merdeka

Abdul Muis, Tokoh Sastrawan Pendorong Berdirinya Institut Teknologi Bandung

DaerahKita 10/05/2020

Abdul Muis lahir pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Agam, dekat Bukittinggi, Sumatra Barat. Beliau adalah seorang tokoh sastrawan. Karyanya yang terkenal berjudul Salah Asuhan (1928) dan karya lainnya adalah Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), Robert Anak Surapati (1953), serta beberapa karya terjemahan. Abdul Muis pernah belajar di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau Sekolah Dokter Bumiputera di Jakarta, tetapi tidak sampai lulus. Beliau lebih suka berorganisasi, bergabung dengan Sarekat Islam (SI), hingga diangkat menjadi anggota pengurus besar. Beliau terkenal sebagai seorang yang sangat anti komunis, sehingga begitu ada anggota SI yang terpengaruh paham tersebut, beliau dengan tegas mengeluarkannya.

Dalam dunia jurnalistik, beliau pernah bekerja di Preanger Bode, surat kabar Belanda yang terbit di Bandung, Harian De Expres pimpinan Danudirdja Setiabudi, dan Harian Kaoem Muda, serta Majalah Neraca pimpinan H. Agus Salim. Tulisan-tulisannya yang dimuat di De Expres banyak berisi kecaman terhadap tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina Indonesia. Beliau mengkritik pemerintah Hindia Belanda yang akan mengadakan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Pada 1917, Abdul Muis diutus ke negeri Belanda atas nama Komite Indie Weerbaar (Ketahanan Hindia Belanda) dan berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan Technische Hoogeschool di Indonesia. Keinginan tersebut akhirnya tercapai pada 1920 dengan didirikannya Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

ITB
Gedung Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB)

Pada tahun 1919, terjadi sebuah peristiwa. Seorang pengawas Belanda di Toli-toli, Sulawesi Tengah dibunuh setelah Abdul Muis berpidato di sana. Setelah itu Abdul Muis pun dituduh telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi sehingga terjadi pembunuhan tersebut. Atas kejadian tersebut, beliau dipersalahkan dan dipenjara. Pada 1920, Abdul Muis terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian. Dua tahun kemudian Abdul Muis memimpin pemogokan buruh di Yogyakarta. Selain itu, beliau sering berkunjung ke daerah-daerah lainnya untuk mengobarkan semangat juang para pemuda.

Suatu kali Abdul Muis pernah "menghasut" para pemimpin lokal di Sumatra Barat untuk melawan Belanda. Bak gayung bersambut, hasutan itu ternyata direspons baik oleh para pimpinan tersebut. Informasi ini diperoleh langsung oleh pemerintah kolonial Belanda lewat tangan W.A.C. Whitlau yang kala itu menjadi residen di Sumatra Barat. Whitlau mengabarkan, bahwa Abdul Muis, yang waktu itu juga merangkap sebagai anggota pimpinan Centrale Sarekat Islam, tengah mengadakan sebuah rapat di Padang pada 1 April 1923.

Tujuan rapat itu jelas untuk menentang keberadaan pemerintah Kolonial Belanda yang ada di Padang. Hal itu tertera jelas dalam selebaran yang dikirimkan Whitlau kepada Gubernur Jenderal Fock. Selain itu, Abdul Muis juga mengadakan rapat di Rumah Bola, Padang, pada 31 Maret 1923, bersama para penghulu dari 18 wilayah di Padang.

Gerak-gerik Abdul Muis tentu saja merisaukan Belanda. Sebagai imbasnya, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan ultimatum supaya Abdul Muis dikeluarkan dari Sumatra Barat dan untuk selanjutnya dilarang tinggal di sana. Abdul Muis Kemudian ia diasingkan ke Garut.

Walaupun demikian, aktivitasnya tidak berhenti. Pada 1926 Abdul Muis terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Enam tahun kemudian beliau diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur. Jabatan ini diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. Di Garut, sebuah daerah yang berjuluk Swiss van Java inilah novel terkenalnya, Salah Asuhan, selesai ditulis. Novelnya ini pernah difilmkan di tahun 1972 oleh sutradara Asrul Sani dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Setelah Indonesia merdeka, Abdul Muis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan demi ikut membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Beliau wafat di Bandung pada 17 Juni 1959 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Beliau adalah orang pertama yang mendapat gelar pahlawan dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada 30 Agustus 1959, berdasarkan Keppres No. 218/1959, pemerintah menganugerahi Abdul Muis sebagai Pahlawan Nasional. Nama Abdul Muis juga diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Jakarta.

Tags pahlawan nasional tokoh sejarah sastrawan pejuang biografi pahlawan edukasi pendidikan universitas
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi
  2. jabar.tribunnews.com






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0