wahyumedia

Si Pitung Jagoan Betawi

DaerahKita 16/02/2020

Pitung adalah pemudah yang saleh dan berbudi luhur dari Rawa Belong. Selain belajar ilmu agama, Pitung jug belajar ilmu beladiri. Karenanya, selesai mengaji, ia belajar silat dari Haji Naipin. Semakin hari kemampuan agama maupun silatnya makin bertambah. Si Pitung pun menjadi pendekar yang gagah berani, berakhlak tinggi, dan selalu membela kaum lemah.

Ketika itu, Belanda masih menjajah Indonesia. Para kompeni (sebutan untuk orang Belanda) bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Para tauke (pemilik toko, pabrik, dan lainnya) dab para tuan tanah hidup mewah bergelimang harta. Sedangkan rakyat biasa hidup miskin dan kelaparan. Kompeni, tauke, dan tuan tanah hidup di atas penderitaan rakyat dengan cara memeras rakyat miskin. Rumah dan ladang para penguasa tersebut dijaga oleh para centeng atau tukang pukul yang galak dan kejam.

Melihat rakyat jelata tertindas dan keadilan tidak ditegakkan, hati Pitung tergugah. Pitung tergugah. Ia bersama temannya, Rais dan Jiih, berusaha melindungi dan membela kaum yang lemah. Merekea berencana merampok harta benda milik kompeni, tuan tanah, dan para tauke yang kaya raya. Kemudian hasil rampokan tersebut dia bagikan kepada orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk keluarga yang miskin, Pitung dan teman-temannya memberikan sepikul beras kepada mereka. Untuk keluarga yang terbelit hutang, mereka berikan santunan. Sedangkan untuk anak yatim piatu, mereka berikan baju dan hadiah lainnya.

Para penduduk sangat berterimakasih kepada Pitung dan teman-temannya karena telah membantu kaum yang tertindas. Namun, tindakan Pitung dan teman-temannya yang merampok harta kompeni, tuan tanah, dan para tauke memancing kemarahan para pembesar itu.

"Pitung dan teman-temannya sudah tidak bisa didiamkan lagi. Kita harus tangkap mereka hidup atau mati," ucap salah seorang tuan tanah.

"Iya, aku setuju. Tapi, bagaimana kita menangkapnya? Para centengku yang andal saja tidak mampu melawannya," tanya seorang tauke yang merasa bingung menghadapi Si Pitung.

"Ya, kami saja yang memiliki pistol tidak mampu membunuhnya.Peluru kami tidak bisa menembus tubuhnya," ucap seorang kompeni.

Para pembesar yang sudah geram dengan perbuatan si Pitung bertekad untuk menangkapnya. Namun, Pitung sukar ditemukan. Para penduduk yang merasa telah berhutang budi kepada si Pitung, berusaha melindunginya. Tidak ada satu pun penduduk yang mau membuka mulut tentang keberadaan Si Pitung. Selain itu, Pitung pun tidak mudah untuk dibunuh. Ia memiliki ilmu kebal terhadap senjata apa pun juga.

Hal ini membuat para pembesar yang serakah itu pusing tujuh keliling. Mereka terus mencari akal untuk melenyapkan Si Pitung dan teman-temannya. Akhirnya, mereka menggunakan cara kekerasan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan Si Pitung dan keluarganya. Usaha mereka itu tidak sia-sia, akhirnya didapatlah informasi mengenai keluarga Si Pitung.

Para kompeni segera menangkap dan menyiksa kedua orangtua Pitung bersama Haji Naipin dengan kejam. Mereka dicambuk berulangkali sampai pingsan.

"Hai, cepat katakan di mana anak kalian! Kalau tidak, kami akan menyiksa dan mencambuk kalian terus-menerus," teriak salah seorang kompeni. "Kami tidak akan memberitahukan di mana Pitung," kata kedua orangtua Pitung.

"Apa susahnya untuk kalian memberitahukan di mana Pitung berada. Paling tidak rahasia kekebalan Pitung. Jika kalian beritahu kami, kalian bebas. Bahkan, kami bisa memberi kalian hadiah. Tapi, jika kalian tetap bungkam, kalian akan mati perlahan-lahan dengan siksaan yang sangat pedih," ancam kompeni.

Dengan susah payah, akhirnya mereka akhirnya mendapatkan informasi tentang keberadaan Si Pitung. Selain itu, mereka juga mendapatkan informasi yang sangat berharga tentang rahasia kekebalan Si Pitung.

"Cepat tangkap Si Pitung bersama teman-temannya itu! Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya mati. Sudah cukup banyak kita dirugikan karena perbuatannya. Enak saja dia mencuri harta kita," teriak kompeni.

Para tentara kompeni pun segera menyergap dan menangkap Si Pitung beserta teman-temannya. Pitung dan teman-temannya berusaha melawan sergapan para tentara kompeni. Tapi, apa hendak dikata, rahasia kekebalan Pitung sudah diketahui oleh para kompeni. Pitung dilempari telur busuk. Setelah seluruh tubuhnya terkena telur busuk, ia pun dihujani dengan tembakan oleh para tentara kompeni. Si Pitung yang sudah hilang kekebalannya akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tangan kompeni.

Meskipun Si Pitung sudah mati ditangan kompeni, jasanya terhadap rakyat miskin yang tertindas tetap dikenang. Sampai saat ini, ia tetap dikenang oleh masyarakat Betawi sebagai pendekar yang gagah berani melawan penjajah.

Pesan moral:

Kisah Si Pitung memberikan gambaran pada kita bahwa betapa besarnya jasa para pahlawan yang dahulu membela negara kita dari kaum penjajah. Oleh karena itu, jangan pernah kita lupakan jasa para pahlawan yang telah membela tanah air kita. Kta sebagai penerus bangsa, harus menjadi anak yang baik terhadap sesama, dan saling menolong. Menolong orang yang membutuhkan bantuan adalah tindakan yang terpuji dan mendapatkan pahala dari Tuhan YME.

Tags cerita kisah legenda budaya sastra dongeng fiksi anak edukasi
Referensi: Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara - Sumbi Sambangsari





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0