daerahkita

Dayang Bandir Dan Sandean Raja - Cerita Rakyat Sumatera Utara

DaerahKita 19/10/2019

Dikisahkan pada suatu ketika di wilayah Sumatera Utara terdapat dua buah kerajaan. Kerajaan ini dikenal dengan nama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Raja dari Kerajaan Timur menikah dengan adik perempuan dari Raja Kerajaan Barat.

Setelah beberapa tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Dayang Bandir. Keduanya sangat menyayangi Dayang Bandir.

Tujuh tahun telah berlalu, suami istri itu dikaruniai lagi seorang putra. Ia diberi nama Sandean Raja. Namun sayang, kebahagiaan mereka ternyata tidak berlangsung lama. Ketika anak-anak mereka masih kecil, Raja Kerajaan Timur meninggal dunia. Hal ini menimbulkan kekosongan pemerintahan di Kerajaan Timur. Sandean Raja tidak mungkin menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja karena usianya yang masih sangat muda.

Kemudian, diadakanlah sidang kerajaan untuk menentukan siapa yang berhak menduduki tahta Kerajaan Timur untuk sementara waktu sampai Sandean Raja dewasa. Dalam sidang itu diputuskan yang akan mengendalikan pemerintahan untuk sementara adalah Paman Karaeng. Sejak awal, Paman Karaeng memang berkeinginan menduduki tahta kerajaan itu.

Dayang Bandir yang cerdik mengetahui niat jahat sang paman kemudian menyembunyikan benda-benda pusaka kerajaan agar tidak jatuh ke tangan Paman Karaeng yang serakah. Tapi sayang, perbuatan Dayang Bandir diketahui sang paman. Ia pun dipaksa untuk mengatakan letak benda pusaka yang disembunyikan. Akan tetapi, Dayang Bandir tetap tidak mengatakannya.



Paman Karaeng mulai kesal. Ia pun berkata keras pada Dayang Bandir, "Hai anak kecil, jika kau tidak mau mengatakan di mana benda pusaka kerajaan disembunyikan, maka keselamatanmu terancam."

"Tidak, aku tidak akan mengatakannya padamu. Adik Sandean Raja yang berhak atas benda-benda pusaka kerajaan. Bukan kamu," jawab Dayang Bandir dengan tegas.

Kekesalan Paman Karaeng pun memuncak. Akibatnya, Dayang Bandir dan Sandean Raja dibuang ke hutan. Sesampainya di hutan, Paman Karang mengikat Dayang Bandir di atas sebuah pohon yang tinggi, sehingga Sandean Raja, adiknya yang masih kecil, tidak mampu menjangkaunya.

Berkali-kali Sandean Raja mencoba untuk memanjat pohon itu untuk menyelamatkan kakaknya, tapi berkali-kali itu juga ia jatuh ke tanah. Tubuhnya pun dipenuhi luka gores akibat terjatuh. Sandean Raja tak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis keras sampai air matanya tidak bisa keluar lagi.

"Adikku, maafkan kakak tidak bisa menjagamu lagi. Jika kau lapar, makanlah buah-buahan yang ada di hutan ini. Namun, jika kau tidak mendapatkannya, makanlah pucuk-pucuk daun yang ada di sekelilingmu," ucap Dayang bandir kepada adiknya.

Tubuh Dayang bandir semakin lemas. Ia tidak diberi makan sedikitpun oleh Paman Karaeng. Setelah berhari-hari tergantung tanpa makan, akhirnya Dayang Bandir menghembuskan nafas terakhirnya.

"Paman kejam...," teriak Sandean Raja.

Bertahun-tahun sudah Sandean Raja hidup seorang diri di dalam hutan. Ia pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Setiap hari, Sandean raja ditemani arwah sang kakak yang selalu menjaganya.

"Adikku, pergilah kau menemui Raja Soma di Kerajaan Barat," bisik arwah Dayang Bandir pada suatu malam.

Raja Soma adalah adik kandung dari ibu Dayang Bandir dan Sandean Raja. Ia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Paman Karaeng. Ia adalah raja yang baik hati, sedangkan Paman Karaeng yang sekarang telah menjadi raja Kerajaan Timur memiliki sifat yang serakah dan kejam.

Untuk melaksanakan pesan sang kakak, Sandean Raja keluar dari hutan menuju Kerajaan Barat. Setelah berhari-hari menmpuh perjalanan, akhirnya tibalah ia di Kerajaan Barat menemui Raja Soma. "Maaf Baginda, hambda adalah Sandean Raja, putra mahkota Kerajaan Timur," kata Sandean Raja.



Betapa terkejutnya Raja Soma mendengar pengakuan itu. Sudah bertahun-tahun oa tidak mendengar kabar dari keponakannya itu. Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Kerajaan Timur adalah kedua keponakannya telah lama meninggal dunia. Tapi kini, ada seorang pemuda yang mengaku bahwa dia adalah keponakannya. Ini benar-benar hal yang membingungkan untuknya.

"Baginda, hamba benar-benar Sandean Raja. Hamba belum meninggal. Kakak hamba, Dayang Bandir, lah yang telah meninggal. Itu semua karena Paman Karaeng yang jahat. Apa yang hamba harus lakukan untuk membuktikan perkataan hamba?" tanya Sandean Raja.

"Baiklah, jika kau benar-benar keponakanku, coba kau pindahkan sebatang pohon ke istanaku," ucap Raja Soma.

Untuk membuktikan bahwa dirinya adalah keponakan dari Raja Soma, akhirnya Sandean Raja melaksanakan syarat itu dan berhasil. Tapi, Raja Soma tidak begitu saja percaya. Ia pun mengajukan syarat yang kedua yaitu Sandean Raja diharuskan menebas sebidang hutan untuk dijadikan perladangan. Dalam waktu singkat, Sandean Raja berhasil melaksanakan syarat tersebut.

Melihat hal itu, Raja Soma mulai bingung. Untuk memastikannya, ia pun mengajukan syarat yang ketiga. "Sekarang, syarat yang ketiga adalah kau harus membuat Rumah Bolon (istana besar) untukku."

Syarat itu tidak menjadikan Sandean Raja patah semangat. Dengan sigap ia membuat sebuah Rumah Bolon. Dalam waktu tiga hari, Rumah Bolon itu berhasil didirikan. "Benar-benar pemuda yang hebat," ucap Raja Soma dalam hati.

Untuk lebih meyakinkan dirinya, Raja Soma meminta Sandean Raja untuk menunjukkan seorang putri raja di antara puluhan gadis yang berada di sebuah ruangan gelap. Sandean Raja merasa khawatir jika ujian terakhir ini tidak berhasil dilaksanakannya.

"Tiba-tiba terdengar suara bisikan halus, "Tenang saja Dik. Aku akan membantumu," ucap arwah Dayang Bandir.Sandean Raja kemudian dibawa oleh Raja Soma ke sebuah ruangan yang sangat gelap. Sementara, kedua matanya ditutup selembar kain. Sambil berjalan perlahan, Sandean Raja memasuki ruangan dan mulai memilih gadis mana yang merupakan putri raja.

Tidak berapa lama, Sandean Raja memegang kepala gadis yang sedang bersimpuh. Ketika penerangan ruangan dinyalakan dan penutup mata Sandean Raja dibuka, ternyata gadis yang dipilih memang benar merupakan putri raja. Akhirnya Sandean Raja diakui sebagai ponakan Raja Soma dan dinikahkan dengan putrinya.

Setahun telah berlalu, dan Sandean Raja menyerang Kerajaan Timur bersama bala tentara Kerajaan Barat. Kerajaan Timur yang saat itu dipimpin oleh Paman Karaeng mengalami kekalahan. Paman Karaeng tewas di tangan Sandean Raja. Akhirnya, kekuasaan Karajaan Timur berhasil dikuasai kembali oleh Sandean Raja. Ia pun lalu dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Timur.

Walaupun telah berhasil mendapatkan tahtanya kembali, Sandean Raja tetap berlaku arif dan bijaksana. Ia pun hidup bahagia bersama istri dan rakyatnya.

Pesan Moral: Usaha yang keras akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Sebab sebuah keberhasilan memerlukan pengorbanan.

Tags kisah cerita dongeng legenda anak mitos cerita rakyat
Referensi: Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara oleh Sumbi Sambangsari





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0