adhyaksapersada

Pondasi Cakar Ayam Solusi Konstruksi Bangunan di Tanah Lunak Karya Anak Bangsa

DaerahKita 24/07/2020

Bagian pondasi merupakan dasar atau landasan dari sebuah bangunan. Salah satu jenis pondasi yang cukup dikenal masyarakat awam adalah jenis pondasi Cakar Ayam. Walaupun prinsipnya sederhana, tapi pondasi ini terbukti memiliki kekuatan dan daya tahan dalam mendukung struktur di atasnya.

Pondasi Cakar Ayam merupakan teknologi hasil rancangan seorang insinyur sipil Indonesia, bernama Prof. Ir. Sedyatmo Dr HC. yang merupakan lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng atau THS (sekarang ITB) tahun 1930-1934. Ide pembuatan pondasi Cakar Ayam ini bermula ketika Sedyatmo menjabat sebagai Direktur Konstruksi Perusahaan Listrik Negara atau PLN. Ketika itu PLN ditugaskan untuk membangun jaringan listrik dari Ancol ke kawasan lokasi Asian Games ke-4 tahun 1962 di Jakarta, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Menara-menara listrik tegangan tinggi pun harus dibangun di Ancol sebagai bagian dari jaringan tersebut. Di sinilah kemudian timbul masalah. Pembangunan tersebut terkendala struktur tanah Ancol yang lunak. Lapisan terkuat bahkan baru ditemui di kedalaman 25 meter di bawah permukaan tanah. Jika menggunakan cara biasa, pondasi menara tersebut harus diberi beton sepanjang 25 meter. Saat sedang memikirkan masalah itulah, Sedyatmo kemudian mendapatkan ilham dari pohon kelapa tinggi yang dilihatnya di Pantai Cilincing. Pohon ini berdiri tegak dan tak tergoyahkan, meski diterpa angin kencang.

Terinspirasi akar pohon kelapa yang kuat, ia kemudian membuat rancangan pondasi yang menyerupai akar-akar pohon. "Akar" di sini terdiri dari sejumlah pipa beton yang cukup panjang dan ditanam di dalam tanah. Di atas pipa-pipa tersebut dipasang sebuah plat beton, sehingga pipa-pipa itu saling terhubung satu sama lain. Pipa ini kemudian ditautkan ke kerangka plat beton dengan baja pengait. Plat beton inilah yang menjadi landasan bagi tiang listrik tersebut.

Baca Juga:

validnews
Ir. Sedyatmo dan rancangan pondasi cakar ayam

Setelah rancangan tersebut berhasil diuji coba dengan baik, teknologi pondasi ini dikembangkan dalam konstruksi jalan raya, karena dapat dibuat di bawah air dan di atas empang ikan. Teknologi pondasi ciptaan Sedyatmo tersebut cocok digunakan di jalan-jalan raya, jalan kereta api, landasan pelabuhan udara, bangunan, bahkan seluruh perkotaan terlebih untuk daerah yang memiliki struktur tanah lunak atau berawa. Teknologi ini diunggulkan karena mampu menopang beban di tanah yang lunak. Pondasi sistem Cakar Ayam juga mampu mengurangi biaya, material, dan waktu pengerjaan. Daya dukungnya lebih tinggi dan tidak memerlukan sela-sela untuk menampung pengembangan akibat perubahan cuaca. Selain itu, teknologi ini juga tidak memerlukan drainase dan sambungan kembang susut seperti pada pondasi konvensional.

Sebutan Cakar Ayam pun kemudian diberikan, karena konstruksi ini bentuknya mirip cakar ayam. Jari-jari dan kuku ayam yang menusuk ke tanah dan berada di antaranya menjadi alasan pemberian nama ini. Keberhasilan Sedyatmo dalam membuat konstruksi Cakar Ayam ini mengundang ketertarikan para ahli di Perancis. Untuk memastikan kekuatannya, diadakanlah uji skala penuh yang dilakukan dengan simulasi beban pesawat terbang Boeing B747 dengan muatan penuh seberat 360 ton. Uji skala ini dilakukan di landasan terminal bandar udara di Cengkareng. Hasilnya, dari beberapa kali pengujian, landasan dengan konstruksi Cakar Ayam ini mampu menahan berat dan tekanan besar dari pesawat hingga 2000 ton.

Inovasi pondasi cakar ayam ini kemudian dipublikasikan oleh beberapa majalah luar negeri seperti Traffic Enginering, Le Genie Civil, dan lain-lain. Bahkan majalah Foreign Research News menganugerahi Sedyatmo penghargaan dari Highway Research Board sebagai supporting member.

Kini, pondasi Cakar Ayam ini telah diterapkan di beberapa bangunan seperti, ratusan menara listrik tegangan tinggi PLN, apron Bandar Soekarno-Hatta, jalan akses Pluit-Cengkareng, dan masih banyak lagi. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Sedyatmo dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I dan namanya diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Tags infrastruktur jalan tol teknologi sainstek sipil transportasi bandara inovasi PLN Asian Games arsitektur
Referensi:
  1. properti.kompas.com
  2. www.dekoruma.com
  3. masadena.com






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0