ulinulin

Satwa Langka Padang Rumput Savana Bekol di Taman Nasional Baluran

DaerahKita 02/05/2019

Taman Nasional Baluran merupakan kawasan konservasi atau perlindungan hewan dan tumbuhan yang berada di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Nama Baluran untuk taman nasional ini diambil dari gunung yang berada di kawasan ini yaitu gunung Baluran.

Salah satu yang istimewa dan menjadi ikon Taman Nasional Baluran adalah padang savana Bekol. Ya, mungkin banyak di antara kita yang belum tahu bahwa di Pulau Jawa, tepatnya di TN Baluran terdapat padang rumput savana yang luas dan eksotik dengan ditumbuhi rerumputan berwarna kecoklatan layaknya di Afrika atau Pulau Sumba. TN Baluran dijuluki sebagai Africa Van Java atau Little Africa, karena keberadaan padang savana Bekol ini.



Tidak hanya karena pemandangannya saja, padang savana Bekol juga eksotik karena menjadi habitat ruang terbuka di TN Baluran bagi berbagai satwa liar seperti kerbau liar (Bubalus bubalis), banteng jawa (Bos javanicus), merak (Pavo muticus), burung merpati (Geopelia striata), elang (Spilornis cheela), biawak (Varanus salvator), macan tutul (Panthera pardus), ajak atau anjing liar (Cuon alpinus), rusa timor (Cervus timorensis), ayam hutan (Gallus sp), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kera hitam (Tracypitecus auratus), babi hutan (Sus verrucosus), ular (Triemeresurus albirostris), dan Kijang (Munticus muntjak).

Di antara berbagai jenis satwa tersebut yang populasinya kritis atau langka adalah spesies banteng jawa dan macan tutul jawa. Banteng jawa dinyatakan sebagai “Endangered” (EN, terancam punah) sejak 1996 di dalam IUCN Red List, sementara macan tutul jawa diklasifikasikan sebagai kritis dalam IUCN Red List sejak 2007. Kedua spesies itu telah didaftarkan dalam CITES Appendix I. CITES adalah kependekan dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar. Satwa-satwa tersebut termasuk spesies yang dilindungi di Indonesia, seperti yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dan PP No.7 tahun 1999. Karena kekhasannya serta populasinya yang langka ini, banteng jawa menjadi maskot dari TN Baluran.

geomagz
Sekelompok banteng beristirahat di Padang Rumput Bekol

Banteng merupakan hewan yang besar, tegap dan kuat. Bahu depannya lebih tinggi daripada bagian belakang dan di kepalanya ada sepasang tanduk. Pada banteng jantan dewasa tanduknya berwarna hitam mengilap, runcing dan melengkung ke arah depan (medio enterior), sedangkan pada betina dewasa tanduknya lebih kecil dan melengkung ke belakang (Balai Taman Nasional Baluran, 2006).



Pada bagian tengah dada terdapat gelambir (dewlap) memanjang dari pangkal kaki depan hingga bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan. Menurut Preffer dan Sinaga (1964) dalam Santosa, (1985), berat banteng dewasa lebih kurang mencapai 900 kg dan tinggi bahunya sekitar 170 cm. Tinggi bahu bervariasi menurut umur. Banteng jantan yang berumur 8 – 10 tahun mempunyai tinggi bahu 170 cm, sedangkan banteng betina mempunyai tinggi bahu 150 cm (Hoorgerwerf, 1970 dalam Anonimous 1997).

ulinulin
Rusa-rusa berlarian di Padang Rumput Bekol

Secara fisik, banteng mempunyai ciri khas yaitu pada bagian pantat terdapat belanga putih, bagian kaki dari lutut ke bawah seolah-olah memakai kaos kaki berwarna putih, serta pada bagian atas dan bawah bibir berwarna putih. Banteng jantan mempunyai warna bulu hitam sedangkan banteng betina kulitnya berwarna coklat kemerahan.



Banteng termasuk hewan penjelajah (browser), mereka suka melaksanakan perjalanan jauh sambil makan. Pakan satwa ini berupa rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Mereka juga menyukai daerah yang luas dan tidak ada gangguan alami. Akan tetapi banteng tidak tahan terhadap terik matahari sehingga banteng sering berlindung di bawah pohon rindang di dekat padang rumput atau savana.

Seperti yang telah diketahui, banteng adalah satwa yang suka berkumpul. Pada saat berkumpul, jumlahnya sekitar 10 – 12 ekor setiap kelompok yang terdiri dari banteng jantan dewasa, induk dan anak-anaknya. Dalam tiap-tiap kelompok biasanya terdapat beberapa banteng jantan muda (2 – 5 ekor) yang mana pada saatnya nanti, salah satunya akan menggantikan ketua kelompok.

Saat pergantian ketua kelompok, sering terjadi perkelahian, dan banteng yang kalah akan memisahkan diri dari kelompoknya dan kadang-kadang diikuti oleh beberapa banteng betina yang setia kemudian membentuk kelompok baru (Alikodra, 1980). Banteng yang sudah tua dan mendekati ajalnya akan memisahkan diri dan menjadi banteng soliter sehingga rawan untuk menjadi mangsa satwa predator. Cara banteng dalam membentuk atau menentukan suatu kelompok ini mirip dengan cara dalam mengambil keputusan secara bermusyawarah.

travellingyuk
Burung merak di Baluran

Menurut laporan Balai Taman Nasional Baluran (2006), banteng terkenal sebagai satwa yang mempunyai daya penciuman dan pendengaran yang tajam. Sebagai tandanya, di waktu makan banteng sering mengangkat kepala sambil mengibas-ibaskan telinganya untuk mendengar apakah ada bahaya, kemudian mulai makan lagi jika dirasa tidak ada tanda-tanda bahaya yang akan mengganggu.

Apabila ada tanda bahaya, banteng yang pertama kali mendengar hal itu akan segera menghadap ke arah sumber bahaya sambil memberi isyarat kepada banteng yang lainnya. Selain itu, banteng-banteng muda dan betina terlebih dahulu masuk ke dalam hutan kemudian disusul oleh banteng dewasa jantan.



Berbeda dengan banteng, macan tutul jawa justru merupakan hewan penyendiri atau soliter. Satwa ini mempunyai ukuran relatif kecil. Panjang tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm. Bobot badannya berkisar 40 – 60 kg.

Subspesies Macan Tutul yang menjadi satwa endemik pulau Jawa ini mempunyai khas warna bertutul-tutul di sekujur tubuhnya. Pada umumnya bulunya berwarna kuning kecoklatan dengan bintik-bintik berwarna hitam. Bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil. Macan Tutul Jawa betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

bobo
Macan tutul juga merupakan salah satu hewan pengguni Taman Nasional Baluran

Macan Tutul Jawa Panthera pardus melas) sebagaimana macan tutul lainnya adalah binatang nokturnal yang lebih aktif di malam hari. Kucing besar ini termasuk salah satu binatang yang pandai memanjat dan berenang.

Macan Tutul Jawa adalah binatang karnivora yang memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa, surili dan lutung hitam. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon yang terkadang bobot mangsa melebih ukuran tubuhnya. Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan.

Walaupun bersifat soliter, tetapi pada saat tertentu seperti berpasangan dan pengasuhan anak, macan tutul dapat hidup berkelompok. Macan tutul jantan akan berkelana mencari pasangan dalam teritorinya masing-masing, di mana tiap daerah tersebut ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya.

Tags suaka taman nasional wisata alam liburan hewan satwa
Referensi: Dari berbagai sumber





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0