WahyuMedia

Asal Usul Daerah Tapa, Tuladenggi, dan Panthungo

DaerahKita 02/05/2020

Nama tempat sebuah daerah terkadang memiliki kisahnya sendiri. Begitu pula dengan nama tiga daerah yang terletak di Gorontalo yakni Tapa, Tuladenggi, dan Panthungo. Kisah ketiga daerah tersebut bermula ketika ada seorang raja yang hendak melakukan perjalanan panjang.

Dahulu, di Gorontalo, terdapat sebuah kerajaan bernama Bolango. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang yang raja yang arif dan bijaksana bernama Raja Tilahunga.

Suatu hari, Raja Tilahunga mengadakan rapat besar. Rapat itu dihadiri oelh para pembesar dan hulubalang kerajaan. Mereka hendak membicarakan rencana raja untuk melakukan perjalanan yang cukup panjang.

"Aku akan pergi jauh. Aku minta kalian mempersiapkan semua kebutuhan kita selama bepergian. Aku percaya kalian bisa mengerjakan tugas kalian masing-masing dengan baik. Aku harap beberapa pejabat istana dapat mengurus istana ini dengan baik selama kepergianku," demikian titah sang raja.

Sebelum rapat selesai, hujan badai dan kilat menyambar. Bendera-bendera istana sobek terkena petir dan angin kencang. Meskipun cuaca di luar kurang bersahabat, rapat kerajaan tetap berlangsung.

Tiga hari kemudian, sesuai yang telah direncanakan sebelumnya, berangkatlah sang raja bersama para pengawalnya dengan membawa perbekalan yang cukup. Perjalanan Raja Tilahunga beserta rombongannya dimulai dari Bolango ke arah hulu.

Jalan yang mereka tempuh tidaklah mudah. Bukit-bukit, lembah, maupun sungai berbatu harus dilalui. Hal ini membuat tenaga mereka terkuras. Tibalah mereka di sebuah bukit. "Para pengawal, berhenti!" teriak sang raja.

Secara serempak semua anggota rombongan Raja Tilahunga berhenti. Raja pun berkata, "Sebaiknya kita beristirahat sejenak di bukit ini."

Raja Tilahunga adalah raja yang bijak dan baik hati. Ia ingin mengakrabkan diri dengan semua anggota rombongan yang ada. Oleh karena itu, beliau melepaskan semua atribut raja yang dikenakannya. Ia meletakkan tanda-anda kebesaran raja itu di tanah. Hal ini menandakan bahwa dirinya meletakkan jabatannya sementara sebagai raja. Sejak saat itu, tanah berbukit itu dinamakan bukit Tapa. Diambil dari kata tapatopo yang berarti meletakkan atau menitipkan sesuatu (jabatan) yang sifatnya sementara

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini perjalanan semakin berat. Sebab, kondisi semakin panas sementara perut terasa kosong. Melihat para pengawalnya mulai lelah dan kelaparan, ketika melewati padang rumput yang luas dan hijau, raja memutuskan untuk berhenti. "Pengawal, berhenti!" begitu teriak sang raja.

Seluruh rombongan pun berhenti. Tampak di wajah para pengawal bahwa mereka sudah kelelahan. Mereka juga tampak kehausan.

"Sebaiknya kita buka perbekalan kita di sini. Tapi jangan lupa untuk merapikan kembali setelah selesai makan. Jangan sampai ada yang tertinggal," ucap sang raja.

Semua anggota rombongan tampak gembira. Mereka dengan suka cita membuka perbekalan masing-masing. Namun, ada salah satu anggota rombongan yang jahat. Orang itu bernama Denggi. Ia merampas bekal beberapa anggota rombongan ketika semua sedang sibuk merapikan seluruh perbekalan. Hal itu menimbulkan kericuhan di antara sesama anggota rombongan.

Mengetahui keserakahan Denggi, raja pun menegurnya dengan baik-baik. Denggi merasa malu dan ia menyadari perbuatannya. Sejak saat itu, padang rumput yang luas itu diberi nama Tuladenggi. Nama itu diambil dari kata tula yang berarti "rakus". Jadi Tuladenggi bermaksa Denggi yang rakus. Setelah semua masalah telah selesai, Raja Tilahunga dan rombongannya melanjutkan perjalanan.

Cukup lama sudah mereka berjalan, akhirnya melewati jalan di pinggiran Danau Limboto. Betapa indah pemandangan di sekitarnya. Tampak bukit-bukit hijau menghiasi Danau Limboto. Raja Tilahunga sangat menyukai keindahan daerah itu. Saat itu, cuaca sudah semakin gelap. Raja Tilahunga memutuskan untuk mendirikan tenda di daerah itu.

"Hulubalang, tempat ini sangat indah. Aku ingin membuat kebun di sini," ucap Raja Tilahunga. "Baiklah Baginda," ucap hulubalang.

Sang Hulubalang pun memerintahkan para pengawal untuk membuat kebun di daerah itu. Tetapi, ketika semua perlengkapan berkebun dikeluarkan, banyak peralatan yang tangkai pegangannya rusak seperti cangkul, kapak, dan gergaji. Mengetahui hal itu, Raja Tilahunga kemudian memberi nama tempat itu Panthungo yang artinya tangkai pegangan alat berkebun.

Para pengawal kemudian memperbaiki alat-alat berkebun tersebut. Setelah selesai diperbaiki, semua anggota rombongan bekerja membuat perkebunan. Ada yang menebang pohon, membuat rakit, dan perahu untuk menangkap ikan di danau. Ada pula yang menanam sayur-sayuran.

Semua rombongan tinggal di daerah itu selama beberapa waktu. Karena tanahnya yang subur, hasil kebun pun melimpah ruah. Ikan-ikan di danau juag tampak besar dan banyak. Raja Tilahunga kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka melakukan perjalanan panjang untuk kembali ke Bolango dengan membawa hasil panen mereka di Panthungo.

Pesan Moral: Kisah ini mengajarkan kita beberapa hal, antara lain:

  • Ketika menjadi pemimpin kita harus bersikap baik, rendah hati, adil, dan bijaksana.
  • Jadi orang janganlah sombong dan rakus.
  • Untuk mendapatkan hasil yang bagus, kita harus bekerja keras.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0