palembanghistory

Rumah Rakit Palembang, Bangunan Adat Terapung Tradisional Di Sumatera Selatan

DaerahKita 21/12/2019

Adanya aliran sungai besar di Sumatera Selatan berpengaruh juga terhadap kekayaan arsitektur tradisional yang ada di daerah tersebut. Beberapa sungai yang mengalir di Sumatera Selatan adalah Sungai Musi, Sungai Ogan, dan Sungai Komering. Sungai yang menjadi tempat aktivitas sehari-hari masyarakat tidak sekedar sebagai sarana transportasi, tapi juga menjadi tempat untuk tinggal.


Tempat tinggal di tepi sungai yang cukup unik adalah rumah rakit. Seperti namanya, rumah rakit berupa bangunan tempat tinggal yang dibangun di atas rakit sehingga bisa terapung di tepi sungai. Memiliki bentuk persegi panjang, rumah rakit dibuat dengan ukuran kurang lebih sekitar 36 sampai 64 meter persegi. Bagian atap rumah rakit mempunyai bentuk mirip pelana dan merupakan atap kajang, yaitu bahan yang terbuat dari daun nipah kering.

Bagian dindingnya berupa kayu dengan serat yang cukup padat, sementara fondasi rumah terbuat dari bambu yang berusia cukup tua agar tahan lama. Bambu besar yang memiliki ukuran diameter bervariasi digunakan sebagai fondasi rumah dengan cara saling diikatkan satu dengan yang lainnya, kemudian diikatkan dengan menggunakan pasak. Bambu di sini berfungsi sebagai alat pengapung rumah tersebut. Untuk saat ini, alat pengapung juga diberi material tambahan seperti drum, ban mobil, dan lainnya.

Rumah rakit memiliki dua buah pintu. Satu di antaranya menghadap ke sungai, sedangkan satu lagi menghadap ke daratan dengan jendela yang terdapat di bagian sisi kanan dan kiri rumah atau tepatnya berdekatan dengan pintu. Ruang utama rumah rakit digunakan untuk menerima tamu dan ruang lainnya digunakan sebagai kamar-kamar tidur. Dapur rumah rakit memiliki letak yang variatif bagi beberapa rumah, di antaranya ada yang terletak di dalam dan ada juga yang terletak di luar rumah. Selain menggunakan papan kayu sebagai dinding rumah rakit, beberapa rumah rakit menggunakan ‘pelupuh’ atau bambu yang telah dicacah dan direntangkan sebagai dinding rumah. Pelupuh ini biasanya digunakan oleh keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

facebook
Rumah Rakit Palembang di masa lalu

Karena rumah rakit menggunakan dari bahan yang mampu terapung di atas permukaan air, dapat dipastikan bahwa ketinggian rumah rakit mengikuti tingkat ketinggian permukaan air sungai. Dengan demikian rumah, ini termasuk rumah yang antibanjir. Rumah rakit pun tidak akan berpindah-pindah tempat meskipun arusnya deras. Keempat sudut rumah ini telah disangga menggunakan tiang yang kokoh yang ditancapkan di dasar sungai dan juga diikatkan ke tonggak utama yang terbuat dari kayu tembesu di tanah pinggir sungai dengan tali cukup besar yang terbuat dari rotan.

Apabila pemilik rumah menginginkan rumah rakitnya berpindah tempat, rumah rakit harus berfungsi sebagai rakit yang mampu berjalan di atas sungai dengan lantai rumah tetap dalam kondisi kering tidak tersentuh air.


Sejarah rumah rakit mulanya pada masa kesultanan Palembang. Dalam masa kesultanan itu warga Cina yang berdatangan ke Palembang diharuskan tinggal di perairan. Kemudian membuat rumah rakit dari kapal-kapal mereka sebagai tempat tinggal. Orang Cina yang datang lebih banyak ketimbang orang dari bangsa lain seperti India dan lainnya.

mang-betok
Rumah Rakit Palembang

Mereka pada umumnya berdagang. Sementara Sungai Musi adalah transportasi utama. Aturan dari kesultanan Palembang yang menyatakan orang Cina harus tinggal di sungai, tidak merugikan. Rumah rakit juga kemudian berkembang tidak hanya orang Cina mula-mula saja yang bertempat tinggal. Warga pribumi juga menetap membuat rumah rakit. Bahkan bangsa kolonial juga suka tinggal di rumah tersebut.

Sungai Musi urat nadi transportasi. Dalam perkembangannya, pribumi dari uluan menjual hasil bumi ke Palembang melalui jalur sungai. Mereka membawa hasil bumi tersebut dengan rakit. Membawa kelapa, pisang dan hasil bumi lainnya pakai rakit. Jadi rakitnya besar ya kemudian mereka ikut arus sungai. Kalau begitu, mereka tidak membawa rakit-rakit tersebut ke daerahnya lagi. Ditinggal di situ. Lama-kelamaan, rakit itu dijadikan rumah.

Bangsa Eropa yang menjajah tanah Sriwijaya juga disebutkan suka tinggal di rumah rakit tersebut. Bagi mereka, tinggal di rumah tersebut sebagai hiburan dan rekreasi.Ramai dan hidupnya suasana sungai oleh hiruk pikuk manusia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa Eropa tinggal di tempat tersebut. Suasana nan sejuk juga sebagai daya tarik bangsa Eropa untuk tinggal di rumah rakit.

Demikianlah sekilas tentang rumah rakit unik salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Tags rumah adat arsitektur wisata budaya
Referensi:
  1. sumsel.tribunnews.com
  2. Berbagai sumber






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0