goodnewsfromindonesia

Teknologi Sosrobahu Solusi Pembangunan Jalan Tol Layang Hasil Karya Anak Bangsa

DaerahKita 18/06/2019

Saat Anda melintas jalan tol Jakarta-Cikampek, akan tampak pembangunan jalan tol baru, uniknya jalan tol itu dibangun di atas jalan tol yang sudah ada sebelumnya. Laju pertumbuhan kendaraan di Indonesia memang begitu tinggi, sehingga kebutuhan untuk menambah ruas jalan pun meningkat. Sayangnya, akibat pesatnya pembangunan, lahan kosong semakin lama semakin berkurang dan harga lahan juga makin mahal. Sehingga solusinya adalah dengan membuat jalan layang (elevated). Yaitu dengan membangun jalan baru di atas jalan lama seperti di jalan tol Jakarta-Cikampek tersebut.



Kabutuhan jalan layang seperti ini sebenarnya sudah lama dirasakan di kota Jakarta. Bahkan mulai dirasakan sejak era tahun 1980-an, sehingga saat itu dibangunlah jalan layang Tol Tanjung Priok-Cawang. Jalan tol yang juga dikenal dengan nama jalan Tol Wiyoto Wiyono itu pembangunannya dimulai sejak 1987. Proses pembangunannya penuh keruwetan, pembangunan jalan layang baru itu tidak boleh mengganggu jalan yang ada di bawahnya karena akan menyebabkan kemacetan parah. Itulah tantangan terbesar yang harus dihadapi, membangun bahu beton selebar 22 meter di tengah-tengah jalan Bypass Ahmad Yani, Jakarta Timur, yang di bawahnya sudah penuh lalu-lalang kendaraan.

wikipedia
Jalan Tol Cawang-Tanjung Priok atau Tol Wiyoto Wiyono, jalan layang tersebut berada di atas Jalan Ahmad Yani (Bypass)

Para direksi PT Hutama Karya (Persero) saat itu lalu berdiskusi tentang masalah tersebut setelah perusahaan mereka mendapatkan order membangun jalan layang antara Cawang sampai Tanjung Priok itu sepanjang 16,5 km. Persoalan rumit coba diurai. Diperlukan deretan tiang beton untuk menyangga badan jalan itu dengan jarak satu-sama lainnya 30 meter, Di atasnya dibentangkan lengan beton selebar 22 meter. Tiang beton atau batang vertikalnya (pier shaft) berbentuk segi enam bergaris tengah 4 meter, berdiri di jalur hijau. Hal ini tidak sulit, yang merepotkon adalah mengecor lengannya (pier head). Jika dengan cara konvensional, yang dilakukan adalah memasang besi penyangga (bekesting) di bawah bentangan lengan itu, tetapi bekesting itu akan menyumbat jalan raya di bawahnya. Cara lain adalah dengan metode bekesting gantung seperti yang dilakukan di Singapura, tetapi itu membutuhkan biaya lebih mahal.

Di tengah masalah itu, Ir. Tjokorda Raka Sukawati mengajukan gagasan untuk mengatasi kendala yang ada. Ir. Tjokorda merupakan seorang insinyur lulusan Teknik Sipil ITB yang berkarir di PT Hutama Karya. Ir. Tjokorda menyarankan untuk membangun tiangnya dulu dan kemudian mengecor lengannya dalam posisi sejajar dengan jalur hijau dan jalan di bawahnya, setelah itu lengan beton diputar sejauh 90° sehingga melintang dan membentuk bahu untuk menopang jalan baru di atasnya. Dengan begitu, pembangunan jalan layang tidak mengganggu lalu lintas di bawahnya. Namun ada kedala, bagaimana cara memutarnya karena lengan itu nantinya seberat 480 ton itu?

skyscrapercity
Pembangunan Jalan Layang Tol Cawang-Tanjung Priok dengan Teknik Sosrobahu

Secara teknis, penemuan ini memang belum di coba karena waktu yangat terbatas, namun Ir. Tjokorda yakin bahwa penemuannya dapat berkerja. Dia bahkan berani bertanggungjawab dan bersedia mundur dari jabatannya sebagai Direktur PT. Hutama Karya kepada Menteri Pekerjaan Umum apabila lengan jalan beton jalan layang itu tidak bisa diputar. Keyakinan dan kerja kerasnya setelah melakukan beberapa kali percobaan akhirnya terbayar, gagasannya memutar lengan beton bisa dikerjakan.



Metode pembangunan tiang jalan layang seperti ini kemudian disebut Sistem Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau lebih dikenal dengan nama Teknik Sosrobahu. Pembangunan konstruksi tiang dengan Teknik Sosrobahu ini membantu arus lalu lintas tetap berjalan dengan baik tanpa harus dilakukan penutupan arus lalu lintas selama masa pembangunan jalan berlangsung.

daninformen
Jalan Layang Tol Cawang-Tanjung Priok. Saat baru dibuat lengan beton masih sejajar jalan. Lengan beton yang sudah siap, diputar 90 derajat.

Lalu bagaimana akhirnya Ir. Tjokorda bisa mengatasi kendalanya untuk memutar lengan beton seberat 480 ton? Pada suatu ketika Ir. Tjokorda memperbaiki kendaraannya. Bagian hidung mobil Mercedes buatan 1974 miliknya diangkat dengan dongkrak sehingga dua roda belakang bertumpu di lantai yang licin karena adanya tumpahan oli yang tercecer secara tidak sengaja. Saat mobil itu tersentuh, badan mobil pun bergeser dengan sumbu batang dongkrak. Satu hal yang ia pahami dalam sains Fisika, dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Kejadian tadi memberikan inspirasi bahwa pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Ir. Tjokorda pun teringat masalah yang tengah dihadapinya untuk menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.



Kemudian Ir. Tjokorda membuat percobaan dengan membuat silinder bergaris tengah 20 cm yang dibuat sebagai dongkrak hidrolik dan ditindih beban beton seberat 80 ton. Hasilnya bisa diangkat dan dapat berputar sedikit tetapi tidak bisa turun ketika dilepas. Ternyata dongkrak miring posisinya. Tjokorda kemudian menyempurnakannya, posisinya ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya. Untuk membuat rancangan yang pas, dalam sains Fisika, dasar utama Hukum Pascal yang menyatakan: “Bila zat cair pada ruang tertutup diberikan tekanan, maka tekanan akan diteruskan segala arah”.

detik
Tol Japek II, lengan beton sebelum diputar 90 derajat masih sejajar jalan

Saat itu yang dipakai adalah minyak pelumas sebagai fluida hidroliknya dengan viskositas yang sesuai. Bila tekanan P dimasukkan ke dalam ruang dengan luas permukaan A akan menimbulkan gaya F sebesar P dikalikan A dan digabungkan dengan beberapa parameter lain kemudian diformulasikan menjadi "Rumus Sukawati". Ini adalah rumus yang orisinil dikembangkan sendiri oleh Ir. Tjokorda. Selain itu Ir. Tjokorda juga berusaha mencari minyak yang paling tepat digunakan sebagai fluida pada dongkrak Sosrobahu. Fluida yang dipakai harus memiliki kekentalan (viskositas) yang tepat, yaitu fluida yang dapat mengangkat beton yang beratnya ratusan ton dan cukup licin untuk memutar beton tersebut berputar 90°.

detik
Tol Japek II, lengan beton setelah diputar 90 derajat

Kemudian setelah melalui serangkaian percobaan, akhirnya Ir. Tjokorda berhasil menyempurnakan tekniknya. Berdasarkan Rumus Sukawati dan fluida yang berhasil ia teliti, ia membuat rancangan finalnya, yakni sebuah landasan putar yang dinamai Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH). LPBH ini merupakan dua piringan (cakram) besi yang saling menangkup. Kedua cakram besi memiliki ketebalan 5 cm dan diameter 80 cm. Meski kecil, cakram besi ini mampu menahan beban hingga 625 ton.



Tanggal 27 Juli 1988 menjadi tanggal bersejarah bagi Teknologi Sosrobahu. Tepat pukul 22.00 WIB, ratusan mata bersiap menyaksikan pemutaran lengan beton seberat 480 ton. Berdasarkan perhitungan awal, seharusnya lengan benton diperkirakan bergerak pada tekanan 105 kg/cm². Namun, Ir. Tjokorda meminta agar tim menggerakkan hingga mencapai tekanan 78 kg/cm². Dan benar saja, lengan beton itu akhirnya berputar tepat saat tekanan berada di angka 78.

modengkara
Landasan besi/cakram untuk diputar pada konstruksi Sosrobahu dengan bantuan fluida hidrolik

Pada pemasangan yang ke-85, awal November 1989, Presiden Soeharto ikut menyaksikan dan memberi nama teknologi itu. Nama Sosrobahu diambil dari nama tokoh cerita Mahabharata. Sejak saat itulah LPBH dikenal sebagai Teknik Sosrobahu.

Temuan Ir. Tjokorda digunakan insinyur Amerika Serikat dalam membangun jembatan di Seattle. Mereka bahkan patuh pada tekanan minyak fluida 78 kg/cm² yang menurut Tjokorda adalah misteri ketika menemukan alat LBPH Sosrobahu itu. Tjokorda kemudian membangun laboratorium dan melakukan penelitian pada hal tersebut dan hasilnya perhitungan susulan menghasilkan angka teknis tekanan 78,05 kg/cm².



Teknologi Sosrobahu terus dikembangan sehingga lahir versi ke-2. Perbedaannya, pada versi pertama memakai angkur baja yang disisipkan ke beton, akan tetapi pada versi kedua hanya dipasang kupingan berlubang di tengah, lebih sederhana dan lebih mudah dalam pengaplikasiaannya yang hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit, lebih efektif apabila dibandingkan dengan versi pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua hari. Secara ilmu teknis, konstruksi sosrobahu dapat bertahan sekitar satu abad lamanya.

himatesil-ipb
Proses pemutaran lengan beton, dengan menggunakan crane

Selain jalan Tol Cawang - Tanjung Priok, pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek Japek II (elevated) juga memanfaatkan teknologi konstruksi temuan Ir. Tjokorda ini. Rencananya Jalan Tol Transyogi di Cibubur pun demikian, akan menggunakan Teknik Sosrobahu. Pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta- Cikampek memiliki tantangan yang terbilang cukup rumit. Sebab jalan tol layang tersebut dibangun di tengah Jalan Tol Jakarta-Cikampek existing dan dilakukan bersamaan dengan pembangunan Kereta Ringan dan Kereta Cepat Jakarta Bandung di kiri dan kanan jalan. Teknologi konstruksi yang tepat tentunya sangat dibutuhkan dengan kondisi lapangan seperti ini.

Teknik Sosrobahu telah diterapkan di Filipina pada 289 tiang jalan termasuk dalam proyek jalan tol layang Metro Manila atau Metro Manila Skyway. Presiden Filipina pada saat itu Fidel Ramos sampai menyatakan “ Inilah temuan Indonesia, sekaligus karya cipta putra ASEAN”. Tak hanya dipakai di Amerika Serikat dan Filipina, teknologi hasil karya anak negeri ini juga dipakai di Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Sri Lanka bahkan sampai negri Tiongkok.

sosrobahu
Landasan besi untuk diputar pada konstruksi Sosrobahu dengan bantuan fluida hidrolik

Untuk teknologi ini Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek telah mengeluarkan patennya di tahun 1995. Sedangkan Jepang telah lebih dahulu memberikan hak paten pada tahun 1992.

Berikut ini adalah langkah-langkah proses pembangunan tiang dan lengan beton dengan Teknik Sosrobahu.

  1. Pembuatan pondasi dan dipasang tiang beton.
  2. Kemudian Tiang di cor dengan menanam Landasan Putar Bebas Hampatan (LPBH) pada permukan atas tiang. LPBH ini berupa sepasang piringan baja berdiamater 80cm.
  3. Sebelum kepala tiang di pasang atau dibuat. permukaan tiang diluar landasan putar diberi lapisan cat agar tidak lengket dengan kepala tiang nantinya.
  4. Setelah dicor dan mengering. pada landasan putar dipompakan oli pelumas dengan tekanan 78Kg/cm².
  5. Tekanan hidrolik pada landasan putar akan mengangkat kepala tiang dan bisa diputar pada posisi yang diinginkan. setelah posisi tepat. tekanan hidrolik dilepas.
  6. Proses pemutaran dilanjutkan ketiang yang lainnya. dengan dilanjutkan penyambungan gelagar beton antartiang.

Tags jalan tol infrastruktur teknologi sainstek sipil transportasi
Referensi:
  1. www.kitasipil.com
  2. abulyatama.ac.id
  3. modengkara.net
  4. area-tekniksipil.blogspot.com
  5. Berbagai sumber


Video tentang Teknologi Sosrobahu Solusi Pembangunan Jalan Tol Layang Hasil Karya Anak Bangsa






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0