wahyumedia

Telaga Warna, Cerita Rakyat Jawa Barat

DaerahKita 21/01/2020

Alkisah, di Jawa Barat terdapat sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja dan permaisuri yang sangat arif dan bijaksana. Raja tersebut biasa dipanggil sang Prabu oleh rakyatnya. Tidak heran jika sang Prabu dicintai oleh rakyatnya. Negerinya aman dan tenteram. Rakyatnya pun hidup dalam damai dan sejahtera.

Walaupun demikian, ada satu hal yang membuat sang Prabu dan permaisurinya gundah gulana. Mereka masih belum dikaruniai anak. Padahal, berbagai tabib terkenal telah mereka datangkan. Tapi, tida satupun yang berhasil mewujudkan keinginan mereka.

Suatu hari, sang Prabu memanggil penasihat istana. Ia mengungkapkan kegundahannya selama ini. "Paman penasihat, aku selalu terbangun tengah malam. Sebab aku selalu mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku telah wafat dan kerajaan menjadi kacau tanpa seorang penerus tahta kerajaan. Tidak ada yang melindungi dan memperhatikan rakyatku," ucap sang Prabu.


"Hamba kira itu hanya kekhawatiran Baginda saja. Bagaimana jika Baginda dan Permaisuri mengangkat seorang anak?" tanya penasihat.

"Tidak, kami hanya ingin anak dari keturunan kami sebagai penerus tahta kerajaan," jawab sang Prabu dan Permaisuri.

Hari berganti hari, tapi Permaisuri masih belum dikaruniai anak. Ia selalu terlihat murung. Melihat hal itu, sang Prabu merasa sangat sedih. Ia pun ergi ke hutan untuk bertapa dan berdoa agar dikaruniai anak.

Berbulan-bulan sudah sang Prabu pergi meninggalkan istana. Ternyata usahanya tidaklah sia-sia. Setelah penantian yang panjang dengan diiringi doa, akhirnya Permaisuri mengandung. Kebahagiaan menyelimuti seluruh kerajaan. Rakyat pun bergembira mendengar kehamilan sang Permaisuri. Dengan membawa bermacam-macam hadiah, rakyat datang ke istana untuk menyampaikan ucapan selamat.

Sembilan bulan pun berlalu, Permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan yang mungil dan sangat cantik. Semua rakyat kembali memberikan berbagai hadiah untuk sang Putri kecil.

Tahun telah berlalu, Putri kecil tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tidak berapa lama lagi sang Putri akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Seluruh istana sibuk mempersiapkan pesta yang sangat mewah karena semua rakyat akan diundang untuk berpesta.

Hadiah-hadiah untuk sang Putri mulai membanjiri istana. Sang Prabu sibuk mengumpulkan dan menyimpan hadiah-hadiah itu dalam sebuah ruangan istana yang sangat luas. Oleh sang Prabu, hadiah itu digunakan untuk sewaktu-waktu kepentingan rakyat. Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata untuk dijadikan sebagai hadiah ulang tahun Putrinya.

"Hai Tuan, tolong kau buatkan kalung yang paling indah di dunia untuk putriku tercinta!" pinta sang Prabu kepada ahli perhiasan.

"Dengan senang hati Yang Mulia. Aku akan ciptakan kalung terindah untuk sang Putri yang sangat cantik," kata ahli perhiasan bersedia.


Hari ulang tahun yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga. Semua penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Tempat itu kini telah disulap menjadi senuah tempat pesta yang sangat indah dengan hiasan bunga-bunga yang cantik. Makanan-makanan lezat dan iringan musik pun membuat suasana pesta menjadi makin meriah.

Sang Prabu dan Permaisuri keluar dari istana untuk menemui penduduk negeri yang sejak pagi sudah berkumpul berdesak-desakan. Sambutan hangat dari mereka menambah kemeriahan pesta. Sambutan semakin hangat ketika sang Putri yang sangat cantik keluar dari istana. "Wah, sang Putri benar-benar cantik," puji seluruh undangan yang hadir pada saat itu.

Suara yang mengelu-elukan dan mengagungkan keluarga istana pun ramai terdengar. "Hidup Raja.., hidup Permaisuri.., hidup Putri..."

Sang Putri pun menghadap Raja dan Permaisuri, "Ananda menghadap, Ayahanda, Ibunda," ucapnya lembut.

Kemudian, sang Prabu bangun dari singgasana dan menyerahkan hadiah istimewanya, "Putriku yang tercinta, terimalah hadiah istimewa dari seluruh penduduk negeri ini untukmu. Mereka sangat mencintaimu," ujarnya.

Sang Putri menerima hadiah dari Raja, lalu membukanya. Ketika melihat kalung tersebut, ia berkata, "Ah, kalung apa ini? Aku tidak mau memakainya. Kalung ini jelek."

Kalung itu dibuangnya ke lantai hingga semua batunya terlepas dan bertebaran. Melihat kejadian itu, semua yang hadir terdiam. Tidak ada seorangpun yang berani berkata-kata.

Tidak berapa lama, terdengar suara tangis. Ternyata suara itu berasal dari Permaisuri yang kecewa terhadap sikap anaknya. Permaisuri sedih melihat hadiah yang diberikan oleh seluruh penduduk negeri tidak dihargai.

Semua yang hadir di pesta itu pun sangat sedih dan akhirnya menangis. Istana dibanjiri air mata. Hal yang tidak diduga pun terjadi, tiba-tiba saja muncul mata air dari alun-alun istana. Semakin lama, mata air itu semakin deras sehingga membentuk danau dan menenggelamkan istana.

Danau itu disebut Telaga Warna, sebab danau itu bisa berubah warna sehingga tampak indah. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Konon, para penduduk mempercayai bahwa warna-warna tersebut berasal dari batu-batu kalung sang Putri yang tersebar di dasar telaga.

Pesan Moral:

  • Sabar dan terimalah apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Sebab, apapun keputusan-Nya pasti mempunyai maksud yang baik untuk kita.
  • Hargailah pemberian orang lain agar mereka senang. Jangan pernah mengecewakan mereka.

Tags kisah cerita legenda tradisi mitos cerita rakyat dongeng
Referensi: Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Sumbi Sambangsari





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0