cakapcakap

Tarsius Spectrum Primata Mungil Penghuni Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara

DaerahKita 19/06/2019

Satwa berukuran mini ini bernama tarsius, ia adalah salah satu primata terkecil di dunia. Salah satu wilayah yang banyak didiami tarsius adalah kawasan Cagar Alam Tangkoko Batuangus Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare ini merupakan tempat perlindungan monyet hitam sulawesi dan tarsius. Di kawasan ini, jenis tarsius yang ada adalah Tarsius spectrum atau Tarsius tarsier.



Ukurannya kecil, kira-kira seukuran genggaman tangan orang dewasa. Berat tubuh tarsius jantan dewasa sekitar 75 - 165 g, panjang kepala dan tubuhnya sekitar 85 - 160 mm, namun ekor mereka panjang, sekitar 135 - 275 mm, kaki belakangnya bisa mencapai dua kali panjang badannya. Tarsius memiliki kaki belakang yang panjangnya dua kali lipat panjang badan dan kepala untuk memberikan kekuatan melompat karena sebagian besar gerakan tarsius adalah melompat secara vertikal . Lompatannnya bahkan bisa mencapai jarak tiga meter. Bagian bawah jari-jari tangan dan kaki tarsius terdapat tonjolan atau bantalan yang memungkinkan tarsius untuk melekat pada berbagai permukaan saat melompat di tempat yang licin. Tarsius memang memiliki cara unik dalam mencari makan maupun berinteraksi dengan kelompok lain yaitu dengan berpindah tempat secara melompat (leaping) di antara pohon-pohon.

viva
Gambar Tarsius. Satwa ini berukuran mungil, sebesar genggaman tangan manusia

Habitat tarsius adalah pohon-pohon besar yang menjadi tempat hinggapnya. Ia banyak menghabiskan waktu di ketinggian, sambil menunggu mangsanya. Tarsius memiliki sarang di pohon-pohon hutan dan biasanya keluar pada sore hari untuk melakukan penjelajahan di daerah jelajah mereka (home range) di sepanjang malam dan kembali ke sarang menjelang pagi. Pada saat-saat tersebut, antara jantan dan betina pasangan akan mengeluarkan suara bersahut-sahutan yang biasa disebut duet call. Hewan ini adalah fauna malam atau nokturnal, ia sangat aktif pada malam hari untuk mencari makan. Setelah pasif sepanjang siang hari, Tarsius berubah menjadi lincah di peralihan hari atau crespuscular. Jadi waktu yang baik untuk melihat satwa itu adalah pada sore hore.

Saat siang hari, tarsius bersembunyi dan tidur. Ia mendiami pohon-pohon besar, dan umumnya tarsius memilih pohon beringin (Ficus sp) sebagai sarang utama. Tarsius tidur dengan menempel di dahan, tidak seperti mamalia lainnya. Ketika tidur, tarsius bisa memejamkan hanya sebelah matanya. Sementara satu matanya terbuka, walau tidak melihat. Lalu saat malam tiba, ia menjadi aktif. Untuk hidup di malam hari, tarsius memiliki mata yang besar dan bercahaya. Selain itu fauna tarsius juga dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya, sama seperti burung hantu. Mereka juga menggunakan vokalisasi (suara) yang efektif untuk komunikasi di antara anggota kelompok maupun dengan individu dari kelompok lainnya.

wikipedia
Si mungil Tarsius bersembunyi di balik daun

Berbeda dengan hewan nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Tarsius memiliki keistimewaan pada mata karena itu penglihatannya pada malam hari lebih tajam. Organ mata pada tarsius merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya.



Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, coklat hingga keabu-abuan. Tarsius yang berasal dari Sulawesi memiliki ciri khas bila dibandingkan dengan jenis lain yaitu adanya rambut warna putih di belakang telinga dan rambut penutupnya berwarna abu-abu.

archipelagos
Tarsius termasuk satwa insektivora, memangsa serangga

Satwa ini juga merupakan insektivora yaitu satwa yang memiliki rantai pakan utamanya adalah serangga. Tarsius ini juga memakan vertebrata kecil seperti ular dan cicak. Ia menangkap mangsanya dengan cara melompat ke arah si mangsa. Kecepatan lompatannya bahkan membuatnya bisa menangkap burung yang sedang terbang. Hewan ini berkembang biak dengan cara beranak, setelah melewati masa kehamilan selama enam bulan.



Tarsius memiliki “musuh” yaitu predator alami seperti ular, burung hantu, biawak, dan juga tikus yang dapat memakannya. Satwa pesaing dari tarsius atau sebagai kompetitornya terutama adalah hewan insektivor nokturnal seperti kelelawar pemakan serangga dan burung insektivor nokturnal.

olinggo
Seekor Tarsius penghuni Taman Marga Satwa Tandurusa, di kota Bitung

Di Sulawesi terdapat 11 jenis tarsius, yaitu T. tarsier, T. fuscus, T. sangirensis, T. pumilus, T. dentatus, T. pelengensis, T. lariang, T. tumpara, T. wallacei dan 2 jenis yang diketahui dari jenis berbeda tetapi belum diberi nama (Groves dan Shekelle 2010). Eksistensi satwa unik ini tidak lepas dari ancaman. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menempatkan satwa ini pada kategori rentan. Sedangkan Pemerintah telah memasukkan seluruh taksa hewan itu dalam perlindungan dalam PP. No. 7/1999 dan UU No. 5/1990.

Karena jumlahnya yang langka, dan lebih banyak aktif di malam hari, tidak terlalu mudah untuk bertemu langsung dengan tarsius di habitat aslinya di Cagar Alam Tangkoko. Jika Anda belum berhasil menjumpainya di Cagar Alam Tangkoko, Anda masih bisa melihat tarsius dengan mendatangi Margasatwa Tandurusa di Aer Tembaga, yang lokasinya masih di kawasan Bitung juga. Untuk mencapai kebun binatang ini perlu menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Kota Manado. Silahkan datang untuk melihat langsung satwa yang menjadi ikon Sulawesi Utara ini.

Tags satwa fauna hewan primata langka wisata taman nasional
Referensi:
  1. www.mongabay.co.id
  2. www.tn-babul.org
  3. biodiversitas.mipa.uns.ac.id


Video tentang Tarsius Spectrum Primata Mungil Penghuni Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0