kamerabudaya

Sulah Nyanda Rumah Adat Suku Baduy Banten Yang Sarat Makna

DaerahKita 30/09/2019

Salah satu keunikan Banten adalah masih adanya suku asli di provinsi ini yang cara hidupnya tidak banyak berubah sejak jaman dulu. Mereka adalah masyarakat Suku Baduy. Di tengah kemajuan jaman yang begitu pesat, masyarakat Baduy tetap mempertahankan adat tradisi dan kebiasaan yang sudah berlangsung turun-temurun, terutama Suku Baduy Dalam. Termasuk dalam hal rumah tinggal mereka.

Karena masih kuat memegang tradisi, di kawasan Suku Baduy Dalam hingga kini kita dapat dengan mudah melihat bentuk rumah adat mereka yang asli. Nama rumah adat itu bernama Sulah Nyanda. Nama tersebut sebenarnya berkaitan dengan bentuk atap rumah adat ini. Nyanda memiliki arti posisi perempuan yang baru saja menjalani persalinan, yaitu posisi bersandar dengan tidak tegak lurus. Karena itu, bentuk atap rumah adat Sulah Nyanda memiliki kemiringan yang rendah seperti posisi yang agak merebah kebelakang. Atap rumah adat Baduy ini bentuknya mirip dengan salah satu model rumah adat Sunda yang disebut Julang Ngapak.

daerahkita
Gambar A merupakan tampak samping rumah adat Baduy, Sulah Nyanda, sedangkan Gambar B adalah tampak samping rumah adat Sunda, Julang Ngapak

Bangunan rumah adat Baduy dibuat tinggi, berupa rumah panggung, mengikuti kontur tanah. Pada tanah yang permukaannya miring atau tidak rata, rumah disangga dengan tumpukan batu kali. Batu ini berfungsi sebagai tiang penyangga bangunan agar tanah tidak longsor.

Letak bangunan rumah yang mengikuti kontur tanah merupakan aturan adat yang harus diikuti. Lahan untuk bangunan tidak boleh diratakan, karena bangunan harus menyesuaikan dengan alam dan bukan sebaliknya agar struktur tanah aslinya tidak rusak karena pembangunan rumah. Hal ini pula yang mengakibatkan tiang-tiang rumah adat Suku Baduy tidak memiliki ketinggian yang sama.

Di perkampungan Suku Baduy, seluruh bangunan dibangun menghadap satu dengan yang lainnya. Secara adat rumah Baduy hanya diperbolehkan menghadap ke utara dan selatan saja. Menghadap ke arah barat dan timur tidak diperkenankan berdasarkan adat.



Pengaturan seperti itu bertujuan agar matahari dapat masuk dari arah Timur dan Barat. Pada Lokasi sebelah Timur hanya diisi dengan sejumlah kecil rumah agar tidak menghalangi cahaya matahari masuk ke lokasi. Rumah pimpinan diletakkan di sebelah Selatan dan ditinggikan letaknya dari rumah rumah lainnya.Peninggian tanah mengandung makna lebih suci dan dipentingkan dari lainnya.

hotelpurwokerto
Rumah adat Baduy dalam, Sulah Nyanda yang dibangun di atas lahan tidak rata

Ada beberapa bagian ruangan pada rumah adat Baduy, yaitu sebagai berikut.

  1. Golodog

    Golodog merupakan serambi luar dan jalan masuk ke rumah dan berfungsi sebagai peralihan dari luar ke dalam rumah.

  2. Soroso

    Bagian depan rumah yang berupa serambi dalam disebut Soroso. Penghuni rumah biasanya menjadikan Soroso sebagai tempat bersantai sekaligus tempat untuk menerima tamu. Selain itu, ruangan ini juga menjadi tempat berkegiatan anak-anak perempuan utamanya dalam kegiatan menenun. Ruang ini kadang-kadang disebut Ruang Sosoro mempunyai dimensi terbesar di dalam rumah yaitu dua kali ruang Imah maupun Tepas.

  3. Tepas

    Masuk ke area berikutnya di dalam rumah, terdapat ruangan bernama Tepas. Ruang Tepas menjadi pusat berbagai aktivitas utama keluarga di rumah seperti untuk acara syukuran dan juga pertemuan. Ruangan ini pun bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat di malam hari. Ruang Tepas merupakan ruang semi privat. Ruang ini berfungsi sebagai ruang tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk mengobrol dengan warga sekampung, menerima tamu dari keluarga dekat. Tamu biasa tidak diperkenankan untuk memasukinya. Ruang Tepas juga difungsikan sebagai tempat memasak dan tempat penyimpanan alat alat rumah tangga.

  4. Imah

    Rumah adat Baduy hanya mempunyai satu ruang tertutup yaitu Imah sebagai kamar Imah merupakan pusat dari sebuah rumah. Imah merupakan satu satunya ruang yang bermakna privat. Imah merupakan salah satu ruang di dalam rumah yang merupakan pusat atau inti suatu rumah. Dalam imah seluruh kegiatan keluarga dilakukan seperti memasak, makan, tidur dan berkumpul dengan keluarga. Ruang ini hanya boleh dimasuki oleh sekeluarga empunya rumah saja. Ruangan ini terletak di bagian belakang rumah dan juga menjadi tempat untuk menyimpan bahan makanan yang akan dimasak. Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar. Alas tersebut digunakan hanya sewaktu tidur, setelah itu dilipat kembali dan disimpan di atas rak. Dengan menggelar tikar segagai alas, ruangan ini berubah menjadi tempat beristirahat di malam hari bagi kepala keluarga. Lantai ruang Imah dibuat paling tinggi dibanding ruangan lainnya.

Rumah tinggal orang Baduy fleksibel penggunaannya, ruang difungsikan untuk berbagai aktivitas misalnya ruang Tepas dapat dijadikan ruang keluarga, ruang tamu, ruang masak, ruang simpan dan ruang tidur anak perempuan. Ruang Sosoro dapat dijadikan kamar tamu, ruang tamu, ruang simpan dan kamar anak laki laki. Ruang Imah merupakan satu satunya ruang yang berfungsi tetap. Ruang Imah merupakan ruang yang multi fungsi juga seperti ruang untuk makan, ruang simpan, tempat berkumpul keluarga, memasak dan untuk tidur. Rumah orang Baduy Dalam bersifat terbuka bagi orang sekampung karena orang Baduy sangat erat kekerabatannya dalam masyarakatnya sehingga seluruh warga dianggap keluarga sendiri.

neliti
Bagian-bagian ruangan dalam rumah adat Sulah Nyanda

Selain rumah tinggal ada bangunan yang disebut Leuit. Fungsinya persis seperti lumbung padi, tempat menyimpan berbagai hasil bumi masyarakat suku Baduy. Leuit yang dianggap sebagai simbol ketahanan pangan masyarakat Baduy biasanya dibangun di luar kampung agar dengan alasan jika terjadi musibah di kampung, maka persediaan pangan tidak ikut terganggu. Agar aman, Leuit biasanya dilindungi oleh mantra-mantra khusus yang dibacakan oleh seorang puun atau ketua adat. Pembangunan lumbung juga harus sesuai dengan hitungan bulan yang ditentukan oleh puun. Jika salah tanggal membangunnya, suku Baduy percaya bahwa akan ada malapetaka yang terjadi cepat atau lambat.

Dinding pada rumah khas baduy hanya menggunakan bahan dari anyaman bambu. Dalam masyarakat baduy anyaman bambu untuk dinding ini dinamakan sarigsig, dimana bentuk dan ukuran dari anyaman tidak dibuat berdasarkan ukuran tapi berdasarkan perkiraan saja. Meskipun tidak dibuat berdasarkan ukuran tapi semua dinding rumah ini sesuai dengan ukurannya. Bagian dinding rumah ini dirangkai dengan atap dan lantai hanya diikat pada bagian bambu khusus yang sudah dibuat sedemikian rupa. Tapi justru dengan cara pembuatan ini maka rumah baduy memiliki bentuk bangunan rumah tahan gempa.



Sebagai jalan masuk ke dalam rumah, rumah adat asli Banten ini hanya memiliki satu pintu yang menggunakan panto sebagai penutupnya. Panto adalah sebutan masyarakat setempat untuk daun pintu yang dianyam vertikal dengan bilah-bilah bambu berukuran sebesar ibu jari. Dalam menentukan ukuran lebar pintu masuk, mereka cukup menyebutnya dengan istilah sanyiru asup. Lebar pintu diukur selebar ukuran alat untuk menampi beras. Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan.

Tidak seperti pada rumah modern menggunakan bahan seperti genteng tanah liat, asbes, alumunium atau berbagai jenis atap modern lain, tapi rumah baduy menggunakan bilah bambu dan ijuk sebagai bahan utama. Bilah bambu digunakan untuk kerangka atap rumah, sedangkan ijuk digunakan sebagai atapnya. Jika tidak ada ijuk, masyarakat baduy menggunakan daun alang-alang yang telah dianyam sebagai pengganti.

neliti
Model tiga dimensi rumah adat Sulah Nyada

Rumah baduy memiliki konsep rumah yang rapat dimana rumah tidak memiliki jendela. Setiap ruangan hanya terhubung oleh pintu saja. Namun karena dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu maka rumah menjadi tetap sejuk dan nyaman. Rumah tidak sesak karena konsep rumah yang terbuat dari pondasi rumah panggung membuat udara masuk ke rumah dengan mudah. Jadi meskipun tanpa jendela maka rumah tetap memiliki sirkulasi udara yang baik. Selain itu tiap ruangan dalam rumah dilengkapi dengan lubang pada bagian lantainya. Lubang di lantai rumah Suku Baduy berfungsi juga sebagai sirkulasi udara. Tujuan tidak dibangunnya jendela agar para penghuni rumah yang ingin melihat keluar diharuskan pergi untuk melihat sisi bagian luar rumah.



Cara membuat rumah dimulai dengan merangkai material menjadi beberapa bentuk komponen rumah. Kemudian setiap komponen rumah dirakit dengan menggunakan tali awi temen lalu kemudian baru didirikan di tanah dengan cara di-paseuk. Jadi tentu cara pembuatan rumah ini sangat berbeda dengan proses pembuatan rumah biasa. Konsep pembuatan rumah diutamakan untuk bisa menahan beban yang berat sehingga tiang dimasukkan ke dalam tanah dan dirangkai dengan cara di paseuk. Konsep ini sesuai adat Baduy dimana tidak boleh menggunakan paku. Jadi setiap bagian panglari dan pananggeuy dibuat menyatu dengan kayu yang disambungkan. Seementara bilik (dinding), rarangkit (atap), dan palupuh (lantai) hanya sekadar diikat atau dijepit pada bambu atau kayu konstruksi.

Demikianlah serba-serbi tentang rumah adat Baduy yang unik dan sarat dengan kearifan lokal seperti keselarasan dengan alam dan kebersamaan di kalangan masyarakat adat. Jika ingin melihat langsung rumah adat Baduy ini, wisatawan dapat berkunjung ke di pemukiman Suku Baduy Dalam, yaitu Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Tags budaya rumah adat arsitektur wisata bangunan tradisi tradisional
Referensi:
  1. media.neliti.com
  2. www.99.co
  3. celticstown.com
  4. rumahlia.com
  5. www.indonesiakaya.com
  6. rumahadatdiindonesia.blogspot.com






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0