan tinggal di istana Sultan Jafar Nuh. Menurutnya, selain negerinya indah, orangnya ramah-ramah. Semakin lama ia tinggal di negeri itu, semakin dia enggan kembali ke kayangan.

Suatu sore, Sultan Jafar Nuh memanggil Gajadean hendak berbincang-bincang. Ternyata, sang sultan bermaksud mengangkat Gajadean menjadi sangaji. Sangaji adalah penguasa suatu wilayah di bawah Kerajaan Ternate. Gajadean diminta Sultan untuk menjadi sangaji di daerah Tobelo. Dengan senang hati Gajadean menyanggupinya.

"Gajadean adikku, setelah engkau dinobatkan menjadi sangaji di Tobelo, kau akan bergelar sultan. Akan tetapi, kau harus tetap ingat kewajiban seorang sangaji, yaitu menyerahkan upeti ke Kerajaan Ternate seperti yang dilakukan sangaji lainnya," ucap Sultan Jafar Nuh.

"Baiklah, aku akan mengingat pesanmu,"jawab Gajadean.

Beberapa hari kemudian, dengan membawa perbekalan yang cukup dari sultan, Gajadean pergi ke Tobelo. Sesampainya ia di Tobelo, Gajadean mulai membenahi daerah itu. Istana dibangun dan pemerintahan pun mulai dibentuk. Aturan di masyarakat pun mulai dibuat. Gajadean mengangkat dua kapitannya yang tangguh yaitu Kapitan Metalomo dan Kapitan Malimadubo.

Dengan bantuan semua pihak, akhirnya Tobelo menjadi daerah yang maju. Disana Gajadean menjadi penguasa yang arif dan bijaksana. Ia sangat disayangi rakyatnya. Gajadean selalu memperhatikan kepentingan rakyatnya. Rakyat Tobelo juga mengetahui bahwa pemimpinnya bukanlah manusia biasa, ia berasal dari kayangan.

Setiap tahunnya, Gajadean tidak lupa mengirim upeti kepada sultan di Ternate sesuai dengan janjinya sebelum diangkat sebagai sultan. Upeti yang dikirim berupa hasil bumi daerah Tobelo seperti kelapa, gula, dan beras.

Suatu hari, seperti biasanya Gajadean mengirim upeti ke Ternate. Tetapi, ketika hendak kembali ke Tobelo, terompah (alas kaki) yang sebelumnya ia kenakan hilang. Ia memerintahkan seluruh pengikutnya dan para pengawal istana Ternate untuk mencari terompahnya, tapi hasilnya sia-sia. Terompah kesayangannya tetap tidak ditemukan. Akhirnya, Gajadean pulang ke Tobelo tanpa menggunakan terompah kesayangannya. Hatinya kesal, kecewa, dan marah.

"Ini semua pasti perbuatan Sultan Jafar Nuh. Ia iri kepadaku karena terompahku tampak indah dan berkilau. Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan dengannya," kata Gajadean dalam hati.

Setibanya ia di Tobelo, Gajadean terus memikirkan terompahnya yang hilang. Semakin ia berpikir tentang terompahnya, semakin ia benci pada Sultan Jafar Nuh. Ia pun memerintahkan kepada rakyatnya untuk mengumpulkan kotoran mereka yang bau dan menjijikkan ke dalam guci-guci yang sudah disediakan selama setahun. Rakyat merasa aneh dan bingung. Meskipun demikian, rakyatnya tetap menuruti perintah Gajadean.

Setahun telah berlalu. Tibalah waktunya Gajadean untuk mengirimkan upeti kepada Sultan Jafar Nuh. Sebelum Gajadean mengirimkan upetinya, ia memerintahkan kepada seluruh pengawalnya untuk mengumpulkan guci-guci berisi kotoran dari rakyatnya untuk dimasukkan ke dalam kereta yang digunakannya untuk mengirim upeti. Setelah semua dipersiapkan, berangkatlah mereka ke Ternate.

Setibanya di Ternate, Gajadean bertemu dengan Sultan Jafar Nuh. Mereka terlihat akrab seperti tidak terjadi sesuatu. Kemudian, Gajadean menyerahkan upeti itu kepada Sultan Jafar Nuh. Setelah saling mengakrabkan diri, Gajadean pamit kembali ke Tobelo.

Tidak berapa lama setelah Gajadean meninggalkan istana Ternate, Sultan Jafar Nuh memerintahkan pengawalnya untuk membuka upeti-upeti itu. Sultan Jafar Nuh kaget bukan kepalang melihat upeti yang berisi kotoran berbau busuk dan menjijikkan. Sultan Jafar Nuh murka.

"Gajadean kurang ajar. Adikku sendiri bisa berlaku keji terhadapku. Ini namanya penghinaan. Kita perang...! teriak Sultan Jafar Nuh dengan sangat murka.

Akhirnya pecahlah perang saudara antara Sultan Jafar Nuh dengan adik iparnya. Keduanya saling menghancurkan. Dengan siasat khusus, akhirnya pasukan Tobelo berhasil dikalahkan oleh pasukan Ternate.

Pihak Tobelo lari tunggang langgang. Sebagian lari ke hutan dan sebagian lagi lari ke gunung. Mereka terpisah satu sama lain. Kedua anak Gajadean, Kobubu (laki-laki) dan Mama Ua (perempuan) juga terpisah dari orangtuanya. Seluruh rakyat, pengawal, dan kapitan pun tidak ada yang bisa menemukan dimana Gajadean berada.

Kapitan Metalomo dan Kapitan Malimadubo berinisiatif memimpin rakyat secara tidak resmi. Kobubu dan Mama Ua juga berada dalam perlindungan mereka.

Setelah sekian lama berada di tempat persembunyian, rakyat Tobelo pun kembali ke desa mereka. Sesampainya di Tobelo semua merasa bergembira.

Meskipun demikian, Kapitan Metalomo dan Kapitan Malimadubo tetap sedih karena Gajadean belum juga ditemukan. Untuk memimpin rakyat Tobelo, harus segera dicarikan pengganti Gajadean. Setelah sekian lama berdebat, disepakati seluruh rakyat bahwa Kobubu menjadi sultan pengganti Gajadean.

Suatu hari, Mama Ua bertamasya bersama para pengawalnya ke pantai. Ketika itu, Mama Ua melantunkan sajak yang berbunyi,

"Papa Ua nyao delo
Kabunga manyare-nyare
Toma buku molitebu"

Arti sajak itu adalah orang yang tidak berkeluarga, bagaikan ikan di tepi pantai, di tepi pantai di kaki gunung.

Benar-benar ajaib. Selesai sajak itu dilantunkan, muncul gugusan pulau-pulau dari wilayah Mede sampai di depan Tobelo. Berjajar dari Utara ke Selatan. Begitulah terbentuknya pulau-pulau yang berada di depan Tobelo.

Pesan Moral:

Kisah ini mengajarkan kita agar tidak gegabah menghadapi segala masalah. Buatlah keputusan yang bijak ketika ingin menyelesaikan suatu masalah.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0