genpi

Fenomena Langka Lava Berwarna Biru di Kawah Ijen

DaerahKita 24/07/2019

Gunung Ijen merupakan gunung vulkanis yang masih aktif. Gunung yang terakhir kali erupsi pada 1936 ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur. Keindahan dan keunikan gunung Ijen menarik banyak wisatawan lokal dan internasional. Dari gunung Ijen, kita bisa melihat kompleks gunung api yang terdiri dari Gunung Raung, Gunung Marapi, dan lain-lain.



Ketinggian gunung Ijen 2.443 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan di puncaknya terdapat kawah yang berisi cairan asam. Gunung Ijen terbentuk dari gunung Ijen purba sekitar 700.000 tahun yang lalu di lingkungan laut dangkal. Kemudian, gunung Ijen purba meletus dan amblas yang menghasilkan danau kaldera. Karena adanya patahan Blawan, danau kaldera menjadi kering yang kemudian hanya menyisakan kawah yang merupakan kawah terbesar di antara gunung berapi di Pulau Jawa. Di bibir kaldera terbentuk 5 gunung api yang salah satunya adalah Gunung Ijen yang sekarang sedang banyak dinikmati orang untuk wisata dan di tengah kawah terbentuk 17 anak gunung.

tripadvisor
Fenomena indah lava biru Kawah Ijen di tengah gelapnya malam

Meski tidak setenar Gunung Rinjani, Semeru, atau Bromo, Gunung Ijen terasa istimewa karena memiliki fenomena langka berupa Blue Fire (api biru) yang hanya ada dua di dunia dan menjadi satu-satunya di Indonesia. Selain di Indonesia fenomena seperti ini juga ditemui di Islandia. Fenomena lava biru atau masyarakat setempat menyebutnya api biru, seperti ini merupakan fenomena yang tidak biasa karena gunung api biasanya menghasilkan lava merah dan asap hitam seperti ditemui di Gunung Merapi atau Gunung Sinabung. Lalu mengapa api biru muncul di Gunung Ijen?

Gunung Ijen memiliki kandungan sulfur (S8) yang sangat besar di perut buminya. Dari rekahan permukaan tanah di Kawah Ijen, keluar lelehan sulfur (belerang) dengan temperatur sangat tinggi, hingga 600 °C dan gas sulfur bertekanan tinggi. Ketika sampai di udara terbuka, sulfur yang melelah dan sangat panas itu akan bereaksi dengan oksigen, sehingga sulfur akan menyala dan menghasilkan api berwarna biru serta gas SO2.

suetoclub
Penambangan belerang di Kawah Ijen

Sebagian sulfur yang terbakar itu akan mengalir dan tetap menyala berwarna biru sampai temperatur semakin berkurang dan mulai menjadi padat kembali. Sementara SO2 yang bertemu dengan H2S di udara akan bereaksi dan terkondensasi seiring penurunan temperatur, sehingga juga menghasilkan padatan sulfur dan air (H2O). Sulfur padat itulah yang dapat ditambang agar bisa dimanfaatkan oleh industri.



Di Kawah Ijen, sulfur atau belerang ini ditambang secara tradisional oleh warga setempat. Oleh para penambang, proses reaksi dan kondensasi gas H2S dan SO2 dilakukan dengan cara mengalirkannya melalui semacam pipa sepanjang 50 – 150 m. Dari proses reaksi dan kondensasi di sepanjang pipa itu kemudian akan dihasilkan cairan kental di ujung pipa. Cairan kental itu berwarna coklat kekuningan yang merupakan padatan belerang. Cairan itu akan mengeras menjadi batu sulfat ketika dingin dan siap untuk ditambang. Kawah Ijen menghasilkan SO2 sebanyak 200 ton per hari yang berpotensi menghasilkan padatan belerang atau sulfat sebanyak 100 ton/hari.

Jika Anda berminat menyaksikan langsung fenomena alam api biru yang langka ini, datanglah di saat malam. Walaupun proses terbakarnya sulfur berjalan terus menurus, tapi api biru hanya akan tampak jelas di malam hari yang gelap gulita. Itu karena intensitas cahaya api biru rendah, sehingga terkalahkan oleh intensitas cahaya matahari yang sangat tinggi di siang hari.

Tags sainstek sains teknologi wisata alam gunung geografi
Referensi:
  1. kumparan.com
  2. warstek.com
  3. Berbagai sumber lain






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0