mongabay

Penangkaran Satwa Langka Burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah

DaerahKita 25/07/2019

Meskipun tidak memiliki kekayaan spesies sebanyak Kalimantan atau Sumatra, namun Sulawesi jauh lebih tinggi dalam hal endemisme. Hampir setengah atau 50 persen dari spesies vertebrata Sulawesi tidak ditemukan di tempat lain di dunia (spesies endemik), dan untuk beberapa taksa, misalnya mamalia non-volant, jumlah spesies endemiknya bisa mencapai lebih dari 90 persen. Non-volant di sini artinya semua mamalia yang hidup di darat tapi tidak bisa terbang, jadi kelelawar tidak termasuk di antaranya.



Ini bukan hanya karena Sulawesi memiliki spesies-spesies unik hasil kombinasi genetik yang tidak biasa, tapi juga karena faktor geografis Sulawesi. Pulau ini tidak pernah terhubung ke daratan benua Asia ataupun Australasia. Jutaan tahun berada dalam kondisi relatif isolasi menghasilkan berbagai fauna endemik untuk berkembang secara unik di Sulawesi.

Namun selain itu flora dan fauna di Sulawesi juga mencerminkan ada pencampuran, hingga mungkin saja di satu hutan yang sama bisa ditemukan baik kera Tonkean, primata yang berasal dari Asia maupun beruang kuskus, keturunan marsupial dari Australia. Salah satu yang pertama mendokumentasikan ini pada abad ke-19 adalah seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace. Dari perjalanannya berkelana di Kepulauan Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), ia membagi batas-batas fauna secara geografis, yang dikenal sebagai Garis Wallace. Pulau Sulawesi termasuk dalam kawasan Wallacea tersebut. Bisa dikatakan Wallacea adalah zona transisi antara daerah biogeografis Indo-Malaya Raya (bagian dari benua Asia) dan Australasia.

Baca Juga:

historia
Peta kawasan Wallacea di kepulauan nusantara bagian tengah dikelilingi gari Wallacea berwarna merah

Di Wallacea terdapat 697 spesies burung, 249 (36%) di antaranya endemik. Tingkat sifat endemis ini meningkat menjadi 44% jika kita hanya mempertimbangkan burung yang tidak bermigrasi. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, ada 328 spesies burung, 230 di antara tidak bermigrasi dan 97 spesies endemis, contohnya burung maleo.

Burung maleo atau nama ilmiahnya Macrocephalon maleo adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia, tidak ditemukan di tempat lain mana pun di dunia. Makanya tidak mengherankan jika sejak tahun 1990 berdasarkan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990, burung maleo ditetapkan sebagai Satwa Maskot provinsi Sulawesi Tengah. Burung ini kadang disebut juga dengan Maleo Senkawor.

Sebagai satwa endemik, burung maleo hanya hidup terbatas di Sulawesi saja, karenanya jumlahnya semakin berkurang. Populasi Maleo terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya. Belum lagi musuh alami yang memangsa telur Maleo, yakni babi hutan dan biawak. Habitatnya yang khas juga mempercepat kepunahan. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Maleo tidak mengerami telurnya. Setelah bertelur ia akan menguburkan telurnya sampai menetas sendiri. Agar dapat bertahan dan menetas, telur harus dikubur di tempat yang hangat seperti di pasir pantai atau kawasan yang dekat sumber air panas.



Endemik Sulawesi ini dilindungi melalui PP No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, termasuk dalam daftar burung dengan kategori langka dan dilindungi secara internasional, dikategorikan endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan daftar Appendix 1 dari Konvensi Perdagangan Internasional untuk Satwa Langka dan dilindungi (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau CITES).

kompas
Sepasang burung maleo sedang menggali lubang untuk menyimpan telurnya

Dalam Buku Konservasi Maleo di Sulawesi, disebutkan asal usul burung khas kawasan Wallacea ini masih belum jelas. Ada dua teori asal usulnya. Pertama nenek moyang maleo berasal dari Australia. Kedua menyebutkan, moyang maleo berasal dari Asia Tenggara sebelum tiba di Australia. Namun persamaan kedua teori itu adalah moyang maleo telah terisolasi di Australia untuk waktu yang lama dan telah berevolusi menjadi burung yang tidak lagi mengerami telurnya sendiri. Maleo kemudian menyebar ke Papua Nugini dan pulau-pulau di sekitar Indonesia Timur, termasuk di Sulawesi Tengah.



Burung Maleo berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Maleo hidup dan berkembangbiak di alam bebas pada beberapa lokasi di dalam hutan rimba kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), termasuk di Desa Tuva dan Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Selain di desa tersebut, sebaran habitat maleo bisa dijumpai di Desa Kadidia dan Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.

Dari beberapa titik keberadaan maleo, baru di Desa Saluki yang sudah dibangun sistem penangkaran alamiah burung meleo oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL). TNLL merupakan salah satu warisan dunia yang ditetapkan UNESCO menjadi Cagar Biosfer pada 1977. Kini salah satu peran penting TNLL adalah terus berupaya melestarikannya dengan membangun sistem penangkaran sebagai solusi meningkatkan populasi meleo dari kepunahan.

liputan6
Telur-telur maleo yang ditemukan di alam liar dikumpulkan untuk dibawa ke penangkaran

Lokasi penangkaran terletak di hutan dalam kawasan Taman Nasional yang hanya bisa dicapai berjalan kaki atau naik sepeda motor menyusuri kebun kakao dan sungai. Kondisi jalan sangat sulit untuk kendaraan bermotor sehingga perjalanan berkendara harus berakhir di salah satu kebun masyarakat. Selanjutnya harus berjalan kaki sekitar dua kilometer (2 km) melintasi jalan setapak di pinggiran sungai.



Dari Desa Saluki, desa yang terletak pada poros jalan provinsi yang menghubungkan Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah dengan sejumlah desa di Kecamatan Kulawi, lokasi ke penangkaran maleo masih berjarak sekitar tujuh kilometer (7 km).

Di lokasi penangkaran, terdapat beberapa mata air yang terus mengepulkan uap sepanjang hari. Uap tersebut berasal dari air panas di bawah permukaan tanah (geothermal). Di sekelilingnya terdapat berbagai jenis pepohonan yang tumbuh rapat dan menarik sehingga dapat memanjakan mata yang seperti tak pernah berkedip menyaksikan kekayaan dan keindahan alam tersebut.

Penangkaran meleo dibangun untuk menyelamatkan dan melindungi satwa endemik itu dari ambang kepunahan akibat sering diburu oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan kebutuhan ekonomi. Padahal, maleo salah satu dari sekian banyak satwa langka yang perlu dilestarikan karena selain endemik di Pulau Sulawesi, keberadaannya juga menjadi aset bagi pemerintah dan masyarakat untuk kepentingan pendidikan dan penelitian. Habitat burung maleo juga menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik dan unik. Tidak heran kalau banyak wisatawan, termasuk mancanegara yang tertarik melihatnya.

sitaro
Anak burung maleo yang siap dilepasliarkan ke habitatnya di alam

Langkah-langkah penangkaran burung maleo dimulai dengan mencari telur. Telur burung maleo lima kali lebih besar dibandingkan telur ayam. Setiap hari petugas mencari telur di alam bebas untuk dibawa ke sistem penangkaran semi alami yang dibuat oleh Balai Besar TNLL sejak 1998. Tempat penangkaran yang ada bisa menampung 100-150 butir telur maleo.



Telur-telur maleo yang dipungut dari alam bebas setelah dibawa ke penangkaran, langsung ditanam di dalam lubang ukuran tertentu seperti yang biasa dipakai maleo menetaskan telur di alam bebas. Cara meletakkan telur juga harus benar, Jika tidak, dipastikan telur maleo tidak ada menetas sampai waktunya.

Masa penangkaran telur maleo berlangsung 65-95 hari. Setelah menetas, anak maleo berumur dua bulan sudah bisa dilepas ke alam bebas. Selanjutnya, satwa itu akan hidup dan berkembangbiak di dalam hutan yang terdapat di wilayah hamparan sumber air panas.

Lokasi tempat bertelur maleo di sekitar hutan Saluki terdapat pada sembilan titik. Maleo tidak akan bertelur tanpa ada sumber air panas. Karena itu habitat maleo berada pada wilayah yang memiliki sumber air panas. Cara penetasan telur maleo pun tidak sama dengan burung atau unggas lain karena burung maleo tidak mengerami telurnya. Telur-telur maleo dengan menetas secara alami setelah jangka waktu tertentu.

Predator burung maleo bukan hanya binatang seperti biawak, tetapi juga manusia. Banyak orang mengincar, baik burung maupun telur maleo karena harganya mahal dan peminatnya banyak. Meski sudah ada penangkaran dan dijaga petugas, masih ada juga orang-orang yang memburunya. Apalagi tempatnya jauh dari desa dan di dalam hutan rimba sehingga sangat memungkinkan mereka memburu satwa dan telur endemik tersebut untuk diperdagangkan. Di Lokasi penangkaran itu tidak ada petugas yang menjaga pada malam hari karena semua petugas akan turun ke desa. Jam dinas hanya pada pagi sampai siang hari.

Untuk mengantisipasi pencuri, petugas sudah harus ada di lokasi sepagi mungkin. Jika terlambat, dikhwatirkan sudah ada orang yang lebih dulu mencari telur-telur maleo di dalam lubang. Sebab tidak sulit mendapatkan telur maleo karena lubangnya mudah diketahui. Pada setiap lubang ada tanda cakar burung meleo. Setiap lubang hanya ada satu telur maleo.

Meski masih ada masyarakat yang memburu satwa endemik tersebut, namun tinggal satu-dua orang saja. Sebelum adanya penangkaran banyak masyarakat yang mengusiknya untuk diperdagangkan. Berbagai upaya dan usaha yang dilakukan Balai Besar TNLL. Antara lain sosisalisasi. Masyarakat akhirnya membentuk satu kelompok peduli maleo di Desa Tuva dan Saluki.

Terbentuk sejak 2005, kelompok ini menjadi mitra Balai Besar TNLL dalam melakukan berbagai kegiatan konservasi. Nama kelompok itu adalah "cagar maleo". Setiap ada kegiatan, mereka selalu terlibat bersama Balai Besar TNLL dalam melestarikan flora dan fauna di kawasan Taman Nasional. Data TNLL menyebutkan, populasi burung maleo di alam bebas dalam di wilayah tersebut saat ini sekitar 900-an ekor, masing-masing jatan dan betina. Setiap bulan ada 10-15 ekor anak maleo hasil penangkaran dilepas ke alam bebas.

Tags fauna burung satwa hewan langka taman nasional kicau mania
Referensi:
  1. www.harnas.co
  2. alamendah.org
  3. www.mongabay.co.id
  4. theconversation.com
  5. Berbagai sumber lainnya






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0